22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Padang Mahsyar, Bumi Lain di Akhir Zaman

padang-mahsyar-bumi-lain-di-akhir-zaman

Fiqhislam.com - Bumi tempat hamba-hamba Allah dikumpulkan pada hari kiamat adalah bumi lain, bukan bumi ini. Allah SWT berfirman, “(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain dan langit pun diganti dan mereka keluar menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Panakluk,” (QS. Ibrahim: 48). Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kita tentang keadaan bumi yang baru tempat manusia dikumpulkan ini. Dakam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim diriwayatkan dari Sahl ibn Sa’d yang mengaku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di bumi yang putih ‘afra’ seperti lembaran roti naqi.” Sahl atau yang lain menambahkan, “Di sana tidak ada ma’lam bagi seorang pun.

Al-Khaththabi mengatakan, ‘afr (tunggal ‘afra) berarti putih tidak jernih. ‘Iyadh mengatakan, ‘afr berarti putih dengan sedikit kemerah-merahan. Ibn Faris mengatakan, ‘afra’ berarti putih bersih.

Kata naqi berarti tepung yang bersih dari campuran dan ampas.

Kata ma’lam berarti tanda yang menunjukkan jalan ke suatu tempat, seperti gunung dan batu besar, atau sesuatu yang dibuat oleh manusia untuk menunjukkan jalan atau pembagian wilayah.

Banyak nash dari sejumlah sahabat, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang bermaksud sama dengan hadis yang telah kami kemukakan di sini. ‘Abd ibn Humaid dan ath-Thabari dalam tafsir mereka serta al-Baihaqi dalam buku Syu’b al-Iman telah menukil dari jalur ‘Amr ibn Maimun dari ‘Abd Allah ibn Mas’ud tentang firman Allah SWT, “(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain.” Ibn Mas’ud mengatakan, “Bumi diganti dengan bumi yang bagaikan perak, tidak terkena noda dan kesalahan.” Para perawi hadis ini shahih, tetapi hadis ini mauquf (sanadnya hanya sampai ke sahabat). Al-Baihaqi menukil dari jalur lain yang marfu’ (sanadnya sampai ke Nabi). Tetapi menurutya, yang mauquf lebih shahih. Ath-Thabari dan al-Hakim juga menukil hadis ini dari jalur ‘Ashim dari Zirr ibn Hubaisy dari Ibn Mas’ud dengan redaksi, “Bumi yang putih bagaikan batangan perak,” dan para perawinya juga terpercaya.

‘ABD ibn Humaid menukil dari jalur al-Hakam ibn Abban dari ‘Ikrimah bahwa ia mengatakan, “Telah disampaikan kepada bumi bahwa bumi ini, yaitu bumi dunia, akan habis, dan disampingnya ada bumi lain tempat manusia dipindahkan dari bumi dunia.” Dalam hadis yang panjang tentang sangkakala, “Bumi diganti dengan bentangan kulit yang disamak. Kamu tidak melihat ada lekukan dan tonjolan di sana (benar-benar rata-pen). Kemudian Allah memanggil makhluk-makhluk dengan satu kali panggilan. Mereka pun langsung berada di bumi baru itu sebagaimana tempat mereka di bumi pertama: yang dulu di perut bumi sekarang pun di perut bumi, yang dulu di permukaan sekarang pun dpermukaan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang diganti itu hanya sifatnya. Di antara yang mengisyaratkan hal itu ialah hadis mauquf dari ‘Abd Allah ibn ‘Amr, “Bila hari kiamat tiba, bumi dibentangkan seperti bentangan kulit dan makhluk-makhluk dkumpulkan,” juga hadis marfu’ dari Jabir, “Bumi dibentangkan seperti bentangan kulit, dan tidak ada ruang bagi manusia di dalamnya kecuali seukura dua tapak kakinya.” Para perawi hadis ini terpercaya, hanya saja terdapat perbedaan terdapat tentang dua orang sahabat az-Zuhri. Ada lagi hadis Ibn ‘Abbas dalam menafsirkan firman Allah SWT, “(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain.” Ia mengatakan, “Bumi ditambahi, dikurangi, dan dihilangkan bukit-bukit dan gunung-gunungnys, lembah dan pepohonannya, serta dibentangkan bagaikan kulit yang disamak.

Waktu Penggantian Bumi dan Langit

Rasulullah SAW telah memberi tahu kita bahwa waktu selesainya penggantian ini ialah waktu manusia melewati shirath (titian) atau sesaat sebelum itu. Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah, ‘(Yaitu) hari ketika bumi diganti dengan bumi lain dan langit pun diganti.’ Di manakah manusia berada saat itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Di atas shirath.”

Dalam shahih Muslim juga diriwayatkan dari Tsauban bahwa salah seorang pendeta Yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW, “Di manakah manusia berada pada hari bumi dan langit diganti dengan yang lain?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka berada dalam kegelapan sebelum jembatan.” Yang dimaksud dengan jembatan adalah shirath.”

Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar
Penerbit: Serambi / Sumber: Ensiklopedia Kiamat
yy/islampos