12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Para Filusuf Muslim

Para Filusuf Muslim

Fiqhislam.com - Kendati terjadi pro dan kontra soal keberadaan filsafat dalam Islam, banyak tokoh Muslim yang diketahui sebagai fulsuf terkenal. Di antara mereka bahkan senantiasa menjadi rujukan para filsuf yang datang setelahnya.

Al-Kindi (180-260 H/796-873 M)

Filsuf Muslim yang pertama muncul adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi, atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Kindi.

Ia berasal dari keturunan bangsawan Arab dari suku Kindah, suku bangsa yang pada masa sebelum Islam bermukim di wilayah Arab Selatan. Al-Kindi dilahirkan di Kufah. Ayahnya adalah Gubernur Basrah pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah, Al-Hadi (169-170 H/785-786 M) dan Harun Ar-Rasyid (170-194 H/786-809 M).

Ibnu Abi Usaibi’ah, penulis “Tabaqat Al-Atibba”, menyebut Al-Kindi sebagai salah satu dari empat penerjemah mahir pada masa gerakan penerjemahan.

Ia terutama sekali ikut memperbaiki terjemahan Arab dari sejumlah buku. Selain itu, aktivitasnya lebih banyak tertuju pada upaya menyimpulkan pandangan-pandangan filsafat yang sulit dipahami dan kemudian menulis sendiri.

Jumlah karya tulis Al-Kindi cukup banyak, yakni 241 buah risalah dalam bidang filsafat, logika, psikologi, astronomi, kedokteran, kimia, matematika, politik, optik, dan lain-lain. Sayangnya, kebanyakan karya tulisnya itu tidak atau belum dijumpai.

Baru sekitar 25 buah karyanya yang berhasil ditemukan, yang kemudian diterbitkan dalam dua jilid. Jilid pertama pada tahun 1950 dan jilid kedua pada 1953 di Kairo, dengan judul “Rasa’il Al-Kindi Al-Falsafiyyah”.

Al-Kindi juga dijuluki sebagai filsuf Arab. Itu karena ia satu-satunya yang murni berdarah Arab. Dia pernah memperoleh penghargaan tinggi dari Khalifah Al-Mu’tasim, tapi juga pernah mengalami perlakuan buruk dari pihak-pihak yang iri kepadanya atau benci kepada filsafat.

Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad At-Tusi Al-Ghazali. Ia merupakan ulama terkemuka yang amat berpengaruh di dunia Islam, terutama di kalangan Suni.

Al-Ghazali lahir di Desa Gazaleh, dekat Tus. Ia belajar di Tus, Jurjan, dan Nisabur. Ia kemudian bermukim di Mu’askar selama lima tahun dan di Baghdad selama lima tahun berikutnya.

Di sana ia menjadi pemimpin dan guru besar Madrasah Nizamiyah Baghdad. Di sana pula ia berupaya keras mempelajari filsafat dan menunjukkan pemahamannya tentang filsafat dengan menulis buku berjudul “Maqasid Al-Falasifah” (tentang pemahaman-pemahaman para filsuf).

Ia dikenal karena kemampuannya mengkritik argumen-argumen kaum filsuf dengan menulis buku “Tahafut Al-Falasifah”. Buku tersebut ia tulis dalam rangka memberikan kesan tentang kelemahan atau kekacauan pemikiran-pemikiran para filsuf Muslim, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.

Semasa hidupnya, Al-Ghazali dikenal sebagai fakih, mutakalim, dan sufi. Ia mahir berbicara dan amat produktif dalam mengarang. Karya tulisnya lebih dari 228 buku dan risalah. Karya tulisnya yang paling populer di dunia Islam adalah “Ihya Ulum ad-Din” (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama).  

Ibnu Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)

Salah satu filsuf Muslim yang muncul di belahan barat adalah Abu Al-Walid Muhammad Ibnu Ruysd. Ia berasal dari keluarga hakim. Ia lahir di Cordoba dan wafat di Marakech. Ia dikuburkan di sana, tapi tiga bulan setelah itu jenazahnya dipindahkan ke Cordoba.

Ibnu Rusyd menguasai berbagai bidang ilmu, seperti fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika, astronomi, kedokteran, logika, dan filsafat. Ia berhasil menjadi ulama dan filsuf yang sulit ditandingi. Ia juga pernah menjadi hakim di Cordoba pada 1171 M. Ibnu Rusyd juga pernah menjadi dokter istana.

Kehebatan Ibnu Rusyd dapat dilihat melalui karya-karya tulisnya. Ia menulis “Bidayah al-Mujtahid”, sebuah karya besar berupa fikih perbandingan, yang secara luas dipakai oleh para fukaha sebagai buku rujukan penting.

Ia juga menulis “Kulliyyat fi At-Thibb”, yang membicarakan garis-garis besar ilmu kedokteran, dan menjadi pegangan para mahasiswa kedokteran di Eropa selama berabad-abad di samping karya Ibnu Sina, Al-Qanun.

Karya tulisnya yang merupakan ulasan atas karya Aristoteles dibukukan ke dalam tiga buku ulasan, yaitu “Al-Asghar” (Yang Lebih Kecil), “Al-Ausath” (Yang Lebih Sedang), dan “Al-Akbar” (Yang Lebih Besar).

Sosok Ibnu Rusyd juga dikenal karena pandangan-pandangannya yang mengkritik pandangan Al-Ghazali. Sebagai tangkisan terhadap karya Al-Ghazali, “Tahafut Al-Falasifah” (Kacaunya Kaum Filsuf), ia menulis buku “Tahafut At-Tahafut Al-Falasifah” (Kacaunya Tahafut al-Ghazali).

Ar-Razi (250-313 H/864-925 M)

Filsuf Muslim terkemuka yang muncul setelah Al-Kindi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi. Ia lahir, tumbuh, dan wafat di Rayy, dekat Teheran, Iran. Tetapi, ia juga pernah hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain.

Ia adalah dokter terbesar yang dilahirkan dunia Islam zaman klasik. Ia pernah menjadi direktur rumah sakit Rayy dan pernah pula menjadi direktur rumah sakit Baghdad.

Ketekunan dan kesungguhannya dalam menulis luar biasa. Ia pernah menulis dalam setahun lebih dari 20 ribu lembar kertas. Karya-karya tulisnya mencapai 232 buah buku atau risalah, yang kebanyakan dalam bidang kedokteran.

Di samping itu, ia juga banyak menulis karya-karya yang berhubungan dengan filsafat. Namun, hampir semua karya tulisnya dalam bidang filsafat belum dijumpai. Banyak pihak menduga karya-karya filsafatnya telah dihancurkan oleh lawan-lawannya yang telah menuduhnya sebagai seorang mulhid (menyimpang dari, atau mengingkari ajaran Islam). [yy/republika]