<
pustaka.png
basmalah.png

Surah yang Dibaca Ketika Shalat Dhuha

Surah yang Dibaca Ketika Shalat Dhuha

Fiqhislam.com - Ada yang bertanya kepada Ustadz Ammi Nur Baits, "Bagaimana Derajat Haditst ini:Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua."

"Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, "Kami diperintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh-Dhuha."

Sementara dalam Nihayatul Muhtaj disebutkan bahwa yang lebih utama membaca surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas karena surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al Quran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Al Quran.

Waalaikumussalam. Alhamdulillah was shalatu was salamu ala Rasulillah

Terdapat sebuah hadits yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua. Hadits tersebut berbunyi:

"Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha."

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan: "Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia diampuni."

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam Musnad-nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur Musyaji bin Amr. Hadits ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari dan tidak dikomentari. Beliau hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan.

Namun yang benar, hadits di atas adalah hadits palsu. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: "Hadits ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji bin Amr. Ibn Main berkomentar tentang Musyaji: "yang saya tahu dia (musyaji) adalah seorang pendusta." (Silsilah Hadits Dhaif dan Palsu, hadits ke-3774).

Hadits ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam Faidlul Qodir dengan alasan adanya perawi yang bernama Musyaji bin Amr. Imam Ad Dzahabi dalam Ad Dluafa mengatakan dengan menukil perkataan Ibn Hibban: "Dia memalsukan hadits dari Ibn Lahiah dan dia adalah dhaif." (Faidlul Qodir, 4:201).

Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadits yang menganjurkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadits dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.

Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ibadah yang penting untuk diketahui:"Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak dengan tata cara tertentu misalnya waktu, tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang sahih termasuk salah satu bentuk bidah." (Qowaid Marifatil Bida, Hal. 52)

Karena hadits yang dijadikan dalil untuk menetapan dua surat di atas adalah hadits palsu maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadits palsu bukanlah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bidah. Wallahu alam.

As Syaikh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:"Adapun yang sesuai sunnah, engkau membaca surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunnah. Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah, dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal yang baik." (Majmu Fatawa dan Maqalat Ibn Bazz, 11). [yy/inilah]

 

top