22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Uqbah bin Abi Mu'ith, Memilih Teman Ketimbang Iman

Uqbah bin Abi Mu'ith, Memilih Teman Ketimbang ImanFiqhislam.com - Ayahnya bernama Abu Mu’ith Aban bin Abu Amr bin Umayah bin Abdi Syams, seorang tokoh utama kaum Quraisy di Makkah.

Namun, Uqbah bin Abi Mu’ith lebih suka dipanggil Abul Walid merujuk pada nama anaknya al-Walid bin Uqbah. Uqbah adalah seorang Quraisy yang sangat kaya. Dia adalah pengusaha terkenal.

Ternaknya digembalakan di hampir seluruh jazirah. Pada musim panas, ia akan berdagang ke negara-negara di sebelah utara, yaitu di Syam. Sedangkan, pada musim dingin, ia berdagang di negara-negara selatan, yaitu di Yaman.

Sebagai seorang pengusaha, Uqbah menjalin hubungan yang akrab dengan semua kolega dan relasinya. Untuk itu, ia tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri untuk mentraktir makan teman-temannya atau menjamu mereka dalam sebuah pesta.

Dalam acara tersebut, Uqbah biasanya mengundang para tokoh masyarakat, baik dari kalangan pengusaha maupun tokoh berpengaruh lainnya.

Suatu kali, Uqbah mengundang Rasulullah yang bersedia menghadiri undangan tersebut. Bagi Nabi Muhammad, kesempatan ini bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk berdakwah.

Ketika hidangan sudah tersedia, Rasulullah pun berkata, “Wahai Uqbah, saya tidak akan makan hidangan Anda sampai Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya adalah Rasul-Nya.”

Secara spontan Uqbah menyanggupinya dan tak lama kemudian ia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan orang banyak. Uqbah telah masuk Islam.

Sebenarnya, Uqbah sudah lama menaruh simpati dan terpanggil hatinya kepada Islam, hanya saja ia masih merahasiakan suara batinnya itu karena pengaruh sahabat dan kaumnya yang rata-rata membenci ajaran Islam, yang menolak penyembahan terhadap berhala-berhala di Ka’bah.

Ketertarikan tersebut muncul sepulang dirinya dan tokoh pemimpin Quraisy Abu Jahal dari sebuah perjalanan jauh. Ketika itu, dia mendengar Rasulullah yang sedang membaca Alquran. Peristiwa tersebut sedikit memengaruhi hatinya yang terbiasa berbuat jahat.

Uqbah meludahi wajah Rasulullah setelah dia menyatakan keluar dari Islam.

Mengetahui keislaman Uqbah, teman-teman bisnisnya banyak yang terkejut. Salah satu di antaranya adalah Ubay bin Khalaf.

Ubay pun menanyakan langsung kebenaran berita itu. “Kamu sudah rusak, hai Uqbah,” kata Ubay.

Maka, Uqbah membuka rahasia mengapa dia masuk Islam. “Demi Allah, aku tidak rusak. Aku lakukan hal itu karena pada perjamuan makan itu ada seorang tamu. Ia tidak mau menyentuh makananku sebelum aku bersaksi di hadapannya. Aku malu jika ada tamu yang keluar dari rumahku sementara ia belum memakan hidanganku.”

Ubay kemudian mengancam Uqbah. “Aku tidak rela. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan perdagangan ini denganmu sampai kamu menyatakan keluar dari agama Muhammad!”

Dia pun menyuruh Uqbah untuk menyatakan hal tersebut di hadapan Nabi Muhammad langsung. Tak sampai di situ saja, Ubay menyuruh Uqbah untuk mencaci maki Rasulullah di hadapan orang banyak dan meludahi wajahnya.

Sahabat dekatnya yang lain, pemimpin Quraisy yang terkenal kejam Abu Jahal, juga terkejut dengan kabar tersebut. Sekembalinya dari perjalanan, Abu Jahal langsung menemui Uqbah dan mengingatkan kepadanya agar tidak sampai meretakkan tali persahabatan yang telah terjalin.

Bahkan, ia juga menyuruhnya untuk menemui Rasulullah dan meludahinya. “Pilihlah bagimu wahai Uqbah, agamamu atau kaummu, Muhammad atau keluargamu!” ancamnya.

Ubay bin Khalaf dan Abu Jahal menginginkan agar sahabat mereka itu murtad dan kembali kafir. Mendengar ancaman-ancaman tersebut Uqbah galau. Dia tidak ingin kehilangan rekan bisnis dan sahabatnya. Dia tidak ingin keuntungnya berkurang.

Uqbah pun merenung sejenak, membandingkan antara keduanya. Tetap dengan keyakinan barunya Islam ataukah kembali pada kekufuran dan tetap bersahabat dengan Abu Jahal serta mendapatkan kembali rekan bisnisnya.

Setelah menghitung untung-ruginya secara matang, atas desakan Ubay dan Jahal, akhirnya ia menemui Rasulullah. Di hadapan Rasulullah, ia menyatakan keluar dari Islam. Ia pun mencaci-maki dan tak lupa meludahi wajah Nabi Muhammad SAW.

Atas perlakuan ini, Rasulullah bersabda. “Kelak engkau akan keluar dari Makkah dari bukit sebelah itu dan aku akan menyambutmu dari bukit sebelah itu. Pada saat itu engkau menyesali perbuatanmu.”

Keadaan dan penyiksaan terhadap Rasulullah tersebut terjadi beberapa lama hingga Allah mengabulkan sabda Rasulullah ketika Uqbah memutuskan untuk mengkhianati keislamannya.

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa ludah Uqbah yang dilontarkan ke wajah Nabi itu kembali ke wajahnya sendiri dan kemudian membakar pipinya. Luka bakar pipinya itu tak pernah sembuh sampai dibawa ke liang kuburnya.

Allah pun menurunkan Surah al-Furqan ayat 28-29. “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”

Setelah itu, Uqbah kembali menjadi dirinya yang dulu. Bersama Abu Jahal dan tokoh Quraisy lainnya dia melakukan sejumlah tindakan yang keji kepada Rasulullah.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’ith pernah mencampakkan kotoran unta dan isi perut domba yang baru disembelih ke tubuh Rasulullah yang sedang sujud di Baitullah. Beliau pun terus sujud hingga putrinya Fatimah datang membuang kotoran itu sambil menangisi nasib yang menimpa bapaknya.

Uqbah bin Abi Mu’ith juga pernah mencekik leher dan menginjak pundak Rasulullah. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah paman Nabi Abu Thalib dan isterinya Khadijah meninggal dunia pada tahun ke-10 kerasulan.

Karenanya, Nabi kemudian hijrah ke wilayah Thaif. Namun ternyata, di sini juga beliau tidak diterima. Malah, penduduk setempat menyuruh anak-anaknya untuk melemparinya dengan batu.

Keadaan dan penyiksaan terhadap Rasulullah tersebut terjadi beberapa lama hingga Allah mengabulkan sabda Rasulullah ketika Uqbah memutuskan untuk mengkhianati keislamannya. Kesempatan itu datang saat Perang Badar yang diikuti oleh Uqbah bin Abu Mu’uth. Dalam peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin itu Uqbah tertawan.

Uqbah melupakan harga dirinya dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal atas perlakuannya yang lebih memilih kawannya yang musyrik daripada kawan yang sebenarnya. “Jangan bunuh saya, siapa yang akan menjaga anak-anak saya ya Nabi Allah?” katanya sambil merengek. Dia terus memohon. Dalam kondisi tangan terbelenggu akhirnya leher Uqbah dipancung.

Pencekik Nabi, Pemukul Abu Bakar

Salah satu tindakan kejam yang sangat terkenal dari Uqbah bin Abu Mu’ith ialah ketika ia tiba-tiba muncul saat Rasulullah shalat, lalu melingkarkan pakaiannya di leher beliau, dan kemudian menjeratnya dengan tarikan yang sangat keras.

Abu Bakar yang melihat insiden itu langsung mencengkeram pundak Uqbah serta menyingkirkannya dari sisi Rasulullah, seraya berkata, “Apakah kamu hendak membunuh orang yang hanya mengatakan, Tuhanku adalah Allah?”

Kemudian, Uqbah langsung dibanting Abu Bakar ke tanah. Uqbah lantas membuka sandal dan memukul wajah Abu Bakar dengan sandal terus-menerus. Hingga wajah Abu Bakar bengkak sampai tak diketahui lagi bentuk hidungnya.

Darah pun mengalir darah dari wajah Abu Bakar, lalu pingsan. Sejurus kemudian, datanglah kabilah Abu Bakar, Bani Tamim. Mereka membawanya ke rumah dan menyangka Abu Bakar tidak akan mampu diselamatkan lagi. Mereka berkata kepada ibunya, “Jika dia hidup maka berilah dia makan dan minum.”

Setelah sadar, kalimat pertama yang keluar dari lisan Abu Bakar, “Apa yg terjadi pada Rasulullah?”

Ibunya yang waktu itu belum masuk Islam menjawab, “Apakah kamu masih mengingatnya, sedangkan keadaan kamu sudah begini?”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum apa pun hingga jiwaku merasa tenang dengan keadaan Rasulullah sekarang.” Abu Bakar meminta kepada ibunya agar pergi ke tempat Ummu Jamil (Fatimah binti Al-Khattab) untuk menanyakan kabar mengenai kondisi Rasulullah agar dirinya tenang.

Si ibu pergi menemui Fatimah binti Al-Khattab yang justru berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu tentang putramu dan Muhammad, tetapi kalau engkau inginkan anakmu tenang, aku akan pergi bersamamu.”

Kedua ibu itu datang menengok Abu Bakar. “Apa yang terjadi atas Rasulullah?” tanya Abu Bakar.

Fatimah menjawab, “Aku tidak mengetahui keadaan Rasulullah.” Namun, Fatimah lalu berkata, “Dia baik-baik saja.”

Abu Bakar berkata lagi, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sehingga aku melihatnya sendiri!”

Kemudian, mereka bertiga pergi menemui Rasulullah di rumah Al-Arqam bin Abi Arqam. Melihat keadaan Abu Bakar, Rasulullah merasa sangat iba. Nabi memeluknya. “Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak apa-apa, hanya wajahku saja yang luka,” kata Abu Bakar selepas melihat Nabi Muhammad merasa kasihan dan simpati kepadanya. Nabi pun berdoa untuknya.

“Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar dia memberikan petunjuk kepada ibuku!” pinta Abu Bakar. Dengan keberkatan doa Rasulullah, ibu Abu Bakar lantas mengucapkan dua kalimat syahadat. [yy/republika/foto wordpress.com]

 

Mujahidah: Ummu Kultsum binti Uqbah, Kisah Muslimah Periwayat Hadits

Uqbah ibn Nafi, Sang Panglima Islam Penakluk Afrika

Uqbah bin Amir al-Juhani