12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Manusia Pemakan Api Neraka

Fiqhislam.com - Neraka adalah tempat paling buruk untuk berlabuh di akhirat kelak. Neraka sebagai simbol segala keburukan yang paling mengenaskan wajib kita hindari. Jangan pasrah akan keadaan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahil dan ahli maksiat. Mereka tidak mau bertaubat karena beranggapan bisa menahan siksa di neraka, nadudzubillah min dzaalik.

Astaghfirullah, padahal siapapun yang masuk neraka maka ia akan dihinakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Belum lagi segala siksa yang akan dijatuhkan pada penghuninya, siapapun tidak akan tahan terhadap semua itu. Bagaimana mungkin seseorang selamat dan bisa bertahan di neraka, sedangkan terbakar oleh api di dunia saja sudah tidak bisa tahan. Padahal panasnya api di neraka 70 kali dari panasnya api di dunia ini yang paling panas.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam bersabda:

Api kalian, yang dinyalakan oleh anak Adam, hanyalah satu dari 70 bagian nyala api Jahannam. Para shahabat kemudian mengatakan, ‘Demi Allah! Jika sepanas ini saja niscaya sudah cukup wahai Rasulullah!’ Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya masih ada 69 bagian lagi, masing-masingnya semisal dengan nyala api ini’.

Inilah si Pemakan Api Neraka

Sungguh tidak ada seorangpun yang akan bisa menolong kita dari adzab Allah di neraka. Dan itulah kehinaan yang sangat besar. Tempat tinggal paling buruk yang pernah ada. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam salah satu ayat Alquran:

“Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [QS. Furqan : 66]

Tapi, tahukah Anda bahwa ada seorang manusia yang dia termasuk sebagai manusia pemakan api neraka? Meskipun masih di dunia, sejatinya mereka telah memesan api neraka untuk ditelan ke dalam perutnya kelak, astaghfirullah.

Kenapa bisa disebut pemakan api neraka? Siapa sebenarnya manusia pemakan api neraka tersebut, apakah ada lebih dari satu? Jawabannya, silakan simak firman Allah Ta’ala dalam salah satu ayat Alquran berikut ini:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” [QS. An-Nisa’: 10]

Sebagaimana juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui haditsnya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa memakan harta anak yatim termasuk salah satu dosa dari 7 dosa yang membinasakan. Hadits shahih tersebut diriwayatkan oleh Bukhari no 2766 dan Muslim no 89.

begitu besarnya dosa mendzalimi anak yatim sehingga Rasulillah menyatakan bahwa pelakunya sama dengan memakan api neraka yang begitu panas. Oleh karena itu jangan sekali-kali dzalim terhadap anak yatim sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Lindungi dan Peliharalah Anak Yatim

Anak yatim yang dimaksud bisa anak yatim yaitu anak yang ditinggal meninggal oleh ayahnya maupun yatim piatu dimana ia tidak memiliki ayah dan ibu. Dan maksud dari dzalim terhadap anak yatim bukan hanya memukul anak yatim atau menyakiti secara fisik saja, melainkan juga menggunakan harta milik anak tersebut yang ditinggal mati ayahnya untuk kepentingan pribadi.

Dalam kisah nyata sering kita lihat ada orang terdekat baik paman maupun kerabat dekat yang memanfaatkan harta peninggalan seorang anak yatim piatu untuk kepentingannya. Mereka membohongi si anak yatim piatu dengan memindahkan ke rumah paman atau kerabatnya dengan alasan untuk dirawat dan dipelihara. Padahal maksud sebenarnya mereka hanya ingin menguasai harta warisan si anak tersebut.

Begitu juga dengan anak yatim yang masih mempunyai ibu. Seseorang terkadang menikahi ibu dari anak yatim tersebut hanya untuk menguasai hartanya. Maka hal itu termasuk juga memakan dan mendzalimi anak yatim, dan termasuk dalam kategori manusia pemakan api neraka.

Ancaman api neraka ini menunjukkan bahwa dosa ini termasuk salah satu dosa besar yang ganjarannya adalah neraka. Memakan harta anak yatim tidak hanya berarti menggunakan harta untuk makan tapi lebih umum lagi menggunakan harta bukan untuk keperluan dan kepentingan anak yatim.

Berbeda halnya apabila pengasuh anak yatim piatu sebatang kara termasuk kerabat yang miskin, maka ia boleh menggunakan harta anak yatim tersebut secara wajar dan tidak berlebihan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam salah satu ayat Alquran:

“Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.” [QS. An-Nisa’: 6]

Demikianlah penjelasan tentang manusia pemakan api neraka. Begitu berat ancaman untuk orang-orang yang menelantarkan anak yatim dan hanya memakan harta peninggalan ayahnya. Namun, sebaliknya penghargaan sangat besar bagi orang-orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim. Bahkan Rasulullah telah bersabda bahwa orang yang memelihara anak yatim di dalam surga dikiaskan seperti jari tengah dan jari telunjuk, saling berdampingan.

Oleh Ari Tunsa
yy/viva