fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Al-Badr Ath-Thali, Sisi Humanis dari Autobiografi

Al-Badr Ath-Thali, Sisi Humanis dari Autobiografi


Fiqhislam.com - Kitab ini termasuk entri berharga dalam kajian biografi, karya seorang tokoh yang hidup pada abad ke-12 Hijriyah. Ia adalah Imam Muhammad as-Syaukani.

Dalam karyanya ini, as-Syaukani menjabarkan nama-nama ulama, figur publik, dan tokoh terkemuka yang hidup pada abad ke-12 Hijriyah atau sekira abad ke-18 Masehi.

Bahkan, sebagian tokoh yang ia cantumkan, ada yang berasal dari generasi abad sebelumnya. Mereka ada yang dari kalangan cerdik pandai, ahli ibadah, penguasa, raja, dan sastrawan.

Asy-Syaukani menulis kitabnya ini ke dalam dua jilid dengan sistematika penulisan nama tokohnya secara abjad hijaiyah. Jumlah total tokoh yang ditulis dalam karyanya ini sebanyak 596 orang.

Keseluruhannya terbagi ke dalam dua jilid tersebut. Dalam jilid pertama, ada 354 tokoh Arab dan Islam. Sedangkan, pada jilid kedua ia menulis biografi 242 tokoh terkemuka pada masa itu secara umum, tak hanya terbatas pada Arab dan Islam. Bahkan, jilid ini memuat biografi tokoh dari berbagai wilayah dan abad-abad sebelumnya.

Dalam kitab yang berjudul lengkap al-Badr at-Thali' bi Mahasin Man Ba'd al-Qarn as-Sabi' ini,  asy-Syaukani yang lahir pada 1173 H di Sanaa Yaman  menjelaskan latar belakang penulisan kitabnya tersebut.

Seperti yang termaktub di mukadimah, ia berpendapat, sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya, bahwa tiap generasi seratus tahun akan muncul para pembaru yang menjaga dan mereformasi pemahaman agama.

Kententuan tersebut, menurut analisis sosok yang pernah didaulat sebagai mufti Yaman itu, tentu juga berlaku pada masanya. Ada banyak tokoh ulama yang memegang tongkat estafet reformasi keagamaan, seperti yang dimaksud oleh Rasulullah. Bahkan, menurut dia, secara kualitas juga tak bisa dipandang sebelah mata.

Tak sedikit ulama dari generasi muta'akhirin atau mereka yang hidup setelah masa generasi salaf diberikan keahlian dan wawasan yang mungkin belum dikuasai oleh generasi terdahulu. Ini upaya membuktikan generasi belakangan (muta'akhirin) juga diberikan keutamaan oleh Allah SWT, tulisnya.

Asy-Syaukani yang juga populer lewat karya Nail al-Auwthar ini menjelaskan, secara garis besar para tokoh tersebut sebenarnya adalah guru tempat dia menimba ilmu atau para syekh yang pernah mengambil riwayat darinya, baik secara bertatap muka ataupun sekadar korespondensi (mukatabah). Ada juga teman seperjuangan asy-Syaukani yang sama-sama belajar ataupun tokoh-tokoh yang memang hidup pada masa itu.

Di antara keistimewaan kitab tokoh yang memiliki lebih dari 240 karya berbentuk manuskrip itu, yaitu unsur sastrawi yang begitu kental. Kitab ini tak sekadar memaparkan biografi tokoh sebagaimana kitab-kitab biografi yang pernah ditulis oleh, misalnya, Ibnu Khalikan dan Ibn al-Atsir.

Ia lebih menekankan pada deskrispsi biografinya dengan gaya sastrawi. Satu lagi yang unik dari karya tokoh yang wafat di Sanaa 1250 Hijriyah ini, asy-Syaukani banyak mencantumkan keterangan dan informasi yang menyentuh human interest, sebagiannya bahkan bisa dibilang adalah fakta yang cukup langka.

Tanpa menghilangkan kelaziman dalam kajian sejarah atau biografi. Asy-Syaukani juga memperhatikan identitas nama, tempat dan tanggal lahir, serta perkara lain yang merupakan kohesi tak terpisahkan dalam kajian autobiografi.

Asy-Syaukani, memulakan karyanya tersebut dengan mendahulukan tokoh-tokoh yang berasal dari Yaman. Tepat sesuai dengan urutan huruf hijaiyah, ia menulis biografi Ibrahim bin Ahmad bin Ali bin Ahmad al-Kainaí. Ibrahim adalah tokoh terkemuka yang berasal dari desa terpencil di Yaman. Ia keluarganya pernah tinggal di Desa Ma'bar.

Di kalangan pengkaji sejarah, Ibrahim dikenal sebagai ahli ibadah dan seorang yang bergelut dengan pola hidup zuhud. Keluarganya adalah pencinta ilmu. Testimoni dan kesan positif banyak diungkap para cendekiawan yang hidup semasa dengannya. Sayid al-Hadi bin Ibrahim al-Wazir dan Sayid Yahya bn al-Mahdi adalah dua tokoh yang mengkaji secara mendalam dan luas biografi Ibrahim dalam karya mereka.

Wajahnya sungguh tampan dan berbudi pekerti luhur. Ia berhias dengan cahaya iman dan perangai orang-orang saleh, demikian tulis asy-Syaukani tentang sosok Ibrahim.

Tak heran bila ia kerap menjadi tumpuan perhatian warga. Sering kali mereka berebut mencium tangannya bila didapati sedang berada di keramaian, berharap keberkahan dengan melihat ketampanan wajahnya. Sekalipun Ibrahim sangat tak nyaman dan tidak menyukai perlakuan tersebut. Ia marah bila dipuji, tapi sangat senang jika mendapatkan nasihat.

Meski dikenal ahli ibadah dan ahli ilmu, Ibrahim tetap mendisiplinkan diri sebagai pribadi yang mandiri. Ia tidak menggantungkan hidupnya dari popularitasnya. Ia menyibukkan diri dengan berdagang. Gelimang harta tak membuat dirinya lupa.

Ia tetap istiqamah menjalankan puasa tiap hari, kecuali Idul Fitri, Idul Adha, dan hari tasyrik. Bukanlah seorang zuhud itu yang mempunyai segala sesuatu, tetapi seorang zuhud tak memiliki apa pun, demikian salah satu petuah bijak yang diriwayatkan darinya. Ia meninggal pada 793 Hijriyah.

Sedangkan, pada pengujung kitab ini, as-Syaukani menutup dengan pembahasan biografi Yusuf bin Ali al-Hamatha al-Yamani. Ahli agama, seorang yang zuhud, meninggalkan kampung halamannya di al-Hamiya menuju sejumlah kota, seperti Kota Zabid, Makkah, demi menimba ilmu dari para ulama. Sepulang dari belajar di tanah orang, ia kembali ke Yaman.

Ia dikenal dengan sikap tegasnya. Penguasa ketika itu, yaitu al-Qasim bin Muhammad menunjuknya sebagai polisi syariah urusan jihad dan antikemungkaran. Ia juga sosok dengan pendirian yang kuat. Ia terlibat dalam perlawanan fisik melawan orang-orang Turki hingga akhirnya harus mendekam dipenjara.

Ia dijebloskan di penjara yang berada di kompleks Istana Sanaa. Pada 1007 Hijriyah ia menghembuskan napas terakhir dan meninggal syahid akibat racun yang dimasukkan ke dalam makanannya saat masih berada di penjara. Makamnya terletak di selatan benteng Sanaa.

Karya asy-Syaukani ini memang benar-benar menarik sekaligus menggelitik. Dan, patut diperhitungkan sebagai karya di bidang autobiografi yang kaya dengan informasi-informasi langka dan kental dengan human interes.Dalam kitabnya ini, misal, ia menyebutkan fakta tentang hermaproditisme yang pernah muncul pada pada masa itu.

Seorang perempuan baligh yang sejak kecil terlahir sebagai perempuan tiba-tiba muncul kelamin laki-laki. Ia mendapatkan kisah itu dari Sayid Muhammad bin Yahya. Setelah diputuskan dan merujuk pada tanda-tanda fisik, perempuan tersebut akhirnya diputuskan memilih menjadi pria.

Sejak saat itu, yang bersangkutan memakai busana layaknya laki-laki biasa dan meninggalkan kebiasannya sebagai perempuan hingga ajal menjemputnya.

Fakta unik lain yang ia beberkan dalam kitabnya ini, di sebuah kampung, tepatnya di al-Hada, ada seorang lanjut usia yang umurnya kurang lebih 90 tahun. Ada yang aneh muncul dari tubuh pria tersebut. Ya, dua buah tanduk, secara misterius tumbuh tepat di kedua sisi ujung kepalanya. Masing-masing berada di samping atas kedua telinganya. Mirip sekali dengan tanduk kambing.

Berita yang banyak disampaikan oleh orang-orang terpercaya ini pun segera menyebar seantero Yaman dan sampai di telinga sang khalifah pada masa itu. Sang khalifah menginstruksikan mencari kebenaran berita tersebut, tapi tak membuahkan hasil.

Asy-Syaukani, tak tinggal diam. Karena lokasinya berada tak jauh dari kediaamannya ia bergegas mencari kebenaran informasi yang viral tersebut. Ia menginterogasi tokoh yang disegani di kampung setempat, namanya Saád al-Miftah.

Sang tokoh membenarkan bahwa warganya ada yang mempunyai tanduk secara misterius. Akan tetapi, tanduk tersebut sudah dipotong karena yang bersangkutan sangat terganggu. Peristiwa ini terjadi pada 1215 Hijriyah. [yy/republika]