16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Malik As-Saleh, Penyebar Islam di Nusantara dan Asia Tenggara

Malik As-Saleh, Penyebar Islam di Nusantara dan Asia TenggaraFiqhislam.com - Sebelum Dinasti Usmaniyah (Ottoman) di Turki berdiri pada 699-1341 H atau bertepatan dengan tahun 1385-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur tepatnya di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) saat ini telah muncul sebuah kerajaan Islam bernama Samudera Pasai.

Jika Ottoman mulai menancapkan kekuasaannya pada tahun 1385 M, Samudera Pasai sudah mengibarkan bendera kekuasaannya pada 1267 M.

Keberadaan Kesultanan Samudera Pasai ini diungkapkan oleh petualang Muslim asal Maroko, Abu Abdullah Ibnu Batuthah (1304-1368 M), dalam kitabnya yang berjudul “Rihlah ila I-Masyriq” (Pengembaraan ke Timur).

“Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,” tulis Ibnu Batuthah ketika menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M.

Sementara itu, dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah lainnya yang berjudul “Tuhfat al-Nazha”, ia menuturkan, pada masa itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.

Jauh sebelum Sang Pengembara Muslim itu menginjakkan kakinya di kerajaan Muslim pertama di nusantara itu, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang bernama Marco Polo, telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292 M.

Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu. Dalam kisah perjalanan berjudul “Travel of Marco Polo”, pelancong dari Eropa itu juga mengagumi kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudera Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai terletak di pesisir pantai utara Sumatera kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, sekarang ini. Kesultanan ini didirikan oleh Meurah Silu pada sekitar tahun 1267 M.

Ia adalah keturunan dari Suku Imam Empat atau Sukee Imuem Peuet sebutan untuk keturunan empat maharaja (meurah) bersaudara yang berasal dari Mon Khmer (Champa), yang merupakan pendiri pertama kerajaan-kerajaan di Aceh pra-Islam.

Keempat maharaja tersebut adalah Syahir Po-He-La yang mendirikan Kerajaan Peureulak (Perlak) di Aceh Timur, Syahir Tanwi yang mendirikan Kerajaan Jeumpa (Champa) di Peusangan (Bireuen), Syahir Poli (Pau-Ling) yang mendirikan Kerajaan Sama Indra di Pidie, dan Syahir Nuwi yang mendirikan Kerajaan Indra Purba di Banda Aceh dan Aceh Besar.


{AF}

Malik As-Saleh
Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, disebutkan asal muasal penamaan Kerajaan Samudera Pasai. Syahdan, suatu hari, Meurah Silu melihat seekor semut raksasa yang berukuran sebesar kucing. Meurah yang kala itu belum memeluk Islam menangkap dan memakan semut itu. Dia lalu menamakan tempat itu Samandra.

Tak semua orang percaya kisah yang berbau legenda itu. Sebagian orang meyakini kata Samudera berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti laut. Sedangkan, kata Pasai diyakini berasal dari Parsi: Parsee atau Pase. Pada masa itu, banyak pedagang dan saudagar Muslim dari Persia-India alias Gujarat yang singgah di wilayah Nusantara.

Meurah Silu kemudian memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Malik Al-Saleh atau dikenal dengan sebutan Malik As-Saleh. Menurut legenda masyarakat Aceh, suatu hari Meurah Silu bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Setelah itu, ia pun memutuskan masuk Islam.

Malik Al-Saleh mulai menduduki takhta Kesultanan Samudera Pasai pada 1267 M. Di bawah kepemimpinan Malik Al-Saleh, Samudera Pasai mulai berkembang. Ia berkuasa selama 29 tahun dan digantikan oleh Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M).

Namun, ada juga yang menyebutkan, Malik Al-Saleh diangkat menjadi sultan di Kerajaan Samudera Pasai oleh seorang Laksamana Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil setelah berhasil menaklukkan Pasai.
{/AF}

{AF}

Penyebar Islam
Selain dikenal sebagai pendiri dan raja pertama dari Kesultanan Samudera Pasai, Malik As-Saleh juga merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Nusantara dan Asia Tenggara pada abad ke-13 M.

Karena pengaruh kekuasaan yang dimiliki Sultan Malik As-Saleh, Islam bisa berkembang luas di wilayah Nusantara hingga ke negeri-negeri lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Marco Polo, Malik As-Saleh adalah seorang raja yang kuat dan kaya. Ia menikah dengan putri raja Perlak dan memiliki dua anak. Ketika berkuasa, Malik As-Saleh menerima kunjungan Marco Polo.

Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Samudera Pasai memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Tanah Air. Samudera Pasai banyak mengirimkan para ulama serta mubaligh untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa.

Selain itu, banyak juga ulama Jawa yang menimba ilmu agama di Pasai. Salah satunya adalah Syekh Yusuf—seorang sufi dan ulama penyebar Islam di Afrika Selatan yang berasal dari Makassar.

Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan antara Samudera Pasai dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Konon, Sunan Kalijaga merupakan menantu Maulana Ishak, salah seorang Sultan Pasai. Selain itu, Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di wilayah Cirebon serta Banten ternyata putra daerah Pasai.

Kesultanan Samudera Pasai begitu teguh dalam menerapkan agama Islam. Pemerintahannya bersifat teokrasi (agama) yang berdasarkan ajaran Islam. Tak heran bila kehidupan masyarakatnya juga begitu kental dengan nuansa agama serta kebudayaan Islam.

Sebagai sebuah kerajaan yang berpengaruh, Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain, seperti Champa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka. Menurut Marco Polo, Sultan Malik As-Saleh sangat menghormati Kubilai Khan, penguasa Mongol di Tiongkok.
{/AF}

{AF}

Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Indonesia
Sejarah mencatat Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Dalam waktu yang lama, Pasai dianggap oleh kerajaan Islam lain di Nusantara sebagai pusat Islam.

Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai dan Hikayat Melayu, disebutkan bahwa kemunculan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam diperkirakan dari awal atau pertengahan abad ke-13 M.

Ini sebagai hasil dari proses Islamisasi dari daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7 M.

Dugaan atas berdirinya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M ini didukung oleh data-data hasil penelitian terhadap beberapa sumber yang dilakukan, terutama oleh sarjana-sarjana Barat.

Khususnya, para sarjana Belanda sebelum perang, seperti Christian Snouck Hurgronje, JP Moquette, JL Moens, J Hushoff Poll, GP Rouffaer, dan HKJ Cowan. Kedua hikayat tersebut dan para sarjana Barat juga menyebutkan bahwa pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Sultan Malik As-Saleh.

Akan tetapi, dua buah naskah lokal yang ditemukan di Aceh, yakni “Idah Al-Haqq fi Mamlakat Peureula” karya Abu Ishaq Makarani dan “Tawarikh Raja-Raja Pasai”, mengungkapkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai sudah berdiri pada 433 H/1042 M.

Kerajaan yang dikuasai oleh Dinasti Meurah Khair ini terus berlangsung sampai tahun 607 H/1210 M.

Pada tahun ini, Baginda Raja meninggal dunia dan tidak meninggalkan putra. Setelah itu, negeri Samudera Pasai menjadi rebutan antara pembesar-pembesar istana.

Keadaan politik yang tidak stabil itu berlangsung kurang lebih 50 tahun. Keadaan baru berubah menjadi lebih baik setelah naiknya Meurah Silu, yang kemudian bergelar Malik As-Saleh.

Hal ini berbeda dengan Hikayat Raja-Raja Pasai yang mengatakan bahwa Meurah Silu pada mulanya beragama Hindu. Ia kemudian masuk Islam melalui Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Makkah dan mendapat gelar Sultan Malik As-Saleh.

Sumber ini menyebutkan Meurah Silu berasal dari keturunan Raja Islam Perlak. Pendukung analisis ini berpendapat bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Samudera Pasai, melainkan Kerajaan Perlak.

Dalam catatan perjalanan Ibnu Batuthah, disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam. Kerajaan itu juga digunakan sebagai tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keagamaan dan keduniawian sekaligus.

Kerajaan Samudera Pasai, menurut Ibnu Batuthah, tetap berlangsung hingga tahun 1524. Pada tahun 1521, kerajaan tersebut ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun.

Setelah itu, pada tahun 1524 dan seterusnya, Kerajaan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. [republika]
{/AF}