18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Tawadhu Dalam Ibadah

Tawadhu Dalam Ibadah

Fiqhislam.com - Merupakan suatu karunia besar manakala seorang Muslim dimudahkan jalan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya.

Seorang yang dapat menunaikan shalat, puasa, sedekah/zakat, dan berhaji hendaknya banyak bersyukur kepada Allah karena ia dapat melaksanakan beberapa kewajiban yang telah ditetapkan baginya.

Sebab, tidak sedikit orang Islam yang walaupun telah diberi kelapangan atau keleluasaan secara fisik, ekonomi, maupun sosial, namun begitu sulit untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut.

Setelah bersyukur atas kemudahan dalam beribadah, hendaknya setiap Muslim menumbuhkan rasa takutnya kepada Allah berkenaan dengan pelaksanaan ibadahnya.

Sebab boleh jadi, Allah tidak berkenan menerima ibadahnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Athaillah, “Boleh jadi Allah membuka pintu-pintu ketaatan bagimu, tapi Ia tidak membuka pintu pengabulan (diterimanya amal).

Salah satu hal yang dapat menghalangi diterimanya ibadah seorang hamba adalah kurangnya tawadhu dan timbulnya rasa bangga atau sombong atas ibadah/kebaikan yang telah diperbuatnya. Hal itu menunjukkan kurangnya keikhlasan dalam beramal.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS al-Bayyinah [98]: 5).

Modal beribadah yang ikhlas adalah takwa kepada Allah SWT. Ketakwaan yang dapat mendorong seorang hamba menetapkan tujuan ibadah yang lurus dan benar (mendapat ridha Allah, bukan ridha manusia lain), dan mengarahkan agar melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntutan-Nya (bukan sesuai dengan keinginan pribadi atau keinginan orang lain).

Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan berkenaan dengan masalah ini, “Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal. Karena sesungguhnya, sedikit amalan yang disertai takwa justru lebih baik. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima tanpa ketakwaan?

Kebanggaan dan kesombongan dalam beribadah tidak akan lahir dari ketakwaan kepada Allah SWT. Sebaliknya, ia lahir dari jiwa yang tamak dan rakus terhadap penghargaan dari sesama manusia. Kebanggaan timbul karena ia merasa telah mampu melakukan ibadah/kebaikan yang belum tentu dapat dilaksanakan orang lain.

Kesombongan lahir dari perasaan dirinya lebih baik dari orang lain yang dianggapnya lebih sedikit amalnya atau bahkan orang lain yang dianggap berdosa.

Ibnu Athaillah lagi-lagi mengingatkan, “Perbuatan dosa yang melahirkan perasaan hina dan rendah hati lebih baik dari ketaatan yang melahirkan ujub dan sombong.

Sungguh tragis kenyataan yang harus dihadapi di yaumil hisab (Hari Perhitungan) kelak bagi orang yang tidak tawadhu dalam beribadah disebabkan kebanggaan diri dan kesombongannya. Wallahu a’lam.

Oleh Reti Riseti S
yy/republika.co.id