11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Mengimbangi Ilmu dengan Amal

Mengimbangi Ilmu dengan Amal

Fiqhislam.com - Antara ilmu dan amal ada keterkaitan erat. Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Amal tanpa ilmu, laksana pohon tak berakar.

Ada yang salah dengan cara para pelajar masa kini dalam upaya menuntut ilmu. Mereka seharusnya mampu menghayati ilmu yang mereka pelajari sehingga semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa hal menjadi catatan pribadinya.

Pertama, mereka paham semua itu dilarang, tapi terus melakukan. Penyebabnya mereka tidak dekat dengan Allah. Mereka berilmu tapi hati mereka masih hampa dari sentuhan spiritual.

"Al-Ghazali menyebutnya rajulun yadri annahu la yadri, artinya seseorang yang mengetahui tapi sebenarnya tidak," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Assalam, Plered, Purwakarta, Ustaz Muhtar Sadili.
 
Muhtar prihatin dengan kondisi pelajar saat ini. Sebagian dari mereka terlibat dalam tawuran antarpelajar, mengonsumsi narkoba, dan melakukan perzinahan. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan 70 persen dari total sekitar empat juta pecandu narkoba di seluruh Indonesia adalah pelajar.

Pelajar yang terlibat tawuran ada saja. Seks bebas juga tidak lepas dari mereka. “Mereka tahu semua itu maksiat, tapi tetap saja mereka lakukan, bahkan menikmatinya,” kata Muhtar.

Orang-orang seperti ini, menurutnya, tidak bisa menjadi panutan masyarakat, karena belum mampu mengarahkan dan membimbing mereka. “Bahaya,” ujarnya.

Namanya ilmu, papar Muhtar, harus diiringi dengan amal. Amal ini akan mempunyai nilai jika dilandasi dengan ilmu, begitu juga dengan ilmu akan mempunyai nilai atau makna jika diiringi dengan amal. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam perilaku manusia. Suatu perpaduan yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia, yaitu setelah berilmu lalu beramal.

Pengertian amal dalam pandangan Islam adalah setiap amal saleh atau setiap perbuatan kebajikan yang diridai oleh Allah SWT. Amal dalam Islam tidak hanya terbatas pada ibadah, sebagaimana ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu fikih dan hukum-hukum agama. Ilmu dalam hal ini mencakup semua yang bermanfaat bagi manusia, seperti meliputi ilmu agama, ilmu alam, dan ilmu sosial.

Mengiringi ilmu dengan amal merupakan keharusan.  Muhtar menjelaskan, ilmu adalah pemimpin dan pembimbing amal perbuatan. Amal bisa lurus dan berkembang bila didasari ilmu. Berbuat tanpa didasari pengetahuan tidak ubahnya dengan berjalan bukan di jalan yang benar, tidak mendekatkan pada tujuan melainkan menjauhkan.

Ibadah harus disertai dengan ilmu. Jika ada orang yang melakukan ibadah tanpa didasari ilmu tidak ubahnya dengan orang yang mendirikan bangunan di tengah malam dan kemudian menghancurkannya di siang hari.

Begitu juga, hal inipun berlaku pada amal perbuatan yang lain, dalam berbagai bidang. Memimpin sebuah negara, misalnya, harus dengan ilmu. “Negara yang dipimpin oleh orang bodoh akan dilanda kekacauan dan kehancuran,” jelasnya.

Ilmu dan amal saling beriringan. Barang siapa berilmu maka dia harus berbuat, baik itu ilmu yang berhubungan dengan masalah ibadah maupun ilmu-ilmu yang lain. Tidak ada faedahnya ilmu yang tidak diamalkan.

Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak berbuah. “Kassyajari bila tsamarin,” ungkapnya.

Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Islam Arrohmaniyyah Serpong Ustaz H Abdul Rojak menyatakan, ilmu tanpa diiringi dengan amal maka hanya berupa konsep-konsep. “Apa faedahnya ilmu teoretis jika kita tidak menerjemahkannya menjadi tindakan nyata,” paparnya.

Dia menyatakan, menuntut ilmu dengan cara yang benar adalah disertai dengan pendekatan kepada Allah. Cara seperti itu akan membuat seorang yang berilmu terhindar dari maksiat. Ilmu yang dipelajarinya akan linear atau sejajar dengan tingkah laku.

Dia akan memiliki akhlak terpuji. Dia akan mencontoh Rasulullah yang merupakan teladan terbaik bagi seluruh alam. “Akhlak ini akan membuat semua makhluk tunduk. Dan ini hanya dimiliki orang berilmu,” paparnya.

Rojak menjelaskan ilmu adalah pemimpin. Amal adalah pengikutnya. Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Ilmu diiringi dengan perbuatan. Barang siapa berilmu maka dia harus berbuat. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya.”

Pertalian ilmu dengan amal tidak hanya dituntut dari para pelajar agama dan para ahli yang mendalami suatu ilmu. Menurut Rojak, setiap orang, baik yang memiliki ilmu sedikit ataupun banyak dalam bidang apa pun, harus mengamalkan ilmunya.

Orang berilmu bertanggung jawab untuk mengamalkannya. Dia mengutip firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sungguh besar murka Allah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS as-Shaaf [61] : 2-3).” 

llmu amat tinggi kedudukannya di dalam Islam. Demikian pula mereka yang mengajarkan dan menyebarkannya.

Tak sedikit orang pandai, namun banyak yang lupa kepada guru yang sudah mengajarkannya, seolah-olah kepandaian dan kekayaan ilmunya menjadi dengan sendirinya tanpa sentuhan dan doa para guru.

Memuliakan guru

“Islam sangat menganjurkan agar umatnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka,” jelas Ketua Pelaksana Majlis Azzikra, Ustaz Abdul Syukur Yusuf, kepada Republika, Selasa (23/3).

Dia mengatakan, Syaikh az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim Muta'allim menjelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila di hadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya.

“Ini hanya contoh, tidak mutlak seperti itu,” jelasnya. Banyak cara menunjukkan kecintaan atau penghormatan kepada guru. Yang kerap dilakukan saat ini adalah mencium tangan guru. Ada juga murid yang mengekspresikan kecintaan kepada guru dengan diam. Namun, di dalam hatinya penuh kecintaan kepada guru.

Yang paling penting, menurutnya, adalah rendah diri. Murid harus berendah diri atau tawadhu. Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu murid terhadap gurunya.

Keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawadhu murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia si murid. Sikap tunduk murid kepada guru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.

Perilaku para sahabat, yang memperoleh pendidikan langsung dari Rasulullah SAW, patut dijadikan contoh. Ibnu Abbas, sahabat mulia yang amat dekat dengan Rasulullah mempersilakan Zaid Bin Tsabit untuk naik di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntunnya.

“Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami,” ucap Ibnu Abbas. Zaid bin Tsabit sendiri mencium tangan Ibnu Abbas. “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah,” balas Zaid.

Para generasi salaf sangat hormat terhadap ulama mereka. Terhadap Said bin Musayyib, fakih tabi’in, orang-orang tidak akan bertanya sesuatu kepadanya kecuali meminta izin terlebih dahulu, seperti layaknya seseorang yang sedang berhadapan dengan khalifah.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aziziyah, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, KH Aziz Masyhuri meminta agar para pencari ilmu menghormati guru mereka. Guru adalah perantara utama tersalurkannya ilmu. Tunaikan hak-hak mereka. Jaga etika bertanya.

Adab bertanya kepada guru penting diperhatikan. Mengajukan pertanyaan kepada guru hendaknya tidak dimaksudkan untuk mengusili atau mengerjai sang guru. "Ini sangat tidak etis," katanya.

Termasuk adab dan penghormatan terhadap guru, ungkapnya, ialah menutupi aib. Laksanakan perintah guru, selama itu tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang digariskan oleh Allah SWT. Ia menukilkan kisah dari Imam Syafi'i.

Konon, pendiri Mazhab Syafi'i itu sangat hormat terhadap para gurunya. Satu di antaranya ialah Imam Malik. Dikisahkan,  pencetus Mazhab Syafi'i itu selalu berhati-hati membuka lembaran kitab jika berada di depan sang guru, Imam Malik. "Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kertas," kata Syafi'i.

yy/republika.co.id