14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Belajar dari Perjuangan Nabi Yahya Menentang Kemungkaran

Belajar dari Perjuangan Nabi Yahya Menentang Kemungkaran

Fiqhislam.com - Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Karena itu, Allah tidak mengalami kesulitan jika hanya mendatangkan buah-buahan yang biasa tumbuh pada musim dingin kepada Maryam, padahal saat itu musim panas tengah meradang. Allah juga tidak mengalami kesulitan sedikit pun meciptakan Yahya dan seluruh umat manusia lahir ke dunia. Allah Mahakuasa. Allah memberi siapa pun yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

Demikianlah keyakinan Nabi Zakaria atas kekuasaan Allah. Maka, ketika dia belum diakruniai seorang anak padahal ia telah uzur dan istrinya, Elizabeth, juga dalam keadaan mandul, Zakaria tetap tidak putus asa. Dia tetap berharap kelahiran seorang anak untuk meneruskan perjuangan dan pewaris (masalah pengetahuan) dalam mengemban misi dakwahnya.

Karena itu, pada suatu hari Zakaria bermunajat dalam hening waktu di sebuah mihrab. Tapi kali ini Zakaria benar-benar berharap dan meminta kepada Allah. Maka, dengan lemah lembut dan khidmat, dia bermunajat, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Mahapendengar doa,” (QS. Ali Imran: 38).

Kabar Gembira

Usai berdoa, tiba-tiba mahrab tempat Zakaria berdoa dipenuhi dengan cahaya. Allah mendengar doa Zakaria, doa seorang nabi yang tak pernah kecewa dalam berdoa. Allah menjawab –lewat perantara malaikat Jibril- doa Zakaria, “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu), Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu) dan seorang Nabi dari keturunan orang-orang shaleh,” (QS. Ali Imron: 39).

Zakaria berharap memiliki anak yang baik, seorang anak laki-laki seperti Maryam yang memiliki kesucian, kejujuran dan keimanan. Dan harapan Nabi Zakaria itu sudah mendapat jawaban. Tapi, Zakaria masih diliputi sejuta rasa heran. Ia pun bertanya untuk meneguhkan setangkup rasa yakin berkecamuk di dadanya, “Bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Malaikat menjawab, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” (QS. Ali Imran: 40).

Zakaria bertanya lagi, “Bagaimana aku akan mengetahui Allah telah memberiku Yahya?” Malaikat kemudian menjawab, “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata kepada manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-bayaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari,” (QS. Ali Imran: 41).

Malam tiba, hari pun gelap. Zakaria merasa bahwa lidahnya sekering kayu. Ia tak bisa berbicara. Lalu ia bersujud kepada Allah SWT karena Allah telah memberikan kepadanya seorang anak lelaki. Maka, ia pun bersyukur.

Zakaria kemudian keluar dari mihrab. Ia ingin menasehati kaumnya, dan ingin mengatakan pada mereka sebuah nasehat, “Jangan lupakan Allah. Bersujudlah kalian kepada Allah. Dan sebutlah nama-Nya sesering mungkin.” Tapi, Nabi Zakaria tak dapat berbicara, maka dia menunjuk ke langit. Dia ingin mengatakan, “Wahai Bani Israil, Allah SWT melihat kalian. Wahai kaumku, muliakanlah Allah SWT dan sebutlah nama-Nya.”

Tiga malam berlalu, Zakaria tak mampu berbicara. Pada hari keempat ia baru saja bicara, dan lantas berkata pada istrinya, “Allah telah memberiku kabar gembira tentang seorang anak laki-laki yang bernama Yahya.”

Wanita baik itu gembira, “Oh, Yahya! Sebuah nama yang indah!” Tetapi istri Zakaria juga heran. Maka, dia bertanya, “Bagaimana aku bisa melahirkan seorang anak laki-laki sementara aku seorang wanita yang mandul?”

Zakaria menjawab, “Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahamulia. Penguasa seluruh hamba-Nya. Dia berkuasa atas langit dan bumi. Dia menciptakan Adam daru tanah.”

Ketika itu, dapat diceritakan kaum Yahya merupakan kaum yang keras kepala. Mereka sudah tak lagi berpegang ajaran Nabi Musa. Mereka lebih mencintai uang daripada apa pun. Mereka juga hidup dalam kubangan dosa. Dengan alasan itu, Zakaria kemudian ingin membangunkan mereka dengan memohon kepada Allah untuk diberi keturunan guna melanjutkan misi perjuangan menentang kemungkaran. Dan Alla telah memberi kabar gembira pada Zakaria akan melahirkan seorang anak itu. Istri Zakaria yang mandul bisa hamil.

Ketika itu, dapat diceritakan kaum Yahya merupakan kaum yang keras kepala. Mereka sudah tak lagi berpegang ajaran Nabi Musa. Mereka lebih mencintai uang daripada apa pun. Mereka juga hidup dalam kubangan dosa. Dengan alasan itu, Zakaria kemudian ingin membangunkan mereka dengan memohon kepada Allah untuk diberi keturunan guna melanjutkan misi perjuangan menentang kemungkaran. Dan Alla telah memberi kabar gembira pada Zakaria akan melahirkan seorang anak itu. Istri Zakaria yang mandul bisa hamil.

Dibekali Pengetahuan

Akhirnya, anak yang dijanjikan Allah itu pun lahir. Yahya tumbuh remaja tanpa cacat. Bahkan, saat Yahya menginjak remaja, Allah membekali pengetahuan tentang kandungan Taurat.

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman, “Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertaqwa dan seorang yang berbakti kepada orangtuanya dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka,” (QS. Maryam: 12-14).

Seiring pertumbuhan Yahya, Allah menganugerahkan pula rasa belas kasih . Yahya dijaga dari dosa, tumbuh jadi remaja dengan kepribadian matang, tek tercela dan tanpa cacat. Lebih dari itu, Yahya adalah seorang yang bertakwa, berbakti kepada kedua orangtua dan tidak pula sombong. Yahya memiliki sifat-sifat yang belum pernah disandang manusia sebelumnya. Dia bisa menahan diri sehingga tidak sampai terjerumus perbuatan yang dilarang. Yahya tumbuh menakjubkan. Wajahnya bercahaya dan terlihat kehidmatan seorang nabi. Kelahiran Yahya juga membawa berita gembira tentang risalah kenabian Isa.

Anak-anak seusia Yahya pernah mendatangi Yahya, “Mari kita bermain-main!” Dengan sopan Yahya menjawab, “Aku tidak diciptakan untuk bermain-main.”

Yahya ternyata sudah mampu berpikir matang dalam banyak hal saat dia masih kanak-kanak. Dalam benak Yahya, sempat pula berpikir pertanyaan, “Mengapa Maryam membawa bayinya pergi? Mengapa kaum Yahudi menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan kebodohan, penyimpangan dan kejahatan? Mengapa orang-orang kafir Roma menguasai kaumku?”

Yahya menjawab semua pertanyaan itu dengan perkataan, “Semua kejadian ini adalah karena Bani Isra’il telah meninggalkan agama yang benar. Karena apa yang datang dari Allah adalah jelas dan lurus, maka janganlah membuatnya bengkok!”

Pada saat itu, raja Roma, Hirodus menguasai Suriah. Raja tersebut seorang penyembah berhala yang jahat. Saudara laki-laki Hirodus memiliki seorang istri yang cantik, tapi Hirodus culas mengambil istri saudaranya itu secara paksa untuk dijadikan sebagai istrinya. Tak seorang pun berani menentang Hirodus kecuali Yahya, “Kau tak berhak menikahi istri saudaramu!”

Yahya tidak tinggal diam. Ia menyalahkan Hirodus atas perbuatan jahatnya itu. Hirodus marah dan kemudian memerintahkan kepada pengawalnya untuk menangkap Yahya dan Yahya dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi, jeruji penjara tak membuat Yahya bersedih. Yahya juga tak takut sedikit pun kepada mereka. Ia hanya takut pada Allah.

Yahya tidak memohon kepada mereka untuk dibebaskan. Dengan gagah berani, ia tetap bersuara lantang, “Akan datang seseorang yang lebih kuat daripada aku!” Rahmat akan mengalahkan para penentang nabi, karena mereka telah menjadi orang-orang yang mementingkan diri sendiri.” Yahya selalu berkata dengan berani, “Barangsiapa yang memiliki pakaian, harus memberi mereka yang tidak memiliki pakaian. Dan yang mempunyai makanan haruslah memberi makan kaum miskin. Jangan menindas siapa pun! Jangan memfitnah siapa pun! Negeri yang dipenuh jalan setapak! Bunga-bunga lili bermekaran! Mata akan melihat terangnya siang, telinga yang tuli akan terbuka!”

Menentang Hirodus

Suatu hari, Raja Hirodus mengadakan pesta besar. Saat pesta berlangsung itu, para wanita menari-nari. Para lelaki minum anggur. Padahal, kondisi orang miskin di luar istana sungguh mengenaskan. Orang-orang di luar istana banyak yang kelaparan, tertindas dan hidup menggigil karena kedinginan. Tak sedikit rakyat jelata yang berpakaian compang camping, karena mereka didera kemiskinan. Sementara itu, Hirodus justru memakai pakaian yang terbuat dari sutra. Singgasananya megah, dihiasi dengan emas, perak dan batu-batu mulia.

Karena itu, Yahya bersuara lantang untuk mengingatkan Hirodus. Suara Yahya pun dari balik penjara pun selalu menggema ke seluruh ruangan, “Hirodus, sang penindas, kau tak mempunyai hak untuk menikahi seorang wanita yang telah bersuami.”

Ruangan pesta dipenuhi para perempuan dan lelaki muda. Para pemain musik mulai memainkan alat-alat musik mereka. Hirodus duduk di singgasana, sambil minum anggur. Sedang istri barunya, duduk di sampingnya. Lalu, wanita muda yang masih cantik dan berpakaian sutra memasuki ruang pesta. Hirodus segera berdiri dan berbicara pada istri barunya, “Anakmu sungguh cantik!”

Wanita itu berkata dengan nada kebencian, “Salumi akan menari untukmu!” Sang raja bertanya dengan gembira, “Untukku?” “Ya, untukmu,” jawab wanita itu.

Salumi mendekati sang raja dan berkata dan berkata dengan cukup genit, “Aku akan menari untukmu!” Sang Raja berkata, “Aku akan memberikan separuh kerajaanku!” Salumi berkata, “Kabulkanlah apa yang aku inginkan!” Raja menjawab, “Ya, aku akan mengabulkan apa pun yang kau inginkan!”

Maka Salumi menari. Ia mempesona Hirodus, yang sedang asyik minum anggur. Istri sang raja, yang juga orang Yahudi itu berkata, “Aku akan membawanya pulang ke rumah untukmu dengan arak-arakan.”

Hirodus gembira. Wajahnya berbinar, dengan mata sudah kemerah-merahan. Salumi lantas mendekatinya, “Kabulkanlah apa yang aku minta!” Hirodus menjawab, “Mintalah apa pun yang kau inginkan! Aku akan memberikan separuh kerajaanku!” Salami lalu berputar-putar seperti ular, “Aku menginginkan kepala Yahya anak Zakaria!”

Sang raja kaget dan terpana, “Tidak! Tidak! Mintalah apa pun selain itu! Kalau perlu, aku akan memberikan singgasanaku untukmu!”

Ibunya lalu menengahi, “Yahya tak akan membolehkan kamu menikahi Salumi!” “Yahya akan mencegahmu untuk melakukan hal ini!” tambah Salumi. “Ya benar!” tegas ibunya. Salumi berkata, “Aku menginginkan Sang Raja mempersembahkan kepala Yahya kepada ku di atas piring perak.”

Syahid

Hirodus kemudian menepukkan tangan, matanya memancarkan kilatan hitam. Musik berhenti. Hirodus berteriak lantang, “Bawa kamari tawanan itu! Bawa Yahya ke hadapanku1”

Para wanita muda kemudian meninggalkan ruangan pesta. Ruang pesta itu pun mendadak berubah seperti ruang pengadilan yang menakutkan. Pengawal menggiring Yahya yang tubuhnya terikat, dan wajahnya bersinar dengan cahaya surgawi masuk ke dalam istana. Wajahnya putih bagaikan awan.

Hirodus berkata, “Aku ingin mengawini wanita ini! Aku penguasa negeri ini!” Yahya menantang, “Haram bagimu melakukan hal tersebut. Haram bagi seseorang untuk mengawini yang telah bersuami! Haram bagi seseorang untuk mengawini anak tirinya!”

“Aku akan memenggal kepalamu, sehingga suarami akan hilang selamanya,” pekik Hirodus. Tetapi, Yahya tak takut dengan ancaman Hirodus. Ia terus berkata dengan suara yang menggetarkan dinding istana, “Haram bagimu untuk melakukan hal itu! Haram bagimu untuk melakukan hal itu!”

Hirodus murka, “Hei algojo, penggal kepalanya!”

Algojo melangkah, dan kemudian memenggal kepala Nabi Yahya. Tapi sesuatu yang menakjubkan terjadi. Kepala Nabi Yahya menggelinding ke seluruh ruangan lantai marmer istana, dan bersuara, “Haram bagimu untuk melakukan hal itu! Haram bagimu untuk melakukan hal itu!”

Hirodus dicekam ketakutan, dan ia memerintahkan orang-orangnya mengambil obor untuk memburu kepala sang nabi.

Nabi Yahya pun syahid. Sebelum Yahya syahid, dia telah memberikan kabar gembira pada orang-orang bahwa akan datang seorang nabi setelahnya. Yahya adalah orang pertama yang percaya pada kenabian Isa dan ia memberi kabar gembira pada orang-orang tentang kedatangan Isa AS. Dalam kesyahidan Yahya, Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an, “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan kembali,” (QS. [19]: 15).

Apa hikmah di balik kisah ini? Pertama, Nabi Yahya telah memberikan pelajaran cukup berharga berupa keberanian untuk menentang sang penguasa lalim meski nyawa menjadi taruhan. Kedua, tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Oleh karena itu, jangan sampai berputus asa. Kekuatan doa nabi Zakaria telah menjadi bukti bahwa kekuasaan Allah tak erbatas jika hanya sekedar untuk mendatangkan seorang anak bagi istri yang sedang mandul.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah perjuangan Nabi Yahya menentang kemungkaran, meski Yahya meninggal syahid.

yy/islampos
Sumber: mursidi/disarikan dari Kisah-kisah Terbaik Al-Quran, Kamal as-Sayyid, Pustaka Zahra, Jakarta, 2005/Majalah Hidayah edisi 67 tahun 6