fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Memulai Kehidupan Lebih Baik dengan Syahadat

Memulai Kehidupan Lebih Baik dengan Syahadat

Fiqhislam.com - Sebagaimana kita ketahui, rukun Islam itu ada lima. Yaitu syahadat, salat, saum, zakat, dan haji. Sebagai rukun yang pertama, syahadat sangat penting.

Kalau syahadat kita rusak, maka keempat rukun lainnya pun turut rusak meski berapa kali pun empat rukun yang lain itu dilakukan. Misalnya, orang yang salat tidak diterima salatnya jika dia tidak bersyahadat.

Demikian juga sebaliknya. Nikmat dan lezatnya salat, saum, zakat dan haji itu bergantung pada makin kuat dan kokohnya syahadat. Kuncinya adalah syahadat. Sehingga kalau ada yang bertanya, Dari mana saya harus memulai hidup yang lebih baik? maka jawabannya adalah syahadat.

Nah, kemampuan bersyahadat yang paling pokok pertama adalah menafikan sesuatu yang telah menjadi illah bagi kita. Illah yang dimaksud merupakan sesuatu yang mendominasi hati kita, sehingga hati kita penuh olehnya. Misalkan kalau ingin mengobrol, maka yang diobrolkan dia. Atau, sedikit-sedikit teringat padanya, dan ingin selalu di dekatnya. Bersamanya merasa bahagia dalam tanda kutip, dan menderita bila jauh darinya. Serta rela berkorban apa saja untuknya.

Seperti harta atau uang. Ada orang yang siang dan malam selalu memikirkan uang, bagaimana ini dan ini menjadi uang. Merasa paling enak mengobrolkan tentang uang, dan bergaul dengan orang yang menghasilkan uang. Dia merasa bangga dan mulia dengan adanya uang, serta galau dan gelisah saat tidak ada uang. Maka jadilah uang menjadi illah-nya.

Orang yang meng-illah-kan uang dijamin tidak akan pernah bahagia, walaupun uangnya melimpah ruah. Sebab uang hanyalah kertas yang tidak mengerti apa-apa, dan tidak bisa membikin kita bahagia. Yang bisa membuat kita bahagia cuma penggenggam hati kita, yaitu Allah SWT.

Ada juga yang illah-nya pangkat, jabatan, atau kedudukan. Bahwa bagaimana karirnya mulus, bisa punya pangkat, jabatan, atau kedudukan. Dia membayangkan dirinya dihormati, dikagumi dan akan mulia dengan illah-nya ini, sehingga dia berjuang kasak-kusuk untuk meraih atau pun mempertahankannya.

Dia dengki kepada yang kira-kira dianggap pesaing, serta amat terluka dan merasa terhina kalau illah-nya ini gagal didapat atau diambil lagi darinya. Padahal setinggi apa pun pangkat, jabatan atau kedudukan yang dia dapatkan, dengan kasak-kusuk begitu dia justru makin terus tersiksa.

Ada lagi yang menuhankan ilmu atau gelar. Seperti merasa nikmat kalau gelarnya disebut. Misalkan ada yang nama aslinya, Heri Irawan Syamsuddin Mukhtar Affin. Maka nama itu disingkatnya jadi H. Ir. Syamsuddin, MA. Tapi ketika ujung namanya Ali Mahfudin, dia tidak mau menyingkatnya jadi ALM. Atau, misalnya, Perkenalkan nama saya Hajjah Atikah. Padahal, Siti Aisyah ra juga tidak disebut Hj. Aisyah. Kecuali kalau ada yang bertanya, Siapa yang sudah pernah ke Mekkah? Jawablah saya dan biasa saja.

Bukan tidak boleh punya gelar, tapi jangan diperbudaknya olehnya. Seperti kalau gelar tidak disebutkan dada terasa sesak. Bayangkan saya kuliah bertahun-tahun dengan biaya luar biasa, tapi gelar saya tidak disebut, sakitnya sampai di sini, di sini, dan di sini. Tentunya, kita juga tidak boleh berburuk sangka kepada yang memasang gelarnya, karena itu hak dia. Tapi kalau kita memiliki gelar, tidak perlu selalu menampilkannya jika bukan pada tempatnya.

Contoh illah lainnya adalah pujian. Seperti ingin terlihat ganteng, cantik, pintar, hebat, jetset, pokoknya bagaimana dia bisa tampak keren dalam pandangan makhluk. orang-orang yang seperti ini cenderung munafik hidupnya. Misalkan dia membeli tas yang sangat mahal agar tampak keren, padahal dia tidak tahu bagaimana hisab tas itu nanti.

Dia mencicil apa pun demi dipuji orang. Atau, sekuat tenaga mengolah tubuhnya serta habis-habisan pergi ke salon supaya terlihat atletis, cantik, gagah dan langsing. Padahal bagaimana mungkin, misalnya, orang yang menahan nafas seharian dan kekurangan oksigen agar tampak langsing itu tidak menderita? Yang menuhankan penilaian makhluk tidak akan bahagia.

Sama halnya dengan yang menuhankan popularitas. Karena merasa dengan terkenal dan dikagumi hidupnya akan bahagia, maka dia misalnya membeli folower facebook, twitter, atau instagram. Atau terus berupaya eksis di media sosial, sehingga kalau orang lain berdoa dulu sebelum makan, tapi dia sebelum makan selfie dulu. Atau, rajin membangunkan teman-temannya salat tahajud, tapi sesudah itu dia langsung tidur lagi.

Jangan menuhankan popularitas, karena untuk apa? Seperti ada yang ingin sekali masuk koran, majalah atau televisi. Apa misalkan kalau kita sudah masuk koran dan dipuji tetangga lalu kita jadi mulia? Tidak! Tidak usah aneh dengan ingin terkenal. Karena kata orang yang sudah mencobanya, terkenal itu tidak ada apa-apanya dan cenderung munafik. Kata orang itu, dan orang itu sering berceramah di Daarut Tauhiid.

Sahabat Nabi saw ada banyak, tetapi yang dikenal hanya sebagian. Sebagian besarnya tidak dikenal, tapi mereka dikenal oleh penduduk langit dan menjadi ahli surga. Yang penting bagi kita terkenal di sisi Allah serta para malaikat dan bahkan binatang yang dikehendaki-Nya. Seperti para waliullah. Ketika meninggal mayatnya tidak dimakan oleh belatung, sebab belatung mengenalinya sebagai kekasih Allah. Ini baru asli terkenal.

Contoh terakhir, menuhankan suami atau istri. Sebagaimana telah sering dijelaskan, seperti kalimat orang-orang musyrikin,Pasanganku, engkau bagaikan oksigen bagiku, aku tak dapat hidup tanpamu. Seluruh hidupku hanya untukmu, dan aku mau berbuat apa pun demi kamu. Yang begini sudah pasti tidak bahagia. Termasuk bagi yang pacaran, bersiap-siaplah menjadi Tuhan.

Karena suami atau istri bukanlah Tuhan. Pendamping hidup kita itu cumalah makhluk, yang tidak punya apa-apa kecuali Allah yang menitipkan, tidak berdaya kecuali Allah yang menguatkan, bodoh kecuali Allah yang memberi tahu, serta kotor dan hina kecuali Allah yang telah menutupi aib-aibnya. Jadi, misalnya para suami jangan merasa sok keren, sebab kita sama sekali tidak ada apa-apanya. Kecuali menjadi suami yang saleh, dan doa kita didengar oleh Allah SWT.

Masih banyak contoh illah-illah yang lain. Tapi yang penting di sini adalah mari kita bersama-sama memeriksa diri kita masing-masing. Sejauh mana kelezatan dan kenikmatan salat, saum, zakat, atau haji yang sudah kita rasakan? Mari kita lebih sering bersyahadat,Saya bersaksi tiada illahselain Allah, dan saya bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.

Oleh KH Abdullah Gymnastiar
yy/inilah