16 Jumadil-Akhir 1443  |  Rabu 19 Januari 2022

basmalah.png

TOKOH

Semangat Berjihad Ibnu Maktum

Semangat Berjihad Ibnu Maktum

 

Fiqhislam.com - Selain semangat berilmu, Ibnu Maktum, di tengah keterbatasan penglihatan yang ia miliki, tetap memiliki semangat jihad.

Usai Perang Badar, Allah menurunkan ayat tentang kedudukan tinggi mujahidin dan mengutamakan mereka di atas orang-orang lain. Ini memberi dorongan semangat dalam jihad.

Namun, keistimewaan tersebut tentu menjadi pertanyaan dan keresahan tersendiri bagi mereka yang beruzur akibat cacat fisik.

Ayat-ayat tersebut menyentuh Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Ia pun langsung mengadukan kekhawatirannya kepada Rasulullah sambil berderai air mata.

"Ya Rasulullah, kalau saja mampu niscaya saya akan berjihad." katanya.

Mendengar perkataan lirih Abdullah itu Rasulullah tak kuat melihat kesedihan sahabatnya yang ingin berjihad tapi tidak bisa sebab ketidaksempuranaan fisik. Rasulullah berdoa memohon petunjuk Allah.

"Ya Allah, turunkanlah ayat-Mu yang memberikan alasan yang membebaskanku.." Seketika itu Allah mengabulkan doa Rasulullah sebelum menurunkan tangannya yang sedang menengadah ke atas.

Zaid bin Tsabit, Sang Penulis wahyu mengisak. Ia berkisah, "Suatu hari aku berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba beliau merasa seperti dihinggapi sesuatu sehingga sejenak berdiam diri. Paha beliau terlempar ke atas pahaku, dan belum pernah aku merasa sesuatu seberat paha Rasulullah saat itu. Setelah pengaruh berat dari wahyu itu lenyap, beliau bersabda. "Wahai Zaid, tulislah."

"Tidak sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang-orang yang duduk satu derajat.

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (QS an-Nisa: 95).

Setelah mendengarkan wahyu itu, Abdullah langsung bertanya. "Ya Rasulullah bagaimana dengan orang yang tak punya kemampuan berjihad?"

Rasulullah lalu memerintahkan Zaid yang menuliskan wahyu. "Bacalah apa telah kau tulis wahai Zaid?"

"Tidak sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang," kata Zaid

Ayat ini memberi pengecualian bagi mereka yang beruzur untuk ikut berperang. Mereka dibebaskan dari kewajiban berperang.

Dari kisah di atas bisa kita ambil dua pelajaran ?sekaligus. Pertama, kita mesti ramah tehadap sesame, meski sesama kita tersebut belum tentu lebih baik dari kita dalam hal fisik. Karena Allah SWT melarang kita saling merendahkan sesama seperti dijelaskan dalam surat al-Hujaraat ayat ke-11.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Serta janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim."

Pelajaran kedua dari kisah di atas tadi dan bisa menjadi memotivasi, kita sebagai orang yang belum memiliki ilmu tidak perlu berkecil hati. Karena meski baru niatnya saja Allah akan memberikan pahala terhadap apa yang diniatkannya jika itu baik.

Seperti disampaikan Rasulullah SAW mengenai niat yang kuat akan mendatangkan pahala besar dari Allah SWT: "Barang siapa berniat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya maka Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.

Dan jika ia berniat untuk melakukannya lalu melakukannya maka Allah mencatatnya sepuluh kebaikan sampai tujuh puluh kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak." (HR Bukhari dan Muslim) [yy/republika]

Semangat Berjihad Ibnu Maktum

 

Fiqhislam.com - Selain semangat berilmu, Ibnu Maktum, di tengah keterbatasan penglihatan yang ia miliki, tetap memiliki semangat jihad.

Usai Perang Badar, Allah menurunkan ayat tentang kedudukan tinggi mujahidin dan mengutamakan mereka di atas orang-orang lain. Ini memberi dorongan semangat dalam jihad.

Namun, keistimewaan tersebut tentu menjadi pertanyaan dan keresahan tersendiri bagi mereka yang beruzur akibat cacat fisik.

Ayat-ayat tersebut menyentuh Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Ia pun langsung mengadukan kekhawatirannya kepada Rasulullah sambil berderai air mata.

"Ya Rasulullah, kalau saja mampu niscaya saya akan berjihad." katanya.

Mendengar perkataan lirih Abdullah itu Rasulullah tak kuat melihat kesedihan sahabatnya yang ingin berjihad tapi tidak bisa sebab ketidaksempuranaan fisik. Rasulullah berdoa memohon petunjuk Allah.

"Ya Allah, turunkanlah ayat-Mu yang memberikan alasan yang membebaskanku.." Seketika itu Allah mengabulkan doa Rasulullah sebelum menurunkan tangannya yang sedang menengadah ke atas.

Zaid bin Tsabit, Sang Penulis wahyu mengisak. Ia berkisah, "Suatu hari aku berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba beliau merasa seperti dihinggapi sesuatu sehingga sejenak berdiam diri. Paha beliau terlempar ke atas pahaku, dan belum pernah aku merasa sesuatu seberat paha Rasulullah saat itu. Setelah pengaruh berat dari wahyu itu lenyap, beliau bersabda. "Wahai Zaid, tulislah."

"Tidak sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, Allah melebihkan orang-orang yang duduk satu derajat.

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (QS an-Nisa: 95).

Setelah mendengarkan wahyu itu, Abdullah langsung bertanya. "Ya Rasulullah bagaimana dengan orang yang tak punya kemampuan berjihad?"

Rasulullah lalu memerintahkan Zaid yang menuliskan wahyu. "Bacalah apa telah kau tulis wahai Zaid?"

"Tidak sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang," kata Zaid

Ayat ini memberi pengecualian bagi mereka yang beruzur untuk ikut berperang. Mereka dibebaskan dari kewajiban berperang.

Dari kisah di atas bisa kita ambil dua pelajaran ?sekaligus. Pertama, kita mesti ramah tehadap sesame, meski sesama kita tersebut belum tentu lebih baik dari kita dalam hal fisik. Karena Allah SWT melarang kita saling merendahkan sesama seperti dijelaskan dalam surat al-Hujaraat ayat ke-11.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.

Serta janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim."

Pelajaran kedua dari kisah di atas tadi dan bisa menjadi memotivasi, kita sebagai orang yang belum memiliki ilmu tidak perlu berkecil hati. Karena meski baru niatnya saja Allah akan memberikan pahala terhadap apa yang diniatkannya jika itu baik.

Seperti disampaikan Rasulullah SAW mengenai niat yang kuat akan mendatangkan pahala besar dari Allah SWT: "Barang siapa berniat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya maka Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.

Dan jika ia berniat untuk melakukannya lalu melakukannya maka Allah mencatatnya sepuluh kebaikan sampai tujuh puluh kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak." (HR Bukhari dan Muslim) [yy/republika]

Teguran Allah Terhadap Rasulullah

Teguran Allah Terhadap Rasulullah

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah menegaskan tentang kemuliaan para pencari ilmu, bahwa mereka, orang-orang yang menuntut ilmu, akan mendapat ridha dan doa dari para malaikat.

Saking mulianya pencari ilmu, Allah SWT pernah menegur Rasul yang mendiamkan orang yang ingin belajar Islam. ?Siapakah gerangan orang yang membuat baginda Rasul ditegur?

Ia adalah Abdullah Ibnu Ummi Maktum, muazin Rasulullah. Ibnu Ummi Maktum, berasal dari Suku Quraisy Makkah yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasul, ia adalah putra dari bibi istri Rasul, Khadijah bin Khuwailid, dari jalur ibu.

Ibn Ummi Maktum, tergolong orang yang terdahulu memeluk Islam atas dorongan belajar. Sang nenek, hidup ketika umat Islam Makkah dalam keadaan tertindas. Ketertindasan itu pula sempat dirasakan oleh Ibnu Ummi Maktum.

Suatu saat, Rasul tengah berdiplomasi dengan tokoh-tokoh terkemuka Quraisy untuk mengenalkan Islam.

Di tengah perjalan, seperti yang dikisahkan buku "Sosok Para Sahabat Nabi" karya Abdurrahman Raf'at al-Basya, Rasulullah berjumpa dengan Utbah ibnu Rabi'ah dan saudaranya, Syaibah ibnu Rabi'ah, beserta Amru ibnu Hisyam yang dikenal dengan sebutan Abu Jahal, Ummayah ibnu Khalaf, serta al-Walid ibnu Mughirah, ayahanda Khalid.

Di pertemuan itulah Rasul mengajak mereka masuk Islam. Rasulullah sangat mengharapkan keislaman mereka atau minimal mereka mau menghentikan gangguan-gangguannya terhadap para sahabatnya yang memeluk Islam.

Saat Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, datanglah Abdullah Ibnu Ummi Maktum dan berkata. "Ya Rasulullah, ajarilah saya apa yang Tuhanmu ajarkan kepada Anda," katanya memecah konsentrasi Rasulullah kepada para tokoh Quraisy ketika itu.

Karena merasa terganggu, setelah sempat melirik Ibnu Maktum sebentar, Rasul bergegas memalingkan muka tanpa bersuara dan menghiraukan Ibnu Maktum.

Rasul pun kembali memusatkan perhatiannya kepada tokoh-tokoh Quraisy dan melanjutkan dakwahnya. Namun, kali itu, usahanya belum membuahkan hasil. Tokoh-tokoh Quraisy yang ditemuinya itu belum menerima Islam.

Namun, Allah punya rencana lain. Justru, sikap Rasul terhadap Ibnu Maktum, mendapat perhatian serius. Tiba-tiba, tubuh Rasulullah berat dan menggigil lalu turunlah Surat 'Abasa ayat 1-6 yang artinya:

"Dia Muhammad bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang but kepadanya. Tahukan kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari doa, atau dia ingin mendapatkan pelajaran, lalu pelajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang menganggap dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.

Padahal tidak ada celaan atasmu kalau ia tidak memberikan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepada dengan bersegera untuk mendapatkan pelajaran, sedang ia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya.

Sekali-kali jangan berbuat demikian! ?Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa menghendaki, tentulah ia memerhatikannya di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan di tangan para utusan malaikat yang mulia lagi diberkati."

Sejak itulah Rasulullah makin menghormati Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Rasul melayani tiap pertanyaan yang diajukan oleh sahabat yang tidak memiliki penglihatan tersebut.

Ketika gangguan-gangguan Quraisy semakin keras, Rasul mengizinkan kaum Muslim berhijrah. Abdullah Ibnu Ummi Maktum bersama Mush'ab ibn Umair, termasuk rombongan sahabat yang pertama kali datang di Madinah. Di tempat baru itu, keduanya mengajarkan Alquran.

Setibanya Rasul di Madinah, Abdullah Ibnu Ummi Maktum diangkat sebagai muazin bersama Bilal. Keduanya tercatat sebagai muazin pertama yang pernah dimiliki oleh umat Islam. [yy/republika]

Siapakah Abdullah bin Ummi Maktum?

Siapakah Abdullah bin Ummi Maktum?

Sebagian orang ketika ditanya siapakah muadzin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya akan menjawab Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu. Padahal pada zaman itu tidak hanya Bilal yang menjadi seorang muadzin, tetapi ada satu nama lain yaitu Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu’anhu. Tidak banyak yang tahu tentang nama muadzin yang satu ini, bahkan mungkin ada yang bertanya-tanya siapakah orang ini?

Bilal dan Abdullah memiliki waktu khusus tersendiri ketika mengumandangkan adzan. Bila Bilal bin Rabah diperintahkan untuk adzan ketika memasuki waktu tahajud, sedangkan Abdullah bin Ummi Maktum diperintahkan adzan ketika tiba waktu sholat shubuh.

Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ” أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “

“Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh).”

Profil Abdullah bin Ummi Maktum

Abdullah bin Ummi Maktum merupakan salah satu sahabat yang termasuk dalam golongan as-sabiquna-l awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Orang-orang madinah mengenal beliau dengan nama Abdullah, sedangkan orang Irak menyebut beliau dengan nama Amr. Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kedekatan nasab dengan Ummul Khadijah radhiallahu ‘anha. Ibu dari Khadijah adalah saudaranya Qays bin Za-idah, ayah dari Abdullah.

Abdulah bin Ummi Maktum memiliki keterbatasan fisik yaitu matanya tidak melihat. Menjadi seorang tuna netra tidak membuat Abdullah bin Ummi Maktum menjadikannya alasan untuk mendapatkan kemudahan dalam melaksakan perintah Allah. Dia tidak pernah mengemis kasihan atas matanya yang telah buta sejak kecil. Keterbatasan yang dimilikinya hanya menambah keimanannya pada Allah dan kesetiaannya dalam Islam.

Ada sebuah cerita tentang beliau, suatu ketika ketika hendak berangkat ke masjid di tengah jalan kakinya tersandung batu hingga jatuh dan kakinya mengeluarkan darah. Tetapi tekadnya tetap bulat untuk tetap melaksanakan sholat berjamaah di Masjid.

Pada suatu shubuh seperti biasa beliau segera bergegas berangkat ke masjid, ia bertemu dengan seorang pemuda dan membatu menuntunya untuk berjalan ke masjid selama berhari-hari. Tetapi ketika Abdullah bin Ummi Maktum ingin berterima kasih dan mendoakannya, pemuda tersebut menolaknya.

“Apa untungnya bagi Anda mengetahui namaku dan aku tak mau engkau doakan,” jawab sang pemuda.

“Jika demikian, cukuplah sampai di sini saja engkau membantuku. Aku tak mau engkau menolongku lagi sebab engkau tak mau didoakan,” tutur Ibnu Ummi Maktum kepada pemuda itu.

Maka, sang pemuda inipun akhirnya mengenalkan diri. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah iblis,” ujarnya.

“Lalu, mengapa engkau menolongku dan selalu mengantarkanku ke masjid? Bukankah engkau semestinya mencegahku untuk ke masjid?” tanya Ibnu Ummi Maktum lagi.

Sang pemuda itu kemudian membuka rahasia. “Wahai Ibnu Ummi Maktum, masih ingatkah engkau beberapa hari yang lalu tatkala engkau hendak ke masjid dan engkau terjatuh? Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.”

“Sebab, karena engkau terjatuh, Allah telah mengampuni dosamu yang separuh. Aku takut kalau engkau jatuh lagi Allah akan menghapuskan dosamu yang separuhnya lagi sehingga terhapuslah dosamu seluruhnya. Maka, sia-sialah kami menggodamu selama ini,” jawabnya.

Keistimewaan Abdullah bin Ummi Maktum

Selain memiliki keistimewaan sebagai seorang muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Ummi Maktum juga merupakan orang kepercayaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat Rasulullah melakukan safar berangkat ke medan perang, beliau selalu mengankat Abdullah bin Ummi Maktum menjadi wali Kota Madinah menggantikan beliau yang sedang bersafar. Setidaknya 13 kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai wali kota sementara di Kota Madinah.

Kisah beliau ketika minta diajari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam juga diabdikan dalam ayat Alqur’an yaitu surat Abasa ayat 1-16. Di ayat tersebut Allah memberikan teguran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena lebih mementingkan pembesar Quraisy dari pada Abdullah yang datang kepadanya minta diajari tentang Islam.

Abdullah bin Ummi Maktum wafat sebagai seorang yang mati syahid di medan perang melawan pasukan Persia. Jasadnya ditemukan terkapar di medan perang sambil memeluk bendera yang diamanatkan kepadanya untuk dijaga. Akhirnya sang muadzin pulang ke rahmatullah, gugur sebagai pahlawan memerangi bangsa Majusi Persia. Semoga Allah Ta’ala menerima amalan-amalan Abdullah bin Ummi Maktum dan memasukkan kita dan beliau ke dalam surga Allah. [yy/fimadani]