27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Ummu Ammarah, Pejuang Muslimah Pertama

Ummu Ammarah, Pejuang Muslimah Pertama

Fiqhislam.com - Nusaibah binti Ka'ab al-Anshari dikenal dengan nama Ummu Ammarah. Dia merupakan salah satu pemuka Bani Khazraj, penduduk Yatsrib, nama Kota Madinah sebelum Rasulullah SAW memutuskan hijrah dari Makkah. Sejarah pun mencatat, Ummu Ammarah merupakan pejuang perempuan pertama Muslimin di sejumlah peperangan melawan kaum kafir.

Perkenalan Ummu Ammarah dengan Islam justru terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dakwah nabi yang dilakukan di Mekkah memang sempat tersiar ke sejumlah daerah lain, tidak terkecuali ke Yatsrib. Bersama dengan suami dan anaknya, Ummu Ammarah sempat membaca beberapa ayat Alquran, salah satunya adalah QS Yunus: 1-2.''Alif laam raa, inilah ayat-ayat Alquran yang mengandung hikmah. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.'''

Ummu Ammarah pun menerima dan menyakini ayat ini dengan sepenuh hati. Bahkan, Ummu Ammarah sempat merasa heran kepada sikap kaum kafir Quraisy yang justru mengingkari ajaran-ajaran Rasulullah SAW. Ummu Ummarah menjadi salah satu dari sekian banyak penduduk Madinah yang menyatakan beriman kepada ajaran Rasulullah SAW.Keinginan untuk bertemu dengan Rasulullah akhirnya datang pada saat musim haji.

Sekitar 500 orang kafilah datang dari Madinah menuju ke Makkah. Kemudian, Rasulullah SAW bertemu dengan mereka dan membuat janji untuk melakukan pertemuan di bukit Aqabah. Di bukit inilah, 70 orang penduduk Madinah, termasuk Ummu Ammarah, melakukan baiat kepada Rasulullah. Baiat itu berbunyi mereka akan saling melindungi dan menyembunyikan semua perjanjian ini dari kaum Quraisy sampai datang pertolongan Allah SWT.

 

Ummu Ammarah, Pejuang Muslimah Pertama

Fiqhislam.com - Nusaibah binti Ka'ab al-Anshari dikenal dengan nama Ummu Ammarah. Dia merupakan salah satu pemuka Bani Khazraj, penduduk Yatsrib, nama Kota Madinah sebelum Rasulullah SAW memutuskan hijrah dari Makkah. Sejarah pun mencatat, Ummu Ammarah merupakan pejuang perempuan pertama Muslimin di sejumlah peperangan melawan kaum kafir.

Perkenalan Ummu Ammarah dengan Islam justru terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dakwah nabi yang dilakukan di Mekkah memang sempat tersiar ke sejumlah daerah lain, tidak terkecuali ke Yatsrib. Bersama dengan suami dan anaknya, Ummu Ammarah sempat membaca beberapa ayat Alquran, salah satunya adalah QS Yunus: 1-2.''Alif laam raa, inilah ayat-ayat Alquran yang mengandung hikmah. Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, 'Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.' Orang-orang kafir berkata, 'Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.'''

Ummu Ammarah pun menerima dan menyakini ayat ini dengan sepenuh hati. Bahkan, Ummu Ammarah sempat merasa heran kepada sikap kaum kafir Quraisy yang justru mengingkari ajaran-ajaran Rasulullah SAW. Ummu Ummarah menjadi salah satu dari sekian banyak penduduk Madinah yang menyatakan beriman kepada ajaran Rasulullah SAW.Keinginan untuk bertemu dengan Rasulullah akhirnya datang pada saat musim haji.

Sekitar 500 orang kafilah datang dari Madinah menuju ke Makkah. Kemudian, Rasulullah SAW bertemu dengan mereka dan membuat janji untuk melakukan pertemuan di bukit Aqabah. Di bukit inilah, 70 orang penduduk Madinah, termasuk Ummu Ammarah, melakukan baiat kepada Rasulullah. Baiat itu berbunyi mereka akan saling melindungi dan menyembunyikan semua perjanjian ini dari kaum Quraisy sampai datang pertolongan Allah SWT.

 

Bersama Keluarganya, Ummu Ammarah Lindungi Rasulullah

Bersama Keluarganya, Ummu Ammarah Lindungi Rasulullah

Dengan keimanan dan baiat yang dilakukannya kepada Rasulullah SAW, Ummu Ammarah pun pulang kembali ke Madinah dan mengajak suami serta kedua anaknya, Habib dan Abdullah, untuk memeluk agama Islam. Masa pun berlalu. Dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW sudah dilakukan terang-terangan dan sudah hijrah ke Madinah.

Hingga akhirnya turun ayat yang memerintahkan untuk memerangi kaum Quraisy.Di Perang Uhud, pada awalnya, Ummu Ammarah membantu Muslimin dalam menyediakan air dan obat-obatan. Namun, kemenangan yang sudah di depan mata langsung sirna lantaran sejumlah pasukan Muslim tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW. Posisi Rasulullah pun terdesak.

Menyadari hal ini, Ummu Ammarah pun ditemani suaminya, Ghaziyah bin Amr, dan kedua anaknya langsung melindungi Rasulullah SAW dari serangkaian serangan musuh.Diriwayatkan dari Ibnu Hisyam dari Ummu Sa'ad, ''Aku menemui Nusaibah dan berkata, 'Wahai bibiku, beri tahu tentang peristiwa di Uhud.' Dia berkata, 'Kami pergi bersama Rasulullah ke medan Uhud dan aku membawa kantung air. Lalu, kami berperang hingga Muslimin mendapatkan kemenangan. Tapi, tidak beberapa lama kami mendapatkan serangan yang membuat sebagian kami meninggalkan perang dan Rasulullah SAW. Aku terus berperang melindungi Rasulullah dengan pedang dan panah, sampai tidak aku sadari tubuhku sudah terluka.'

Kemudian, Ummu Sa'ad melihat luka di tubuh Ummu Ammarah, yaitu luka yang cukup parah di bagian lehernya.''Di Perang Uhud, Ummu Ammarah disebut mengalami 11 luka yang cukup parah. Bahkan, pernah dalam satu peperangan, Ummu Ammarah sempat tidak sadarkan diri. Perkataan pertama yang keluar dari mulutnya saat dia sadarkan diri adalah "Di mana Rasulullah? Apa yang dilakukan kaum kafir terhadap dirinya?"

Para sahabat pun menjawab, "Rasulullah selamat dan sebentar lagi akan menemuimu. Apakah kamu tidak sadar, lukamu cukup parah, tapi mengapa kamu masih bertanya soal kondisi Rasulullah, bukan anak-anakmu?" Ummu Ummarah pun menjawab, "Mereka bukan Nabi Muhammad. Mereka bukan pembawa risalah Islam. Sesungguhnya aku berperang karenanya dan siap mati untuknya (risalah Islam)."Atas kegigihan ini, Rasulullah pun sempat mendoakan kepada Ummu Ammarah dan keluarganya untuk menjadi pendamping Rasulullah di surga.

Pada saat itu, Rasulullah SAW melihat luka yang cukup parah di tubuh Ummu Ammarah. Dia pun meminta kepada Rasulullah SAW untuk mendoakannya sebagai pendampingnya di surga. Rasul menjawab, ''Ya Allah, jadikan mereka pendampingku di surga." Ummu Ammarah pun berkata, ''Sekarang aku sudah tidak takut lagi dengan musibah-musibah di dunia.'' [yy/republika]