23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Ar-Rabi binti Muawwadz, Membaktikan Diri untuk Rasulullah

Ar-Rabi binti Muawwadz, Membaktikan Diri untuk RasulullahFiqhislam.com - Syekh Yusuf Al-Qradhawi dalam kitabnya yang berjudul “Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam” mengutip sebuah riwayat tentang diperbolehkannya permainan boneka dan jual beli mainan berbentuk itu untuk konsumsi anak-anak.

Hadis yang dimaksud, tak lain adalah riwayat seorang sahabat perempuan (shahabiyah) yang terkenal dengan riwayat-riwayat yang nadir.

Nadir dalam artian, topik utama di balik hadis itu adalah persoalan yang langka terjadi dan jawabannya sangat ditunggu umat Islam.

Dalam hadis itu, sang perawi utama (rawi al-a’la), mengisahkan ia pernah bermain boneka berbentuk anak perempuan di sisi Rasulullah SAW.

Boneka itu berfungsi bukan hanya sebagai penghibur, melainkan juga sarana mendidik anak-anak. Konon, para ibu telah mengajari putra-putri mereka berpuasa. Bila si buah hati menangis, mereka memberikan boneka tersebut hingga waktu berbuka puasa tiba.

Nabi tidak berkomentar apa pun. Beliau hanya berdiam diri. Sikap diam yang ditunjukkan Rasulullah menyikapi sebuah masalah itu, menurut kajian ilmu hadis lantas dikenal dengan taqrir atau ketetapan. Riwayat itu pun lantas menjadi legalitas dan dasar kuat diperbolehkannya boneka untuk kalangan anak-anak.

Shahabiyah, perawi hadis itu ialah Ar-Rabi binti Muawwadz an-Najjariyyah. Sejak mengikrarkan dua syahadat dan terlibat dalam peristiwa Baiat Aqabah, perempuan yang bernama lengkap Ar-Rabi binti Muawwadz bin Afra bin Haram bin Jundub al-Anshariyah an-Najjariyah, menyatakan pengabdian penuh terhadap Rasulullah.

Bentuk bakti itu terlihat dari keseriusannya belajar Islam dan merekam segala apa yang bersumber dari Rasulullah. Tak heran, ia termasuk salah satu shahabiyah yang memiliki sanad kuat. Dan, riwayat yang dimiliki tergolong istimewa.

Selain hadis di atas, ada lagi misalnya riwayatnya soal tata cara wudhu yang dilakukan Rasulullah. Ia menyatakan, saat wudhu, Nabi mengusap kepala dua kali dari arah bagian belakang menuju depan serta mengusap kedua telinga yang mencakup bagian luar dan dalam. Walaupun begitu, sangat disayangkan tidak ada informasi yang akurat terkait berapa hadis yang ia riwayatkan.

Pengabdian perempuan yang berasal dari keturunan Addi bin Najjar itu kepada Nabi, tak cukup ditunjukkan dengan komitmen belajar dan memdalami ilmu.

Sejarah mencatat, putri kesayangan Muawwadz bin Afra tersebut, turut serta dan aktif terlibat di berbagai peperangan.

Tugasnya memang tidak berada di garis depan. Namun, hal itu tak mengurangi peran krusial yang dijalankan.

Ia bersama sahabat perempuan lainnya, bertugas menyediakan logistik berupa makanan dan minuman serta merawat korban yang terluka. Sesekali ia juga mengantarkan korban yang meninggal akibat perang ke Madinah.

Berani
Partisipasinya dalam perang itu menggambarkan bahwa ia adalah pribadi yang berani. Ini tak terlepas dari karakter dan watak yang diwarisi dari sang ayah, Muawwadz bin Afra, pejuang senior saat Perang Badar.

Soal kecintaan terhadap Baginda Rasul, tak lagi diragukan. Ini tampak dari keputusan ar-Rabi dan sang suami, Iyyas bin al-Bakir al-Laitsi, untuk memberikan nama bagi buah pernikahan keduanya dengan nama Rasulullah, Muhammad.

Kegagumannya terhadap sosok Rasulullah juga terpancar dari berbagai testimoninya. Saat seorang tabi’in, Abu Ubaidah bin Muhammad, bertanya kepada ar-Rabi seperti apakah figur Nabi? Ia melontarkan pujian dan permisalan yang sempurna. “Wahai putraku, jika engkau melihatnya, niscaya engkau akan melihat matahari yang terbit,” katanya.

Suatu saat, ia pernah mendatangi Rasulullah dengan membawa bejana yang penuh kurma basah dan sedikit upah memanen. Nabi lalu meletakkannya kembali dan mengatakan kepada ar-Rabi, ”Berhias dan belilah pakaian dari rezeki ini.” Buku sejarah memang tak mengabadikan utuh biografi ar-Rabi.

Tetapi, sepenggal kisah yang bertutur tentang kedekatan dan pengabdiannya terhadap Rasulullah sangat menginspirasi. Komitmen, dedikasi, dan kecintaan perempuan yang meninggal pada 70-an Hijriah saat Khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa, terhadap Rasul dibuktikan melalui aksi nyata. Karena itu, siapa pun yang mengaku cinta Rasul, semestinya akan mengikuti titah dan sabda Kekasih Allah tersebut.
[yy/republika]