18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Zainab, Berjuang demi Bersatu dalam Islam

Zainab, Berjuang demi Bersatu dalam Islam


Fiqhislam.com - Zainab lahir sepuluh tahun sebelum ayahnya diangkat menjadi nabi dan rasul. Ia adalah putri pertama Rasulullah SAW dari Siti Khadijah RA. Sesuai dengan sifat-sifat yang melekat pada diri ibunya, Zainab tumbuh menjadi teladan yang utama dengan seluruh sifat yang terpuji.

Hampir sempurnalah sifat kewanitaan Zainab sehingga putra dari bibinya yang bernama Abu al-Asha bin Rabin, salah seorang yang terpandang di Makkah dalam hal kemuliaan dan harta, berhasrat melamarnya.

Abu al-Ash adalah pemuda Quraisy yang tulus dan bersih, nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW dari jalur bapaknya, yakni Abdu Manaf bin Qushay. Adapun dari jalur ibu, nasabnya bertemu dengan Zainab pada kakek mereka berdua, yakni Khuwalidi.

Abu al-Ash mengenal betul kepribadian dan sifat Zainab. Sebab, ia sering berkunjung ke rumah bibinya, Khadijah. Begitu pula Zainab dan kedua orang tuanya, mereka telah mengenal kebaikan Abu Al Ash. Oleh kerena itu, diterimalah lamaran dari pemuda yang telah diridhai Rasulullah SAW dan Khadijah, juga oleh Zainab sendiri.

Setelah akad dilakukan, masuklah Zainab ke dalam rumah tangga suaminya, yakni Abu al-Ash. Dalam usianya yang masih muda, Zainab mampu mengatur rumah tangga suaminya hingga menumbuhkan kebahagiaan dan ketenteraman.

Dalam perkawinan mereka, Allah mengaruniakan dua anak bernama Ali dan Umamah. Semakin sempurnalah kebahagiaan rumah tangga itu dengan kehadiran sang buah hati dalam rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan.

Pada suatu ketika, Abu al-Ash berada dalam suatu perjalanan, kemudian terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu diangkatnya Muhammad sebagai nabi dengan membawa risalah. Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang dibawa oleh ayahnya.

Tatkala suaminya kembali dari bepergian, Zainab menceritakan perubahan yang terjadi pada kehidupannya. Bahwa bersama kepergian suaminya, muncullah din yang baru dan lurus. Zainab menduga bahwa suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya. Akan tetapi, ia malah mendapatkan suaminya diam dan tidak bereaksi.

Kemudian, Zainab mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan suaminya. Namun, sang suami menjawab, “Demi Allah, bukan saya tidak percaya dengan ayahmu. Hanya saja, saya tidak ingin dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengalirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan keridhaan istriku.”

Pernyataan suaminya itu jelas merupakan pukulan telak bagi Zainab. Karena suaminya tidak masuk Islam, maka guncanglah isi rumah tangga mereka. Kebahagiaan keluarga yang selama ini tercipta kini berubah menjadi kesengsaraan.

Saat itu, Zainab tinggal di Makkah, di rumah suaminya. Tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang dapat meringankan penderitaannya karena jauh dari kedua orang tua.

Ayahnya telah berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah bersama sahabat-sahabatnya, sedangkan ibunya telah menghadap Allah SWT. Sementara, saudaranya pun telah menyusul ayahnya di bumi hijrah.

Tatkala pecah Perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abu al-Ash keluar bersama mereka untuk memerangi kaum Muslimin. Akhirnya, suaminya menjadi tawanan kaum Muslimin.

Tatkala Abu al-Ash dihadapkan kepada Rasulullah SAW, Beliau berkata kepada para sahabat, “Perlakukan tawanan ini dengan baik!”

Ketika itu Zainab mengutus seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang dibayarkan kepada ayahnya beserta kalung yang dihadiahkan sang ibu, Khadijah, tatkala pernikahannya dengan Abu al-Ash. Tiada hentinya Rasulullah SAW memandang kalung tersebut sehingga hati Beliau hanyut mengenang istrinya yang setia yang telah menghadiahkan kalung tersebut kepada putrinya.

Setelah beberapa saat Rasulullah SAW terdiam, Beliau kemudian berkata dengan lemah lembut. “Jika kalian melihatnya (sebagai kebaikan), maka bebaskanlah tawanan tersebut dan kembalikan harta tebusan, maka lakukanlah!” Para sahabat menjawab, “Baik ya Rasulullah.”

Selanjutnya Rasulullah SAW mengambil janji dari Abu Al-Ash agar membiarkan Zainab untuk hijrah sebab Islam telah memisahkan hubungan di antara keduanya.

Abu al-Ash pun kembali ke Makkah, sementara Zainab menyambutnya dengan riang gembira. Tetapi, yang terjadi pada diri Abu al-Ash lain dengan apa yang terjadi pada Zainab. Suaminya tetap tidak mau masuk Islam dan merelakan Zainab pergi demi agama baru yang dianut.

Akhirnya, keluarlah Zainab dari Makkah meninggalkan Abu al-Ash, suami tercinta, dengan perpisahan yang mengharukan.

Namun, orang Quraisy menghalang-halangi Zainab untuk berhijrah. Mereka mencegah dan mengancamnya. Pada saat itu Zainab sedang hamil dan akhirnya gugurlah kandungannya.

Setelah itu, ia kembali ke Makkah dan Abu al-Ash merawatnya hingga kekuatan Zainab pulih kembali. Lalu, Zainab keluar pada suatu hari di saat orang-orang Quraisy lengah. Ia keluar bersama saudara Abu al-Ash bernama Kinanah bin ar-Rabi hingga sampai ke Madinah dengan aman.

Berlalulah masa selama enam tahun beserta peristiwa-peristiwa besar yang menyertainya, sedangkan Zainab berada dalam naungan ayahnya di Madinah.

Pada bulan Jumadil Ula tahun 5 Hijriyah, tiba-tiba Abu al-Ash mengetuk pintu Zainab. Zainab pun membuka pintu tersebut. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Zainab pun ingin mendekatinya.

Akan tetapi, ia menahan diri kerena ingin memastikan tentang akidahnya, mengingat akidah yang pertama dan terakhir.

Abu al-Ash menjawab, “Kedatanganku bukan untuk menyerah, melainkan aku keluar untuk berdagang membawa barang-barangku dan milik orang Quraisy. Namun, tiba-tiba aku bertemu dengan pasukan ayahmu yang di dalamnya ada Zaid bin Haritsah bersama 170 tentara. Selanjutnya, mereka mengambil barang-barang yang kubawa dan aku pun melarikan diri. Sekarang aku mendatangimu dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu.”

Zainab yang memiliki akidah bersih berkata dengan rasa sedih dan iba. “Marhaban (selamat datang) wahai putra bibi, marhaban wahai ayah Ali dan Umamah (kedua anaknya Zainab dengan Abu al-Ash).”

Tatkala Rasulullah SAW selesai shalat Subuh, Zainab berteriak dengan suara yang keras dari dalam kamarnya. “Wahai manusia, sesungguhnya aku melindungi Abu al-Ash bin Rabi.”

Kemudian masuklah Rasulullah SAW menemui putrinya dan berkata, “Muliakanlah tempatnya dan jangan dia berbuat sesuatu kepadamu karena kamu tidak halal baginya.”

Karena sudah tidak ada lagi harta orang Quraisy yang ada pada dirinya, Abu al-Ash kemudian berkata dengan lantang. “Adapun aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak (benar) kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, tiada yang menghalangi aku untuk masuk Islam, melainkan aku khawatir kalian menyangka bahwa aku hanyalah ingin melarikan harta kalian.”

Abu al-Ash bertolak ke Madinah sebagai seorang Muslim. Ia berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Di sana ia bertemu dengan orang-orang yang sangat dicintainya, yakni Muhammad SAW dan para sahabat. Akhirnya, Rasulullah SAW mengembalikan Zainab kepada Abu al-Ash. [yy/republika]

 

Tags: Zainab | binti