8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Harun Ar-Rasyid, Sosok Pemimpin yang Dicintai Rakyat

Harun Ar-Rasyid, Sosok Pemimpin yang Dicintai Rakyat

Fiqhislam.com - Setelah masa Khulafaur Rasyidin, kekhalifahan Islam dipegang oleh sejumlah dinasti. Mulai dari Bani Umayyah, kemudian dinasti Abbasiyah, Fathimiyah, hingga Turki Usmani.

Masing-masing memiliki corak dan model pemerintahan yang berbeda. Namun, tujuannya satu, yakni menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Salah satu kekhalifahan Islam yang mampu mencapai puncak kejayaan adalah Dinasti Abbasiyah, yang berkedudukan di Baghdad, Irak.

Di bawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid, wilayah kekuasaan Islam semakin menyebar luas, mulai dari Timur Tengah, Eropa, Asia, Afrika, hingga sebagian benua Amerika.

Era keemasan Islam (The Golden Age of Islam) tertoreh pada masa kepemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, serta peradaban Islam telah membuat Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia pada abad ke-8 M.

Yang lebih fenomenal lagi, dalam usianya yang belum genap 20 tahun, Harun Ar-Rasyid sudah memimpin 95 ribu pasukan beserta para pejabat tinggi dan jenderal veteran dalam pertempuran melawan orang-orang Romawi. Karena kecakapannya dalam memimpin negeri, wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas.

Nama lengkapnya adalah Harun bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Panggilannya adalah Abu Ja'far dan julukannya adalah Ar-Rasyid (orang yang mendapatkan petunjuk). Konon, Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang berperawakan tinggi, berkulit putih, dan tampan.

Dia dilahirkan pada bulan Maret 763 M di Rayy, Teheran, Iran. Namun, ada juga versi lain yang menyebutkan dia dilahirkan pada bulan Februari 766 M. Ayahnya, Al-Mahdi bin Abu Ja'far Al-Mansur, adalah khalifah Abbasiyah ketiga. Ibunya, Khaizuran, adalah seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan dinikahi Al-Mahdi.

Harun Ar-Rasyid diangkat sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803 M. Dia adalah raja agung pada zamannya. Kehebatannya banyak dibandingkan dengan Karel Agung (724-814 M) di Eropa.

Sebelum dibaiat sebagai khalifah, dia adalah Gubernur Maroko, Azerbaijan, dan Armenia. Sang ibu sangat berpengaruh dan berperan besar dalam kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.

Sejak belia, ia sudah ditempa dengan pendidikan agama Islam dan pemerintahan di lingkungan istana. Salah satu gurunya yang paling populer adalah Yahya bin Khalid (salah seorang menteri pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid).

Berbekal pendidikan yang memadai, ia tumbuh menjadi seseorang yang terpelajar. Harun Ar-Rasyid memang dikenal sebagai sosok yang berotak encer, berkepribadian kuat, dan fasih dalam berbicara. Karenanya, ketika tumbuh menjadi seorang remaja, dia sudah mulai diterjunkan ayahnya dalam urusan pemerintahan.

Kepemimpinan Harun Ar-Rasyid ditempa sang ayah ketika dipercaya memimpin ekspedisi militer yang terdiri atas 95 ribu pasukan untuk menaklukkan Bizantium sebanyak dua kali. Ekspedisi militer pertama dipimpinnya pada 779-780 M.

Sementara dalam ekspedisi kedua yang dilakukannya pada 781-782 M, ia memimpin pasukannya hingga ke pantai Bosporus. Saat melakukan ekspedisi militer itu, ia didampingi oleh para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Dari mereka pula, Harun banyak belajar tentang strategi pertempuran.

Sebelum dinobatkan sebagai khalifah, Harun didaulat ayahnya menjadi gubernur di As-Siafah tahun 779 M dan di Maghrib pada 780 M. Dua tahun setelah menjadi gubernur, sang ayah mengukuhkannya sebagai putra mahkota untuk menjadi khalifah setelah saudaranya, Musa Al-Hadi.

Pada 14 September 786 M, Harun Ar-Rasyid akhirnya menduduki takhta tertinggi di Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah  kelima dan berkuasa hingga akhir hayatnya. Sang khalifah tutup usia pada 24 Maret 809 M di Tus, Khurasan, Irak, pada usia yang terbilang muda, 46 tahun.

Meski begitu, pamor dan popularitasnya masih tetap melegenda hingga kini. Namanya juga diabadikan sebagai salah  satu tokoh dalam kitab 1001 malam yang amat populer. Pemimpin yang baik akan tetap dikenang sepanjang masa. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putranya, Al-Amin (809-813 M) dan kemudian Al-Ma'mun.

Sosok Pemimpin Pro Rakyat

Pada era modern ini, begitu sulit menemukan pemimpin yang benar-benar mencintai dan berpihak kepada rakyatnya.

Sosok pemimpin yang mencintai rakyat pastilah akan dicintai dan dikagumi rakyatnya. Salah seorang pemimpin Muslim yang terbilang langka itu hadir pada abad ke-8 M.

Pemimpin yang pro rakyat itu bernama Khalifah Harun Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun (786-809 M). Selama dua dasawarsa itu, ia mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke puncak kejayaan.

Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam pada abad ke-21 ini dari sosok khalifah yang satu ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman.

Ia sering mengundang para tokoh informal dan profesional itu ke istana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Ia begitu menghargai setiap orang yang berhadapan dengannya dan menempatkannya pada kedudukan yang tinggi.

Bisa dikatakan, ia merupakan sosok pemimpin yang mengakar dan dekat dengan rakyatnya. Itulah yang membuat masyarakat dari berbagai golongan dan status amat menghormati, mengagumi, dan mencintainya.

Sebagai seorang pemimpin dan Muslim yang taat, Harun Ar-Rasyid sangat rajin beribadah. Konon, dia terbiasa menjalankan shalat sunah hingga seratus rakaat setiap harinya.

Dua kali dalam setahun, khalifah kerap menunaikan ibadah haji dan umrah dengan berjalan kaki dari Baghdad ke Makkah. Ia tak pernah lupa mengajak para ulama ketika menunaikan rukun Islam kelima itu.

Jika sang khalifah tak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, sebagai gantinya, ia menghajikan sebanyak tiga ratus orang di Baghdad dengan biaya penuh dari istana. Masyarakat Baghdad merasakan dan  menikmati suasana aman dan damai di masa pemerintahannya.

Demikian juga dalam hal kesejahteraan rakyat, sangat ia perhatikan. Ia dikenal sangat pemurah dan tidak suka menyia-nyiakan rakyat yang telah berbuat baik dengan tidak melambatkan pembayaran upah mereka.

Tegas Memberantas Korupsi

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harus Ar-Rasyid tak mengenal kompromi dengan korupsi yang merugikan rakyat.

Sekalipun yang berlaku korup itu adalah orang yang dekat dan banyak berpengaruh dalam hidupnya. Tanpa ragu-ragu, ia memecat dan memenjarakan Yahya bin Khalid yang diangkatnya sebagai perdana menteri (wazir).

Harun pun menyita dan mengembalikan harta Yahya senilai 30,676 juta dinar hasil korupsi ke kas negara. Dengan begitu, pemerintahan yang dipimpinnya bisa terbebas dari korupsi yang bisa menyengsarakan rakyatnya. Pemerintahan yang bersih dari korupsi menjadi komitmennya.

Sang khalifah benar-benar memerhatikan dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Guna meningkatkan kesejahteraan negara dan rakyat, Harun Ar-Rasyid memajukan ekonomi, perdagangan, dan pertanian dengan sistem irigasi.

Kemajuan dalam sektor-sektor ini menjadikan Baghdad, ibukota pemerintahan Bani Abbas, sebagai pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia saat itu. Karenanya, negara memperoleh pemasukan yang besar dari kegiatan dagang tersebut, disamping perolehan dari pajak perdagangan dan pajak penghasilan bumi.

Pemasukan kas negara yang begitu besar itu tak dikorup sang khalifah. Harun Ar-Rasyid menggunakan dana itu untuk membiayai pembangunan sektor-sektor lain, seperti pembangunan Kota Baghdad dengan gedung-gedungnya yang megah, pembangunan sarana-sarana peribadatan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta membiayai pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penerjemahan dan penelitian.

Dari uang kas tersebut, negara juga mampu memberi gaji yang tinggi kepada para ulama dan ilmuwan.

Mereka ditempatkan pada kedudukan status sosial yang tinggi. Setiap tulisan dan penemuan yang dihasilkan ulama dan ilmuwan dibayar mahal oleh negara.

Dengan pendapatan negara yang melimpah ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan para pejabat negara juga dapat memperoleh dan menikmati segala kemewahan menurut ukuran zaman itu. Sebab, kehidupan rakyatnya juga berada dalam kemakmuran dan kesejahteraan.

Kemakmuran dan kesejahteraan yang dicapai pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid tidak terlepas dari kemampuannya dalam menjaga keutuhan wilayah yang dikuasainya. Di masa kepemimpinannya, Abbasiyah menguasai wilayah kekuasaan yang terbentang luas dari daerah-daerah di Laut Tengah di sebelah Barat hingga ke India di sebelah Timur.

Berbagai pemberontakan pun tercatat sempat terjadi di era kepemimpinannya. Pemberontakan yang sempat terjadi pada masa kekuasaannya, antara lain, pemberontakan Khawarij yang dipimpin Walid bin Tahrif (794 M), pemberontakan Musa Al-Kazim (799 M), serta pemberontakan Yahya bin Abdullah bin  Abi Taglib (792 M).

Salah satu puncak pencapaian yang membuat namanya melegenda adalah perhatiannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Pada masa kepemimpinannya, terjadi penerjemahan karya-karya dari berbagai bahasa. Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Pada era itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masanya. Harun pun menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu keagamaan. [republika]