14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Belajar dari Musibah

Belajar dari Musibah

Fiqhislam.com - Musibah berarti peristiwa yang datang tidak diduga oleh manusia. Musibah itu suatu kejadian yang ada pada wilayah kekuasaan (takdir) Allah. Karenanya, ia diposisikan sebagai stimulus dari Allah, seperti yang ditegaskan di dalam Alquran.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS at-Taghaabuun: 11)

Dengan paham di atas, musibah secara bahasa adalah tertimpa atau terkenai. Sedangkan, secara istilah ialah peristiwa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi umatnya pada umur 40 hari (dalam riwayat lain 40 malam) di rahim ibu.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah bersabda, “
Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya (menulis) 4 perkara: (1) ketentuan rezekinya, (2) ketentuan ajalnya, (3) amalnya, (4) ia celaka atau bahagia....” (HR Bukhari-Muslim).

Di sini, ada dua perbedaan yang mencolok dalam memaknai musibah. Dari sisi makhluk, manusia tidak bisa mendeteksi kapan datang dan perginya. Di sisi lain, Allah telah menentukan waktu terjadinya musibah. Jadi, ada semacam perjanjian ghaib antara Allah dan makhluk-Nya.

Di balik musibah ada hikmah, tetapi manusia tidak menyadarinya dan bahkan ada yang tidak mau menerimanya berupa sikap tidak mau tertimpa musibah.

Buktinya, mereka menganggapnya sebagai bencana atau hal-hal negatif dan menakutkan, bahkan azab. Musibah yang paling ditakuti oleh semua orang adalah kehilangan orang tua, terutama ibu kandung. Namun siapa kira, di balik musibah ini ada hikmah kesuksesan.

Dari i'tibar itu, ketaatan dan ingkar menjadi jawaban ketika ditimpa musibah. Taat dan ingkar merupakan sikap seseorang terhadap zat yang ghaib (yang berkaitan dengan rukun Iman).

Taat berarti patuh terhadap tugas dan kewajiban disertai tanggung jawab. Sedangkan, ingkar adalah bentuk perlawanan terhadap perintah.

Lalu, apa yang Anda lakukan jika mendapat musibah? Misalkan kecelakaan, yang menyebabkan kaki Anda patah.

Apakah Anda masih tetap berjuang mendirikan shalat, ataukah Anda berhenti dengan alasan kecelakaan? Tentu, sikap Anda sangat ditentukan oleh kualitas ketaatan Anda.

Jika ketaatan Anda hanya berdasarkan rasa takut, pasti Anda akan mengambil sikap untuk beristirahat. Akan tetapi, jika didasari oleh takwa, Anda tetap berjuang untuk bisa mendirikan shalat. Wallahu a'lam.  [yy/
republika.co.id]

Oleh Abdul Karim DS