27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Tentang Rujuk

Tentang Rujuk

Fiqhislam.com - Disyariatkannya rujuk dalam Islam berfungsi untuk menjadikan pasangan suami istri berkesempatan untuk kembali berumah tangga.

Perceraian memang diperbolehkan dalam syariat. Namun, kedua pasangan diberikan kesempatan untuk merajut kembali hubungan.

'Media' untuk mempersatukan kedua pasangan itu salah satunya disebut dengan rujuk. Mengutip Ensiklopedi Hukum Islam, kata rujuk berasal dari bahasa Arab raja'a-ruju'an yang berarti pulang atau kembali.

Dalam pengertian syariah, rujuk adalah kembalinya pasangan suami istri yang sebelumnya bercerai atau talak. Suami yang menalak istrinya berhak untuk rujuk kepada istrinya selama masa idah.

Syaratnya, suami benar-benar memaksudkan untuk rujuk dan tidak memberi bahaya kepada istri. Rujuk sangat dibutuhkan karena barangkali suami menyesal telah menalak istrinya.

Ulama Mazhab Hanafi menjelaskan istilah itu sebagai media melanjutkan hubungan suami istri selama masih dalam masa menunggu akibat talak kesatu atau kedua. Mayoritas ulama menjelaskan rujuk sebagai mengembalikan wanita yang ditalak, selain dengan talak ketiga.

Rujuk hanya berlaku bagi suami yang menalak istrinya dengan talak pertama dan kedua. Allah memperbolehkan rujuk (QS al-Baqarah [2]: 288). Disyariatkannya rujuk dalam Islam berfungsi untuk menjadikan pasangan suami istri berkesempatan untuk kembali berumah tangga.

Ada dua bentuk rujuk. Pertama, rujuk dalam talak pertama dan kedua. Kemudian, rujuk dalam talak ketiga. Untuk yang pertama, ulama sepakat rujuk dapat dilakukan hanya dengan suami berkata atau melakukan tindakan yang mengarah kepada rujuk, yaitu menggaulinya atau mencumbunya.

Rujuk setelah terjadinya talak pertama dan kedua tidak membutuhkan mahar, wali, dan tidak perlu adanya izin dari istri yang dirujuk. Rujuk yang seperti ini hanya bisa dilakukan jika pasangan bercerai dan istri masih dalam masa menunggu.

Jika sudah keluar dari masa menunggu, tidak ada lagi kesempatan rujuk. Kalau suami masih ingin rujuk, harus menikahi wanita yang dirujuk.

Rujuk hampir sama dengan melakukan pernikahan. Tidak sah bila dilakukan anak kecil, murtad, mabuk, dan dipaksa.
 
Ada beberapa syarat sahnya rujuk. Pertama, menurut Ulama Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali, suami yang melakukan rujuk adalah orang yang memahami hukum.

Tentunya harus sudah balig, berakal, dan melakukan rujuk atas keinginan pribadi, bukan karena campur tangan orang lain. Yang melakukan rujuk adalah orang yang masih dalam keimanan, bukan yang sudah murtad.

Rujuk hampir sama dengan melakukan pernikahan. Tidak sah bila dilakukan anak kecil, murtad, mabuk, dan dipaksa. Ulama Mazhab Hanafi berpandangan berbeda. Anak kecil boleh melakukan rujuk karena nikahnya juga sah, sekalipun bergantung pada izin wali.

Imam Syafi’i menyatakan bagi yang mampu berbicara maka rujuk dilakukan dengan mengungkapkan keinginan rujuk, baik berupa ungkapan yang jelas maupun hanya berupa sindiran.

Rujuk dengan ucapan ini disahkan secara ijmak oleh para ulama, dan dilakukan dengan lafaz yang sharih (jelas dan gamblang), misalnya dengan ucapan “saya rujuk kembali kepadamu” atau dengan kinayah (sindiran), seperti ucapan “sekarang, engkau sudah seperti dulu”.

Kedua ungkapan ini bila diniatkan untuk rujuk, sah. Sebaliknya, bila tanpa diniatkan untuk rujuk, tidak sah.

Rujuk tidak bisa dilakukan dengan bersenggama karena hal itu belum tentu menunjukkan keseriusan rujuk. Mazhab Hanafi berbeda pendapat. Rujuk bisa dengan perkataan atau langsung bersenggama.

Jika ingin langsung rujuk dengan perkataan, Mazhab Hanafi berpendapat hal itu harus dilakukan dengan ungkapan yang jelas. [yy/republika
]