18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Rezeki Mencari Kita

Sesungguhnya rezeki itu mencari seorang hamba jauh lebih banyak daripada apa yang dicari oleh ajalnya,” (Riwayat Thabrani melalui Abu Daud).

Rezeki Mencari Kita

Fiqhislam.com - Sungguh luar biasa Allah SWT menjamin hamba-hambaNya di alam semesta ini. Dalam hadist ini jelas, rezeki pasti datang lebih banyak ketimbang maut yang datang hanya sekali. Ada hal menarik dari redaksional “rezeki mencari seorang hamba”, jika kita telusuri ini kebalikan dari pemikiran awam, bahwa selama ini banyak yang menggunakan ungkapan: carilah rezeki yang bertebaran di muka bumi.

Artinya, kita harus aktif menjemput rezeki, yang dijanjikan Allah bisa datang dari mana saja, yang tidak kita sangka. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S At Thalaaq : 3)

Hadist itu menegaskan bahwa “rezeki juga mencari seorang hamba”, bukan hanya luar biasa, tapibisa juga menjadi semakin sulit. Dalam hal ini kesulitannya rezeki tak pernah mengatakan akan turun di mana, rezeki juga tak bilang kapan dan akan datang. Memang ada rezeki yang sudah jelas mengatakan turun di mana dan kapan, yakni gaji bulanan kita—itu pun jika kita bekerja tetap dan dibayar bulanan.

Harus kita yakini pula bahwa rezeki kita dalam satu rumah tak akan dikurangi oleh Allah SWT, walaupun yang bekerja hanya satu orang saja misalnya. Dan juga dalam setiap rezeki yang kita terima ada sebagian merupakan haknya istri, anak-anak, kerabat, anak yatim piatu, dan fakir miskin. Haknya orang lain itu bisa berupa nafkah buat anak istri, selebihnya bisa infak, sedekah, atau hadiah. Wajib hukumnya kita menjaga rezeki kita agar tak hilang atau jatuh kepada yang tidak berhak.

Bukannya tak bersyukur dengan rezeki “pasti” yang Allah berikan melalui gaji bulanan, seringkali kita tak cukup dengan gaji bulanan. Sehingga masih harus mencari rezeki selain gaji. Rezeki selain gaji bisa juga ada yang pasti, misalnya mereka yang bekerja part time, atau bekerja berdasar pesanan per pekerjaan atau lewat perniagaan. Seringkali lebih banyak rezeki yang tak pasti, seperti dari hasil usaha. Siapa yang bisa menjamin setiap bulan usaha kita memberikan rezeki yang sama dengan bulan lalu?

Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya, kerana sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, iaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah).

Hadist itu menegaskan bahwa Allah jelas akan memberikan rezeki kepada setiap orang tanpa menguranginya hingga  ajal datang, yang disebutkan hadist ini sebagai “rezeki terakhir”.

Upaya untuk menjemput rezeki “yang belum pasti” itu adalah dengan ikhtiar yang baik, agar rezeki yang datang pun halal. Selain itu juga didukung dengan doa. Amalan lain yang dituntun Nabi adalah shalat Dhuha, yang di antara fadhilahnya adalah untuk membuka pintu rezeki kita. Doa dan salat Dhuha ibarat ponsel, menelepon “sang rezeki” untuk janjian di mana kita bertemu. Percaya atau tidak, sering kali panggilan rezeki dari ponsel doa dan Dhuha itu, lebih sering terjawab daripada tidak.

Inilah hikmah bahwa “rezeki” tidak bisa dilihat dengan wadag, utamanya agar kita selalu bersyukur, selalu berikhtiar dan selalu ingat bahwa di antara rezeki kita ada bagian atau hak orang lain. Sejatinya, rezeki itu ada pintunya di langit.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang hamba memiliki dua pintu di langit. Pintu yang menjadi keluarnya rezeki dan pintu yang menjadi masuknya amal dan perkataan baiknya. Jika ia meninggal dunia, dua pintu langit itu akan merasa kehilangan dan akan menangisinya.” Kemudian SAW membaca ayat, ‘Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka.’ Disebutkan demikian, kerana mereka tidak memiliki amal soleh di atas muka bumi yang membuat bumi menangisi kematian mereka (Fir’aun dan bala tentaranya). Dan mereka juga tidak memiliki amalan dan perkataan yang baik, yang naik ke langit sehingga langit itu tidak merasa kehilangan dan tidak pula menangisi mereka”,.” (Riwayat Abu Ya’la dan At-Tirmidzi).

Marilah perbanyak doa dan salat dhuha agar kita bisa selalu berkomunikasi dengan “sang rezeki”, agar pintu rezeki di langit mudah dibukakan kepada kita. Doa dan Dhuha akan mempermudah “rezeki mencari kita”. Agar rezeki tak kesulitan mencari kita, apalagi sampai pintu rezeki menangis. Bisa jadi selama ini pintu rezeki selalu melihat kita, sementara kita tak melihatnya. Wa’allahu alam bi shawab.

yy/islampos.com

 

Shalat Dhuha Setiap Hari Hingga Seperti Wajib

Pentingnya Doa

Agar Doa Kita Tak Tertolak

Doa Yang Tak Lagi Didengar

Rahasia Doa yang Paling Baik dan Paling Utama

Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat Berdoa

INDEKS HADITS:  DOA