Bagaimana Seharusnya Memandang Dunia?

Bagaimana Seharusnya Memandang Dunia?

Fiqhislam.com - Tirmidzi meriwayatkan, dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata: “Rasulullah SAW tidur di atas tikar dan ketika bangun berbekaslah tikar itu pada belakangnya, lalu kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana seandainya kami buatkan untukmu tilam yang lunak?’ Beliau bersabda, ‘Untuk apa dunia ini bagiku? Aku di dunia ini bagaikan seorang musafir, berhenti sebentar di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya’.

Jadi, begitulah kiranya kita harus memandang dunia ini. Tak lebih dari pondok kecil dalam perjalanan yang panjang. Sungguh bodoh kalau kita samapai terpaku di pondok itu sehingga melupakan perjalanan panjang yang jadi tujuan kita. Jelaslah bahwa segenap aktivitias kita di muka bumi ini harusnya diarahkan untuk akhirat kita, yang kekal abadi. Seperti pernah dinyatakan oleh ulam besar kita, Hamka semasa hidupnya, “Hidup yang sesungguhnya itu baru dimulai pada saat kita mati.

Disabdakan lagi oleh Rasulullah SAW dalam analogi lain: “Dunia ini bagaikan penjara bagi orang mukmin dan bagaikan syurga bagi orang-orang kafir.

Dalam Surah al-Hadid 57: 20, Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Memang manusia diciptakan denagan fitrah cenderung terhadap kesenangan dunia, dan ini boleh meningkat menjadi kecintaan. Itu merupakan ketentuan ALLAH SWT, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Surah Ali Imran 3: 14)

Tetapi, jika kecenderungan ini tidak dikendalikan, maka tumbuhlah sifat tamak pada manusia, sehingga seperti dikatakan Rasul, apabila diberi dua lembah penuh berisi emas, pasti ia akan mengkehendaki lagi lemabah ketiga yang penuh berisi emas.

Inilah yang harus diatur dan diarahkan. Allah tidak melarang manusia untuk menikmati dunia ini, tetapi ada batas-batas yang harus dipatuhi, sebagaimana firmannya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Surah al-Qashash 28: 77).

yy/islampos.com

Download hanya digunakan pada browser eksternal