21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Khaulah Binti Azur, Pedang Allah dari Kalangan Perempuan

Khaulah Binti Azur, Pedang Allah dari Kalangan PerempuanFiqhislam.com - Khalid bin Walid, panglima perang pasukan Islam pada era Rasulullah SAW, dibuat terpana oleh hadirnya seorang prajurit berkuda dalam rombongannya. Berbeda dengan prajurit Muslim yang lain, sang prajurit itu menutup wajahnya rapat-rapat hingga hanya bagian matanya yang tampak. 

Ia menunggang kuda dan melesat bak anak panah. "Demi Allah, siapa prajurit berkuda ini?" tanya Khalid. Tak ada yang tahu. Khalid dan pasukannya mengikuti prajurit berkuda itu hingga mereka bertemu prajurit Romawi. Sang prajurit berkuda kembali masuk dalam rombongan Khalid. Mereka menghancurkan barisan prajurit Romawi. 

Pasukan Muslim sangat kagum dengan kehadiran prajurit berkuda itu. Mereka menyangka yang maju adalah Khalid yang memang terkenal akan kepiawaiannya berperang. Mereka mulai bertanya-tanya ketika Rafi bin Umarah menanyakan kepada Khalid siapa prajurit tersebut. 

"Aku juga tidak tahu dan sangat kagum dengannya," kata Khalid. Ketika pasukan Muslim sedang berbincang, tiba-tiba prajurit berkuda itu melesat dengan sangat cepat. Beberapa prajurit Muslim mengikuti, tetapi ia berusaha menghindar. Dia akhirnya dikepung dan tak bisa mengelak lagi. Para prajurit penasaran ingin mengetahui identitas dan wajah anggota baru pasukan mereka.

"Wahai, Amir (Khalid). Aku menutupi identitasku lantaran malu kepadamu karena engkau adalah seorang amir yang mulia. Sedangkan, aku hanyalah perempuan yang senantiasa di sebuah ruangan. Aku melakukannya karena hati ini sudah panas dan kesedihan ini selalu bertambah," ujar Khaulah.

Dialah Khaulah binti Azur. Seperti Khalid bin Walid, ia mendapat julukan pedang Allah, mewakili kalangan perempuan. Pada saat para perempuan dikungkung di rumah mereka, Khaulah memutuskan keluar dan bergabung dengan pasukan perang.

Awalnya, ia hanya bertugas di belakang untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi para pasukan. Ia juga mengobati luka dan mempersiapkan alat tempur. Kadang, ia memberikan semangat kepada pasukan ketika hendak menghadapi musuh. 

Suatu ketika, ia melihat pasukan Muslim terdesak dalam suatu peperangan. Banyak di antara mereka gugur, banyak pula yang ditawan. Salah satu dari mereka adalah kakak kandung Khaulah, Dhirar bin Azur. Khaulah sangat dekat dengan kakaknya. Bahkan, Dhirarlah yang mengajari Khaulah berperang. Kabar ditawannya Dhirar membawa kesedihan mendalam bagi perempuan ini.

"Sebelumnya, aku bersama dengan perempuan dari kaumku, lalu ada orang yang datang mengabarkan bahwa saudaraku ditawan. Aku pun pergi seperti yang engkau lihat," kata Khaulah di hadapan Khalid.

Khalid berteriak kepada pasukannya untuk mencari tahu kabar saudaranya. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui kabar apa pun. Selama dia belum mendapatkan kabar, Khaulah berkomitmen untuk terus bergabung dalam pasukan. Sejak itulah, ia sering terjun ke medan pertempuran dengan menutup wajahnya.

Ia tidak ingin diketahui bahwa ia seorang wanita, lalu ditawan dan menjadi budak. Ia hanya ingin berjuang dan berperang di barisan depan. Tindakannya begitu memukau ketika para perempuan ditawan dalam Perang Shahwara. Ia bergabung dalam barisan perempuan tersebut dan memengaruhi mereka agar mengobarkan api perjuangan. Sayangnya, mereka tak memiliki senjata. Namun, bagi Khaulah, itu bukan hambatan yang berarti.

"Ambillah tiang tenda dan apa saja. Kita akan melawan orang-orang yang keji tersebut. Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kita," seru dia. Para perempuan membawa tiang dan mereka berteriak dengan kompak. Mereka mengikuti Khaulah. Ia berkata, "Jangan terpisah dari kelompok ini. Kita buat barisan melingkar. Jangan terpisah karena bisa saja kalian akan terkena panah atau pedang."

Dengan berbagai perlawanan, mereka akhirnya bisa lepas dari tawanan pasukan Romawi. Khaulah meninggal pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. [yy/republika]