19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Ambo Dalle, Usia 7 Tahun Sudah Hafal Al-Quran

Ambo Dalle, Usia 7 Tahun Sudah Hafal Al-QuranFiqhislam.com - AGH Abdurrahman Ambo Dalle merupakan salah satu ulama besar Sulawesi Selatan yang hidup di abad 20. Dia merupakan perintis berdirinya organisasi pendidikan keagamaan Darud Da’wah wal Irsyad (DDI).

Semasa hidup, ulama ini akrab dengan sapaan Anregurutta Ambo Dalle. Dia lahir dari keluarga bangsawan sekitar 1900, di Desa Ujunge Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, sekitar tujuh kilometer sebelah utara Sengkang. Dia lahir dari pasangan Andi Ngati Daeng Patobo dan Andi Candara Dewi. Tanda-tanda bahwa Ambo Dalle bakal menjadi seorang ulama besar sudah terlihat sejak dia kecil. Pada usia 7 tahun, dia sudah menghapal Alquran dengan fasih.

Kedua orang tuanya memberi nama yang mengandung makna filosofis. Dalam bahasa Bugis, Ambo berarti bapak dan Dalle berarti rezeki. Keluarganya berharap anaknya kelak hidup dengan limpahan rezeki yang cukup. Adapun nama Abdurrahman diberikan oleh seorang ulama bernama KH Muhammad Ishak. Seperti banyak anak seusianya, Ambo Dalle juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).

Pada sore harinya,dia belajar mengaji di rumah. Selanjutnya, dia meneruskan pengajiannya dengan belajar tajwid, nahwu sharaf dan menghapal Alquran pada seorang ulama bernama KH Muhammad Ishak. Dalam mendalami ilmu agama,Ambo Dalle tergolong bernasib baik karena banyak ulama-ulama dari Mekah yang kembali ke tanah Bugis di dekade awal abad 20 yang menjadi gurunya, salah satunya H Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy.

Pada 1928 M, di usia beranjak dewasa, Ambo Dalle berguru ilmu agama pada ulama besar Sulsel kelahiran Mekah tersebut. Suatu ketika, Anregurutta KH Muhammad As’ad menguji secara lisan seluruh murid-murinya termasuk Ambo Dalle. AnreguruttaKH As’ad saat itu menilai, Ambo Dalle lah yang memiliki jawaban yang paling tepat dan benar atas ujian itu sehingga dia diangkat menjadi asisten pada 1935. Saat itu pula dia berkesempatan berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk lebih memperdalam ilmu agamanya.

Sejak Ambo Dalle diangkat menjadi Asisten Guru, pada saat itu pula dia aktif mengajar dan terus menekuni dunia pendidikan. Atas usulan Arung Mattoa Wajo dan Arung Lili pada Gurutta KH Muhammad As’ad untuk meningkatkan pengajian sistem sorong(duduk bersila) menjadi madrasah, dibentuklah Madrasatul Arabiyah Islamiah (MAI) Sengkang dengan tingkatan Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Pada 1932, Arung Soppeng Riaja, HM Yusuf Andi Dagong, mendirikan masjid di Mangkoso sebagai ibu kota kerajaan.

Namun, masjid itu selalu sepi dari aktivitas ibadah karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap agama yang dianutnya. Atas saran para tokoh masyarakat dan pemuka agama, diputuskan untuk membuka lembaga pendidikan angngajiang (pesantren) dan raja mengirim utusan untuk menemui Anregurutta KH Muhammad As’ad di Sengkang.

Utusan itu membawa permohonan agar Gurutta KH Abdurrahman Ambo Dalle diizinkan untuk memimpin lembaga pendidikan yang akan dibuka di Mangkoso. Pada mulanya, usulan itu tidak dikehendaki oleh Gurutta KH Muhammad As’ad karena dia tidak mengingingkan adanya cabang dari madrasahnya. Namun dengan komunikasi dan negosiasi yang baik akhirnya seluruh keputusan diserahkan pada Gurutta KH Abdurahman Ambo Dalle.

Hari Rabu, 29 Syawal 1357 atau bertepatan dengan 21 Desember 1938, Gurutta KH Ambo Dalle bersama keluarga dan santri-santrinya hijrah ke Mangkoso dengan hanya satu tujuan yaitu melanjutkan cita-cita dan pengabdian pada pendidikan dan masyarakat. Hari itu juga GuruttaAmbo Dalle memulai pengajian dan mendirikan Al-Madrasah Al- Arabiyah Al-Islamiyah (MAI) di Mangkoso.Sejak itu pula dia mendapat kehormatan penuh dari masyarakat dengan gelar Gurutta Ambo Dalle.

MAI Mangkoso ini kelak menjadi cikal bakal kelahiran organisasi pendidikan keagamaan DDI. Sambutan pemerintah dan masyarakat setempat sangat besar. Di dalam mengelola pesantren dan madrasah, Anregurutta Ambo Dalle dibantu oleh 12 santri senior yang beberapa di antaranya ikut bersama beliau dari Sengkang. AGH Ambo Dalle wafat pada 29 November 1996 di Makassar. Semasa hidup, dia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dan penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI).

sindonews.com