fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Pertengkaran Para Penghuni Neraka

Pertengkaran Para Penghuni Neraka

Fiqhislam.com - Tatkala orang-orang kafir, para musuh Allah, melihat dengan mata kepala mereka siksaan yang Allah janjikan kepada mereka dan bencana yang mereka alami, mereka mebenci diri mereka sendiri serta membenci orang-orang yang mereka cintai dan sahabat-sahabat karib mereka di kehidupan dunia, bahkan setiap rasa cinta yang tumbuh tanpa asas keimanan berubah menjadi rasa permusuhan. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang saling mengasihi pada hari itu menjadi bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.” Ketika itu, para penghuni neraka bertengkar dan menghujat pemimpin yang diikuti, orang-orang lemah menghujat orang-orang yang memaksa, bahkan orang kafir menghujat anggota badannya sendiri.

1. Peretengkaran para penyembah dengan sembahan mereka diceritakan dalam firman Allah SWT, “Dan neraka ditampakkan kepada orang-orang yang sesat. Dikatakan kepada mereka, ‘Mana sembahan yang dulu kamu sembah selain Allah? Apakah mereka menolong kamu atau menolong diri sendiri?’ Lalu sembahan-sembahan itu dan orang-orang yang sesat dilemparkan ke dalam neraka, serta seluruh tentara iblis. Mereka berkata dan mereka bertengkar di dalam neraka itu, ‘Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam kesesatan yang jelas, karena kami menyamakan kamu dengan Tuhan semesta alam. Dan yang menyesatkan kami tiada lain orang-orang yang berdosa’.

Para penyembah itu berbicara kepada tuhan-tuhan mereka yang dahulu mereka sembah, seraya mengakui kesesatan mereka karena telah menyembahnya dan menyamakannya dengan Pencipta. Sungguh rugi dan celakalah orang yang menyamakan derajat makhluk dengan Khalik (Pencipta). Setiap orang menyembah tuhan-tuhan selain Allah berarti ia telah mempersamakan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Ini merupakan kelaliman yang besar, sebagaimana dikatakan oleh Luqman ketika ia menasihati anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu persekutukan Allah! Mempersekutukan Allah itu sungguh suatu kelaliman yang besar.

Adapun hamba-hamba saleh dan baik yang disembah padahal mereka tidak tahu atau disembah tanpa kerelaan mereka, seperti para malaikat dan manusia-manusia saleh, mereka terbebas dari para penyembah mereka, serta dari tuduhan dan fitnah para penyembah itu. Karena, para malaikat tidak meminta dan tidak rela atas penyembahan ini. Yang meminta penyembahan itu adalah jin untuk menyesatkan dan merendahkan manusia. Jadi, orang-orang yang sesat itu sebenarnya para penyembah jin, bukan malaikat. “Dan (ingatlah) akan hari ketika Allah mengumpulkan mereka semua kemudian berfirman kepada para malaikat, ‘Apakah orang-orang ini dahulu menyembah kalian?’ Para malaikat menjawab, ‘Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Mereka sebenarnya menyembah jin. Kebanyakan mereka beriman kepada jin itu’.

‘Isa ibn Maryam pada hari pembalasan terbebas dari orang yang menganggapnya tuhan dan menyembahnya. “Ingatlah ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikan aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau aku tidak berani mengatakan apa yang aku tidak berhak mengatakannya. Apabila aku mengatakannya, tentu Engkau mengetahuinya. Engkau tah apa yang ada pada diriku dan aku tidak tahu apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku: sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’.”

Begitulah keadaan seluruh sembahan yang tidak rela dijadikan Tuhan. Mereka terbebas dari para penyembah mereka. Mereka buktikan bahwa tuduhan para mereka bohon dan bahwa mereka adalah hamba Allah yang setia. “Dan ketika orang-orang musyrik melihat yang mereka sekutukan, mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, inilah sekutuan kami yang dahulu kami sembah selain Engkau.’ Sekutuan-sekutuan itu lalu menjawab, ‘Kalian sungguh berdusta.’ Pada hari itu mereka berserah diri kepada Allah dan gugurlah kebohongan para musyrik.

Di tempat lain Allah berfirman, “Dan (ingatlah) hari Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang musyrik, ‘Kalian dan sekutuan-sekutuan kalian tetaplah di tempat!’ Kami lalu memisahkan mereka, dan sekutuan-sekutuan mereka berkata, ‘Kalian tidak menyembah kami. Cukuplah Allah sebagai saksi antara kami dan kalian bahwa kami tidak mengakui penyembahan itu.’ Di sanalah setiap diri menerima balasan dari apa yang telah dilakukannya. Mereka dikembalikan kepada Allah, Tuhan mereka yang sebenarnya, dan gugurlah apa yang mereka buat-buat (berhala dan sebagainya)."

2. Pertengkaran para pengikut dengan para pemimpin penganut pemikiran dan teori sesat, serta prinsip-prinsip yang bertentangan dengan Islam, disebutkan oleh Allah pada bagiam lain al-Qur’an. Allah berfirman, “Kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan, lantas mereka langsung melihat dan berkata, ‘Celakalah kita! Ini hari pembalasan.’ Inilah hari keputusan yang dahulu kalian dustakan. (Kepada malaikat diperintahkan), ‘Kumpulkan orang-orang lalim, pasangan-pasangan mereka, dan apa yang mereka sembah selain Allah, lalu tunjukkan kepada mereka jalan ke neraka! Dan suruh mereka berdiri!’ Mereka akan ditanya, ‘Mengapa kalian tidak saling menolong?’ Mereka pada hari itu menyerah. Mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan. Mereka (para pengikut) bertanya, ‘Kalian dulu datang memperdaya kami.’ Mereka (para pemimpin) menjawab, ‘Kalian saja yang tidak beriman. Kami tidak berkuasa atas kalian, tetapi kalian lah yang keluar batas. Sudah sepantasnya keputusan Allah menimpa kita. Kita benar-benar merasakan (azab itu). Kami telah menyesatkan kalian. Kita sesungguhnya orang-orang yang sesat.’ Pada hari itu mereka bersama-sama dalam siksaan. Begitulah Kami perlakukan orang-orang berdosa. Sesungguhnya apabila dahulu dikatakan kepada mereka , ‘Tiada Tuhan selain Allah,’ mereka takabur.

Yang disebutkan dalam ayat-ayat ini adalah saling mengecamnya para penduduk neraka di tempat terbuka di hari kiamat. Para pengikut mengatakan kepada para pemimpin kesesatan, “Kalianlah yang dahulu menghiasi kebatilan di hadapan kami dan membujuk kami untuk menentang kebenaran,” sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sedangkan orang-orang kafir, pelindung mereka adalah Thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kegelapan.” Namun, para pemimpin itu membantah, “Kalian menanggung hasil perbuatan kalian sendiri. Kalian telah memilih kekafiran, padahal kami tidak memaksa kalian. Kelaliman dan kesombongan kalianlah yang menyebabkan kalian sampai begini.[yy/islampos.com]