<
pustaka.png
basmalah.png

Mengerang Ketika Sakit

Mengerang Ketika Sakit

Fiqhislam.com - Kita diperintahkan agar bersabar dalam berbagai hal, ketika beramal melakukan kebaikan, ketika menahan diri melakukan kemaksiatan dan ketika mendapat musibah. Lebih Baik lagi jika bersabar dengan puncak kesabaran. Karena pahala kesabaran bisa dibalas dengan pahala yang tidak terhingga. Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (Surat Az Zumar : 10).
 
Salah satu bentuk kesempurnaan kesabaran ketika mendapat musibah sakit yaitu tidak mengerang ketika kesakitan. Imam Ahmad rahimahullah ditegur karena Hal ini. Berikut kisahnya:
 
Salah seorang sahabat Imam Ahmad menjenguknya ketika sakit, ia mendapati Imam ahmad mengerang karena sakit. Maka ia berkata, ‘wahai Abu Abdillah (nama kunyah Imam Ahmad), engkau mengerang? (maksudnya, ahli ilmu seperti engkau kok mengerang ketika sakit), padahal Thawuus telah berkata, ‘sesungguhnya malaikat menulis sampai erangan ketika sakit’, karena Allah berfirman, ‘Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir;.[1]
Shalih bin Imam Ahmad berkata,
Ayahku berkata ketika sakit yang mengantarkan kepada kematiannya, ‘keluarkan buku hadits Abdullah bin Idris’. Kemudian ia berkata, ‘bacakan kepadaku hadits Laits’. Adalah Thawuus membenci  mengerang ketika sakit, maka aku tidak lagi mendengar erangan dari ayahku samapi beliau wafat.[2]
Sebenarnya mengerang yang dibenci adalah karena bentuk tidak ridho atau sedikit tidak suka terhadap penyakit, mengerang otomatis karena rasa sakit maka ini tidak mengapa.Jika bisa ditahan maka sebaiknya ditahan karena lebih menunjukkan ridho terhadap takdir Allah.
 
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
Tidak diragukan lagi bahwa erangan ketika sakit jika muncul dari rasa marah (tidak terima takdir) maka inilah yang ditulis (sebagai dosa). Adapun jika muncul akibat demam (misalnya), maka sesungguhnya Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.[3]
Jika mengingat kembali pahala kesabaran dan keutamaan kesabaran atas musibah penyakit dengan keimanan yang kuat tentu kita bisa bersabar.
 
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.[4]
Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.[5]
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.[6]
dr. Raehanul Bahraen
yy/nabawia.com
 

[1] Syarh Akidah Al-Wasiitiyyah syaikh Ibnu Utsaimin hal. 40, Darul Akidah, Koiro, cet. I, 1424 H
[2] Siyar A’lam An-Nubala 11/215, Muassasah Risalah, cet. III, 1405 H, syamilah
[3] Syarh Al-Akidah As-safariyah hal. 329, Syamilah
[4] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Sahihah: 2206.
[5] HR. Muslim no. 2572
[6] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan sahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399
 
top