fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Ulama dan Ilmuwan dari Persia

Ulama dan Ilmuwan dari PersiaFiqhislam.com - Dalam bidang ilmu pengetahuan, Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karenanya, pada masa Kerajaan Safawi (907-1134 H/1501-1722 M), ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Kemajuan yang dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan ini telah melahirkan sejumlah nama besar yang ahli di berbagai disiplin kelimuan.

Beberapa nama ilmuwan, sejarawan, dan sastrawan terkemuka di era Safawi antara lain Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i, Muhammad Baqir Astarabadi, dan Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi.

Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i

Nama lengkapnya adalah Syekh Bahauddin Muhammad bin Husain al-Amili al-Juba’i. Ia merupakan ulama Syiah yang terkenal pada masa pemerintahan Syah Abbas I.

Ia berasal dari Jabal Amil, Lebanon, suatu wilayah yang telah menjadian acuan sejak masa Syah Isma’il I dan Syah Tahmasp untuk mencari ulama Syiah guna didatangkan ke Kerajaan Safawi.

Syekh Bahauddin hidup pada periode 953 H hingga 1030 H.  Ia termasuk salah satu ulama Syiah yang memiliki peranan penting dalam menyebarluaskan ideologi Syiah di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Safawi.

Ia merupakan guru utama Syiah pada lembaga pendidikan Syiah yang didirikan oleh Syah Abbas I di Kota Isfahan.

Muhammad Baqir Astarabadi

Nama lengkapnya adalah Muhammad Baqir Astarabadi, namun lebih dikenal dengan panggilan Mir Damad.

Ia adalah salah seorang ulama terbesar di zamannya dan guru terkenal yang mengajarkan filsafat peripatetik (masyai), filsafat iluminasi (isyraqi), irfan, fikih, dan ilmu keislaman lainnya. Ia hidup pada masa pemerintahan Syah Abbas I, dan wafat pada 1040 H/1631 M.

Ia dilahirkan di Khurasan pada 969 H atau 1562 M, dan menghabiskan masa remajanya di Masyhad, ibu kota Khurasan.

Di negeri asalnya, Persia, Mir Damad juga dikenal luas sebagai pendiri aliran Isfahan, yakni sebuah aliran tasawuf yang mengembangkan ajaran filsafat ketuhanan (al-Hikmah al-Ilahiyyah). Aliran tasawuf filsafat ini kemudian terkenal dengan sebutan filsafat pencerahan (isyraqi).

Mulla Sadra

Nama lengkapnya adalah Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Mulla Sadra.

Ia dilahirkan di Kota Syiraz (Iran) pada 979 H/1571 M, dan wafat di Kota Bashrah (Irak) pada 1050 H/1640 M dalam perjalanan ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji yang ketujuh.
 
Mulla Sadra merupakan tokoh terbesar aliran tasawuf filsafat ketuhanan. Ajaran tasawuf filsafat ketuhanan ini ia pelajari langsung dari Syekh Bahauddin Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i di Kota Qazwin.

Sebagai seorang filsuf, nama Mulla Sadra setara dengan para ahli filsuf Muslim yang hidup pada masa sebelum maupun sesudahnya, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Nasiruddin At-Thusi, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Miskawaih.
[yy/republika/foto: republika]