22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Aib Tertutup Setelah Bertaubat

Aib Tertutup Setelah Bertaubat

Fiqhislam.com - Pada suatu ketika daerah yang dihuni Nabi Musa dan kaumnya dari golongan Ba ni Israil kekurangan air. Sumber air dari sumur, su ngai, dan danau sudah mulai mengering. Hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi air yang ada di sungai, sumur, dan danau akan habis menguap begitu saja oleh panasnya terik matahari.

Karena sudah lama tidak turun hujan, permukaan tanah mulai belah, tanah-tanah ringan berterbangan menjadi debu, pohon rindang daunnya sudah banyak yang berguguran. Bahkan, di antara pohon yang lebat dengan buah dan daunnya sudah telanjang tinggal batangnnya saja.

Sementara, binatang-binatang ternak terlihat mulai sempoyongan menahan kelaparan dan kehausan. Terutama, bagi hewan herbivora sudah ba nyak yang bergelatakan karena makanan pokoknya, rumput, sudah kering.

Dari sekian banyak makhluk di bumi yang Allah SWT ciptakan, hanya ma nusialah yang masih mampu bertahan. Manusia masih bisa hidup dengan meng gunakan akal pikirannya untuk me lawan rasa haus dan lapar. Sementara, untuk hewan dan tumbuhan sudah ba nyak yang mati karena kemarau panjang.

Mereka kaum Nabi Musa sudah tidak kuat lagi dengan cobaan yang Allah SWT berikan dengan menurunkan kemarau panjang. Untuk itu, setiap umat Nabi Musa berkumpul menuju rumah Nabi Musa, tujuannya yang tak lain untuk meminta agar Allah segera menurunkan hujan.

"Karena kalau terus seperti ini kita tidak sanggup lagi. Untuk itu, mari kita temui Nabi Musa," katanya di antara kaum Bani Israil.

Berbondong-bondonglah Bani Is rail menuju rumah Nabi Musa. Masing-masing di antara mereka menuntut sambil penuh harap agar Nabi Musa bisa menyelesaikan permasalahan kemarau panjang yang menimpa negerinya.

"Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami," pinta salah satu kaum Nabi Musa yang ada di dalam rombongan itu.

Mendengar jawaban itu, Nabi Musa yang sedang fokus beribadah menemui umatnya. Setelah mendengarkan beberapa keluhan kaumnya, Nabi Musa berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumlah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

Kisah Nabi Musa berdoa meminta hujan ini diabadikan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat ke-186. Allah SWT merespons doa perminta Nabi Musa dengan berfirman.

"Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

Mendengarkan firman Allah SWT, Nabi Musa kembali berkata, "Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang."

Mendengar perkata itu, Allah SWT kembali berfirman, "Wahai Musa, kamu lah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka."

Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa lalu berkata kepada kaumnya. "Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT. "

Mendengar seruan dari Nabi Musa itu, si fulan yang durhaka berdiri sambil melihat ke kanan dan kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorang pun yang keluar dari rombongan itu. Si fulan tetap saja memendam kesalahannya meski ia niat bertobat.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau ma sih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada- Mu dengan ketaatan maka terimalah tobatku," begitu doanya.

Doa ter kabul Beberapa saat selepas itu, awan ber gumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata. "Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorang pun yang keluar mengakui dosanya?" Seketika, hujan pun lebat.

Umat Nabi Musa bergembira atas turunnyan hujan yang sudah lama dinantikan. Sementara, Nabi Musa tetap berdialog dengan Allah SWT untuk meminta dijelaskan mengapa hujan diturunkan sebelum Musa melihat orang berdosa itu keluar dari kerumunan.

Dari penjelasan itu, Allah SWT berfirman,"Wahai Musa, aku menurun kan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu."

Karena masih penasaran, Nabi Musa tetap ingin Allah SWT memberitahu siapa umatnya yang Allah SWT maksud te lah melakukan dosa secara terang-terangan selama 40 tahun. Untuk itu, ia ber kata. "Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?"

Namun, Allah SWT ti dak menuruti permintaan Nabi Musa untuk menunjukkan hambanya yang berdosa itu. Allah SWT berfirman. "Wahai Musa, dulu ketika ia dur haka kepada- Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

Dengan menurunkan hujan itu bahwa Allah telah mengabulkan doa orang berdosa yang meminta dihapuskan segala dosanya. Allah memaafkan dosa orang misterius yang dilakukan selama 40 tahun meski dengan tobat sekejap. Untuk itu, sebagai umat Islam kita tidak boleh putus asa untuk terus meminta diampuni dari segala dosa karena Allah SWT sangat cinta terhadap orang-orang bertobat.

"Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: Sesungguhya kami adalah orang-orang yang zalim." (QS al-A'raf [7]:5).

***

Kedudukan Strategis Memohon Ampunan

Dalam tradisi olah sprititual, tobat memiliki kedudukan yang sangat strategis. Ibarat sebuah bangunan, tobat seperti sebuah pintu gerbang menuju ruang-ruang kamar yang penuh kedamaian, teduh, dan ketenangan. Definisi tobat sangat beragam. Dalam tradisi tasawuf, salah satunya seperti yang pernah diulas oleh Ali bin Utsman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub.

Tokoh yang bernama lengkap Abu al-Hasan Ali bin Utsman al-Jullabi al- Hujwiri al-Ghaznawi itu menjelaskan, tobat merupakan tahap permulaan menuju Allah SWT. Generasi salaf, memulakan amalan mereka dengan tobat. Tujuannya adalah membersihkan diri. Mereka berikrar mening- galkan maksiat, menyesali perbuatan nista di masa lalu, dan bertekad tidak akan mengulangi kekeliruan tersebut.

Tobat, kata sosok kelahiran Ghazni Afghanistan 990 M itu, secara tidak langsung akan memberi kesan positif kepada jiwa. Tobat merupakan kebangkitan hati dari perbuatan jahat. Yang muncul kemudian adalah per- buatan baik. Apabila tindakan kesedaran secara aplikatif mewarnai kehidupan maka nantinya akan muncul keinginan untuk bertobat, beriman, dan beramal saleh. Bahkan, mengutip pernyataan pemuka sufi, Imam Junaid al-Baghdadi, tobat bisa menghapus dosa seseorang.

Prinsip tobat, ungkap al-Hujwiri, ialah usaha untuk memahami diri terhadap ketiadaan kebaikan. Hati kemudian diisi dengan amal baik serta dijauhkan dari dosa. Perbuatan yang mendatangkan pahala, kecintaan, dan keridhaan Allah menjadi prioritas.

Allah berfirman, "Bertobatlah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung." (QS an-Nur [24] : 31). Jika bertobat maka Allah akan memberikan cintanya (QS al-Baqarah 2: 222). Tidak hanya itu, rahmat Allah juga akan datang. Lihat surah al- An'am ayat 54.

Tobat hakiki merupakan ketaatan dan integrasi. Diri akan meninggalkan dan melepaskan ikatan-ikatan yang dapat merusak hati. Tobat yang benar tidak membiarkan sisa pengaruh maksiat bersarang dalam dirinya baik secara lahir maupun batin. Al-Hujwiri mengutip perkataan pentolan sufi di abad kedua Hijriyah, Yahya bin Mu`az, "Satu penyelewengan saja sesudah bertobat, sama saja dengan tujuh puluh penyelewengan sebelum tobat. Tobat sejati menjadi perisai agar teguh."

Ada beberapa syarat sah tobat. Menurut tokoh yang wafat di Lahore, Pakistan, tersebut, tobat tidak sah kecuali dengan menyadari dan mengakui dosa. Sebab itu, jangan sertai tobat dengan kesalahan serupa. Apalagi, menempatkan kekeliruan itu sebagai inspirasi orang lain. Tobat harus menjadi titik balik seseorang yang melahirkan kesadaran terhadap segala kekurangan atau kesalahannya. Lalu, menetapkan tekad dan azam yang disertai dengan amal perbuatan untuk memperbaiki. [yy/republika]

 


 

Tags: Taubat | Tobat