27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Keluar dari Hutang

Keluar dari Hutang

Fiqhislam.com - Apakah Anda sedang mengalami salah satu kondisi di bawah ini atau bahkan lebih dari satu kondisi?

  1. Sedang berutang untuk membeli barang kebutuhan?
  2. Tidur tidak nyenyak karena dikejar hutang?
  3. Makan tidak nafsu karena selalu dibayangi hutang?
  4. Jadi raja utang?
  5. Sedang memegangi kepala karena hutang bertambah banyak?
  6. Merasa hutang sepertinya tidak akan pernah terlunasi?
  7. Dikejar kejar Debt Collector tiap hari tiap waktu?
  8. Sertifikat rumah tidak bisa ditebus bahkan sedang diambang lelang?
  9. Punya bisnis besar tapi hutang juga besar?
  10. Punya satu hutang dibayar dengan hutang lain?
  11. Tambah tua tambah berhutang?
  12. Handphone terpaksa dimatikan karena takut ditagih?
  13. Merasa enggan beraktivitas karena terlalu berat mikir hutang?

Hidup manusia memang penuh cobaan, jalan terjal penuh berliku yang terkadang menjadikan kita berputus asa, termasuk urusan rezeki. Bisnis yang dulu berjaya tiba-tiba merugi, hutang menumpuk dimana-mana dan sebagainya.Padahal kita merasa sudah berupaya semaksimal mungkin mengatasinya, namun tetap saja belum membuahkan hasil.

Hal utama yang perlu dan patut kita renungkan adalah dengan introspeksi yaitu dengan sebuah pertanyaan sejauh mana usaha kita tersebut? Usaha manusia mencakup dua dimensi, yaitu lahiriah dan batiniah. Biasanya usaha batiniah yang sering kita lupakan. Ujung-ujungnya ketika kita menghadapi kendala dalam usaha, kita langsung memvonis bahwa Tuhan tidak adil. Padahal, Dia selalu menolong hamba-Nya, namun kita sendiri yang tidak mau meminta pertolongan-Nya.

Salah satu contoh cerita yang sangat termasyur. Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW memasuki masjid. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah duduk lama di dalam masjid, pemuda itu bernama Abu Umamah. Rasulullah SAW bertanya kepadanya : “Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid pada waktu-waktu di luar shalat?” Abu Umamah menjawab, “Aku sedang dilanda kesusahan dan dililit hutang-hutang wahai Rasulullah.” Rasulullah kemudian bersabda kepadanya, “Ketauhilah aku akan mengajarkan kepadamu ucapan yang apabila engkau mengucapkannya, maka Allah SWT akan menyingkirkan kesedihan dan membayarkan hutang-hutangmu. Ucapkanlah pada waktu pagi dan sore.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu: “Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas semua hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan. Di dalam doa tersebut terdapat beberapa permohonan agar Allah ta’aala lindungi seseorang dari beberapa masalah dalam hidupnya. Dan segenap masalah tersebut ternyata sangat berkorelasi dengan keadaan seseorang yang sedang dililit hutang.

Namun, setelah itu yang harus kita lakukan juga adalah jangan hanya berdoa saja. Nabi saja berdarah-darah dahulu ketika akan menegakkan Islam. Jadi bekerja, berdoa, jauhi maksiat, dan lihatlah hasilnya.

yy/islampos.com