12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Thufail Al Amru Ad Dausi : Penyair Lihai dan Orator Ulung

Thufail Al Amru Ad Dausi : Penyair Lihai dan Orator UlungFiqhislam.com - Kisah seorang sahabat yang jarang terdengar dan dikisahkan. Allah telah memberikan petunjuk untuk mendapatkan apa yang dicita-citakannya, mengislamkan kaumnya. Dia adalah  Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi, berasal dari kabilah Daus Zahran  termasuk keturunan bangsawan. Allah mengaruniainya  bukti dan tanda di kening yang salalu memancarkan sinar sebagai janji Rasulullah kepadanya.

Ath-Thufail adalah seorang penyair yang yang lihai dalam berbicara dan orator yang ulung, piawai dalam mempengarui orang, cepat dalam berpikir, sigap dalam bertindak. Dia telah sampai di Makkah, tetapi dia mendengar berbagai propaganda  menentang Rasulullah yang berasal dari kalangan kaum musyrikin.

Thufail  bertemu dengan orang-orang kafir Quraisy. Lalu mereka bertanya, "Hendak ke mana engkau, wahai Thufail?" "Aku ingin bertemu dengan orang yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi," jawabnya. Apa yang kamu inginkan?" tanya mereka. Aku ingin mendengar perkataannya, jika benar, maka akan aku ikuti, dan jika salah, maka akan aku tinggalkan," jawabnya.

Mereka berkata, “Jangan engkau dekati dia, karena dia adalah tukang sihir, penyair, dukun dan orang gila. Berhati-hatilah, jangan engkau dengarkan omongannya." Ath-Thufail menuturkan, “Demi Allah! Mereka tetap menakut-nakutiku sehingga aku mengambil kapas, lalu kusumbatkan ke telingaku."

Dia berkata, “Suatu hari aku masuk ke Masjidil Haram, sedangkan kapas masih tetap berada di telingaku. Aku tidak mendengar apapun." Dia  melihat wajah Rasulullah SAW seraya berkata, "Setelah aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa wajahnya bukan wajah seorang pendusta." Wajah seorang pendusta bisa ia kenali, wajah seorang pemabuk bisa ia kenali, wajah orang yang meninggalkan shalat bisa ia kenali, begitu juga wajah orang yang shalat dan orang yang benar bisa ia kenali. Maka, tidak heran ia bisa mengenali orang yang paling benar dan sebaik-baik manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ath-Thufail berkata, "Lalu aku mendengar beliau SAW membaca, tetapi aku tidak mendengar, karena di telingaku ada kapasnya. Lalu ia melepas kapas tersebut. Kemudia dia mendengar Rasulullah SAW mulai membaca ayat-ayat Al Qur'an dan terjadi sesuatu pada dirinya. 

Siapakah yang tidak tergetar mendengar kalimat, "Qaaf, demi Al Qur'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya), bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, “lni adalah suatu yang amat ajaib’.  (Qs. Qaaf (50): 1-2)

Ath- Thufail bertanya lagi, "Kepada apa kamu berdakwah?" Lalu beliau memberitahukan dan membacakan kepadanya beberapa ayat. Secara spontan dia pun berkata,  (Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."

Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah! Aku berasal dari Kabilah Daus." Maka Rasulullah SAW menyuruhnya untuk kembali ke kabilahnya dan menyeru mereka.  

Lalu, ia kembali sebagai seorang juru dakwah kepada kabilahnya. Namun kabilahnya tetap kafIr, perbuatan zina telah menguasai mereka. Thufail pun menemui Rasulullah SAW seraya berkata, (Wahai Rasulullah! Perbuatan zina telah menguasai kabilah Daus, mereka kafir kepada Allah. Berdoalah untuk kebinasaan mereka, wahai Rasulullah!" 

Tetapi Nabi Muhammad SAW bersikap sebagaimana difirmankan oleh Allah,  “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Qs. Al Qalam (68): 4) . Rasulullah malah mendoakan kabilah Daus. Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah (petunjuk tersebut) kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka."

Kemudian beliau bersabda, "Wahai Thufail, pergilah kamu ke kabilah Daus, ajak mereka untuk masuk Islam dan orang yang telah masuk Islam bersamamu. Perangilah orang yang kafir" Lalu ia pergi dan meminta kepada Rasul SAW supaya menjadikan untuknya suatu bukti.

Rasulullah berdoa untuknya, maka tampaklah cahaya di dahi Thufail. Yang dapat bersinar di malam hari. Tapi Thufail malah takut sinar di dahinya akan dianggap sebagai penyakit. Maka berdoalah Rasulullah, lantas  Allah memindahkan  cahaya itu ke tongkat. Jadi, tatkala Thufail  mengangkat tongkatnya, bersinarlah bukit¬-bukit Zahran karenanya. 

Setelah ia sampai kepada kabilahnya, ternyata mereka telah bersiap-siap, sebagaimana doa Rasulullah SAW. Kemudian ia memperlihatkan bukti tongkat bersinar. Maka, semua orang dalam kabilahnya masuk Islam dengan berbondong-bondong. 

Ath-Thufail terus-menerus berdakwah dan berjihad. Dia telah menjual dirinya kepada Allah, hingga ia mati syahid dalam perang Yamamah.
[yy/suara-islam]

H. Bernard Abdul Jabbar
Ketua DDII Bekasi