<
pustaka.png
basmalah.png

Antara Sabar dan Syukur

Antara Sabar dan Syukur

Fiqhislam.com - Sabda Nabi SAW, “Sungguh menakjubkan atas orang beriman, bahwa semua urusannya baik bagi dirinya. Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Apabila diberi sesuatu yang menyenangkan, ia akan bersyukur, dan apabila diberi musibah/sesuatu yang tidak menyenangkan, ia akan bersabar. Dan kedua-keduanya baik baginya.” (Hadits Riwayat Muslim).

Tentu kita semua telah merasakan dalam kehidupan yang kita jalani ini ada dua hal yang biasa dirasakan, yaitu rasa berbahagia dan menyenangkan kita, dan rasa sedih berduka dan menderita saat mengalami musibah. Apa yang hendaknya yang bisa kita lakukan apabila menerima dua hal tersebut tersebut?

Tatkala kita mesti bersyukur, yakni ketika kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang mana semua itu berasal dari Allah SWT, pemberian dari Allah SWT, maka kita juga harus berterima kasih kepada Allah SWT, yaitu dengan banyak beribadah kepada-Nya, dan memenuhi hak syukur lainnya.

Jelas kenikmatan itu berasal dari Allah SWT, misalnya Allah SWT-lah yang mengkaruniakan mata sehingga kita bisa membaca. Apabila kita bersyukur, maka tentu dengan anggota tubuh itu kita manfaatkan untuk di jalan Allah SWT, seperti membaca Al Quran, menuntut ilmu, dan sebagainya.

Anugerah kaki kita manfaatkan untuk berjalan di jalan Allah SWT, seperti berjalan ke masjid, atau ke pengajian-pengajian, serta tempat-tempat yang diridhoi dan diberkahi Allah SWT. Demikian pula apabila Allah SWT memberi kenikmatan berupa terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita, maka rasa syukurnya dengan memberikan sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim, orang miskin melalui infak, melalui sedekah. Demikianlah sejatinya rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18).

Tetapi bagaimana apabila kita menerima musibah… maka kita harus bersabar dan harus tetap tenang dan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi musibah tersebut. Tidak lupa kita ridho menerima kondisi tersebut. Tatkala terjadi pada masa lalu, maka kita rencanakan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang, sehingga tidak terjadi lagi musibah karena kesalahan tersebut.

Dengan demikian kita patut bersyukur atas nikmat Allah SWT, dan juga bersabar manakala menerima musibah dari Allah SWT.

oleh Ustadz Hilman Rosyad Lc
Dewan Syariah DPU Daarut Tauhiid
yy/nabawia.com
 
top