24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Saad Ibnu Rabi, Pembuka Ayat Waris

Saad Ibnu Rabi, Pembuka Ayat WarisFiqhislam.com - Kematian Saad membuka ilmu mengenai pewarisan harta kepada anak, istri, dan saudara laki-lakinya.

Nama lengkapnya adalah Saad Ibnu Rabi al Khazraji al-Anshari. Dia termasuk salah seorang tokoh yang memahami bahwa jihad merupakan ibadah dan gugur di jalan Allah merupakan jihad.

Dia merupakan tokoh Anshar yang memberikan tumpangan kepada kaum Muhajirin dan menolong agama Allah, serta mempersembahkan nyawanya secara murah di jalan Allah. Dialah salah seorang Anshar yang mencintai surga, lalu beramal untuk mendapatkannya.

Saad lahir di negeri Yatsrib yang penuh berkah. Di tanah itulah dia menghabiskan masa kanak-kanaknya. Di antara sungai dan lembah-lembah Madinah itulah kemudaan dan kelelakiannya berkembang sempurna.

Sejak kecil, sang ayah telah melatihnya menunggang kuda, meloncat ke punggungnya, serta berlatih menggunakan tombak dan panah dalam berburu burung di udara dan binatang di darat.

Saad terkenal sangat rajin. Pada pagi-pagi buta dia telah berang kat untuk menikmati merekahnya sinar matahari yang merangkak menyapu kegelapan yang mundur terkalahkan. Di hadapannya adalah unta dan ternak peliharaannya. Dia memilihkan tempat pengembalaan dan padang rumput untuk hewan peliharaannya itu.

Setelah memastikan ternaknya mendapatkan rumput terbaik, dia lalu meninggalkan mereka untuk pergi berburu agar pada pengujung siang, dia kembali dengan membawa hewan buruan, seperti burung yang berhasil dipanahnya atau kelinci yang berhasil ditangkap dengan tombaknya. Dia sama sekali tidak menyia-nyiakan waktunya.

Jika telah lewat tengah malam, Saad kecil kembali ke rumahnya, sedangkan di kepalanya muncul petanyaan-pertanyaan yang aneh dan pikiran yang nyeleneh. Dia tidak mampu menjelaskan atau mengucapkannya. Dia senantiasa mengulang-ulang pertanyaan itu dalam dirinya.

Segudang pertanyaan berkelindan di benak Saad Ibnu Rabi.

Siapa yang telah menciptakan alam semesta? Siapa yang memasang gemintang dan planet-planet di permukaan langit? Siapa yang melengkungkan langit ke Bumi?

Siapa yang menumbuhkan berbagai tanaman? Bagaimana kejadian bayi di perut ibunya? Siapa yang membuka kedua matanya, membentuk kedua bibirnya, dan menciptakan dalam bentuk yang paling indah? Siapakah yang melakukan semua itu?

Apakah yang melakukan hal itu Tuhannya kaum Yahudi yang suka makan, minum, memiliki bentuk, memiliki tubuh, dan bermain-main dengan paus di kedalaman samudra?

Ataukah yang membuat semua itu adalah Tuhannya kaum Nasrani yang tiga itu, yang berlomba, berselisih, dan saling menaklukkan? Atau, yang melakukan tugas itu adalah berhala-berhala Quraisy yang besar, seperti Hubal, Lata, dan Manat?

Ataukah berhala-berhala kecil yang dipahat oleh tangan manusia sendiri dan digelar di dekat pilar-pilar Ka’bah, yaitu berhala yang tidak dapat berbicara dan menjelaskan sesuatu?

Apakah berhala-berhala itu mampu menyuguhkan berbagai macam makanan? Apakah berhala-berhala itu dapat mendengar keluhan seorang yang sakit? Saad bergidik dan mengusap tubuhnya seraya berucap dengan lantang. “Tidak… tidak… aku tidak akan menyia-nyiakan akalku.”

Akhirnya, pada suatu hari, tatkala Saad mondar-mandir di pasar, dia melihat sebuah kafilah yang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan keberangkatan. Pada kafilah tersebut terdapat sahabat dan temannya sejak kecil. Dia adalah Ubadah.

“Sepertinya kalian hendak pergi jauh?” tanya Saad.

“Ya, Saad, tujuan kami adalah Baitullah yang haram,” ujar Ubadah.

Saad heran melihat teman-temannya itu pergi ke Baitullah dalam rombongan.

Karena, kala itu biasanya untuk beribadah dan tawaf sambil memberi persembahan kepada berhala-berhala di sekitar Ka’bah yang dilakukan sendiri.

Lalu, Ubadah mencoba mencairkan rasa heran sahabatnya itu. “Hai Saad, tujuan kami bukanlah berhala. Kami tak bermaksud mengunjungi Ka’bah. Keberangkatan kami kali itu bertujuan untuk menemui Muhammad.”

“Dia adalah Rasul yang diutus kepada hamba-hamba-Nya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan dan penyembahan berhala kepada penyembahan Tuhan yang Mahapemurah.”

Saad merasa tertarik. Ini adalah konsep baru yang mungkin bisa menjelaskan mengenai apa atau siapakah sang pencipta alam ini.

Dia pun bertanya, “Apakah Rasul yang ini dapat menunjukkanku kepada pencipta langit dan bumi, kepada yang mengadakan kehidupan dan kematian?”

Ubadah pun menjelaskan bahwa Rasul yang baru diutus ini dapat menunjukkan kepadanya Tuhan sang pencipta langit dan bumi. “Sebab, dia menerima wahyu dari Tuhannya dan kepadanya telah diturunkan Alquran.”

Begitu mendengar hal tersebut, Saad bergegas pulang untuk mempersiapkan kendaraan dan bekalnya. Lalu, dia bergabung dengan kafilah tersebut. Sampai di tempat tujuan, Rasulullah menyambut rombongan dari Madinah itu.

Rasulullah pun berbicara, membacakan Alquran, dan mendorong kafilah tersebut untuk masuk Islam. “Lindungilah aku dari hal-hal yang kalian juga melindungi kaum wanita dan anak-anakmu dari hal itu,” ujar Rasulullah.

Mendengar perkataan Rasulullah, Saad tersadar, ini adalah untuk pertama kalinya semua pertanyaannya terjawab. Dia telah mengetahui siapa sesungguhnya sang pencipta itu dan memutuskan untuk beriman kepadanya.

“Aku berbuat kepada Rasulullah dan mengucapkan tauhid, tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah,” ikrarnya.

Saad menjadi tambah istimewa karena kisahnyalah yang menjadi dasar bagi Allah menurunkan Surah an-Nisa ayat 11-12.

Firman tersebut turun tepat setelah Saad meninggal dunia usai berjihad di Perang Uhud.

Diriwayatkan dari Muhamad bin Abdurrahman bin Sha’shabah. Suatu hari Rasulullah bersabda, “Siapa yang bisa memberitahuku tentang perbuatan Saad bin Rabi?”

Seorang sahabat Anshar kemudian menyanggupi permintaan Rasul itu. Dia lalu keluar dan mengelilingi para korban hingga menemukan Saad dalam keadaan terluka, menahan sakit, dan berada dalam sisa-sisa akhir hidupnya.

Sahabat itu berkata, “Wahai Saad, sesungguhnnya Rasulullah memerintahkanku untuk melihat apakah kamu masih hidup atau sudah mati.”

Saad berkata, “Aku sudah mati. Sampaikan salamku kepada Rasulullah dan katakanlah bahwa Saad berdoa semoga Allah membalas kebaikanmu (Nabi) dariku, seperti Allah membalas kebaikan Nabi dari umatnya.”

“Sampaikan juga salamku kepada kaummu dan katakan kepada mereka bahwa Saad berkata kepada mereka, ‘Tak ada kesulitan bagimu di sisi Allah jika kamu ikhlas kepada Nabimu walaupun hanya berupa kedipan mata’.”

Setelah kematian Saad, istri dan kedua putrinya datang kepada Rasulullah seraya berkata. “Wahai Rasulullah, ini adalah kedua putri Saad dan ayah mereka terbunuh dalam Perang Uhud.”

“Sementara, paman mereka telah mengambil harta mereka dan dia tidak menyisakan harta sedikit pun untuk keduanya. Padahal, mereka berdua tidak bisa menikah, kecuali mempunyai harta.”

Mendengar itu Nabi pun kemudian berkata, “Allah pasti akan menyelesaikan masalah ini.”

Tak perlu menunggu lama untuk mengurai masalah yang menimpa para pewaris sahabat yang satu itu. Turunlah ayat tentang warisan. Setelah itu, paman kedua putri Saad dipanggil oleh Rasulullah dan beliau berkata, “Berikanlah kepada kedua putri Saad dua per tiga harta dan berilah ibu mereka (istri Saad) seperdelapan harta, sedangkan sisanya untukmu.”

Persaudaraan Dua Hartawan

Sejak menyatakan keislamannya, Saad menjadi sahabat Rasulullah yang disegani.

Dia merupakan salah satu kaum Anshar yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan kaum Muhajirin, para pengikut awal Islam yang mengungsi ke Madinah, meninggalkan segala harta dan saudara di Makkah.

Rasulullah mempersaudarakan dia dengan jutawan Makkah, Abdurrahman bin Auf. Saad sendiri sebenarnya juga merupakan tokoh kaya di Madinah karena mempunyai banyak kebun kurma.

Atas persaudaraan itu, Saad bersikeras untuk memberikan setengah kekayaannya kepada saudaranya dari dua kebun di Madinah dan mengawinkan Abdurrahman dengan salah satu dari dua istrinya.

“Aku adalah orang terkaya di kalangan Anshar sehingga aku akan memberimu setengah dari kekayaanku. Kamu bisa memilih salah satu dari dua istriku. Siapa pun yang kamu pilih akan aku ceraikan,” kata Saad menawarkan.

Tetapi, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran saudara barunya itu dan mendoakan Saad agar memperoleh kebaikan. “Semoga Allah memberikan kebaikan kepada keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar?” pinta Abdurrahman. “Pasar Qainuqa,” ulang Abdurrahman.

Maka, Abdurrahman tak kembali dari pasar di Madinah sampai dia bisa mendapatkan mentega dan susu kering dari hasil berniaga yang kemudian dibawanya pulang ke rumah. Sejak saat itu, Abdurrahman bin Auf rutin ke pasar sehingga dia bisa memperoleh kembali kekayaannya yang ditinggalkan di Makkah akibat hijrah ke Madinah.

Dengan kekayaannya itu, Abdurrahman akhirnya menikah dengan seorang wanita Anshar. Ketika Rasul dan para sahabat mengetahui perkawinan Abdurrahman, Rasul bertanya dengan maskawin apa dia menikah dan dijawab, dengan sepotong emas sebesar kurma.

Lalu, Rasulullah memerintahkan agar Abdurrahman bin Auf menggelar resepsi pernikahan (walimah). “Walau dengan seekor domba.”

Melalui peristiwa bersejarah inilah Islam dikenal dengan persaudaraan di antara para pemeluknya. Persaudaraan itu diliputi jalinan ajaran dan perintah Islam. Upaya Rasulullah untuk mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar merupakan sebuah langkah progresif dan bervisi.

Beliau tidak hanya mempersatukan kaum Muslimin dalam masjid dengan ikatan keyakinan akan kebenaran, tetapi juga mempersatukan mereka dengan ikatan kekeluargaan.

Ikatan tersebut menyadarkan mereka bahwa sesama Muslim adalah satu unit keluarga yang harus saling menolong, saling membantu, dan saling berjuang demi kebenaran yang diyakini mereka. “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara,” demikian bunyi Surah al-Hujuurat ayat 10.
[yy/republika/foto juruswirausaha.com]