fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


3 Ramadhan 1442  |  Kamis 15 April 2021

Kesabaran Bukan Berarti Berhenti Berbuat

Kesabaran Bukan Berarti Berhenti Berbuat

Fiqhislam.com - Kata sabar sering kali tidak indah pada era yang serba cepat dan instan. Kata tersebut banyak tak berlaku jika keadaannya menunggu pesawat delay, menunggu antrean yang teramat panjang, atau bahkan jika urusannya berkaitan dengan hukum.

Seseorang yang telah jelas bersalah dalam hukum, tidak jarang bersilat lidah dan mencari kambing hitam demi menemukan kebebasan tanpa syarat sehingga melupakan perilaku sabar dengan membiarkan hukum yang adil mengatur jalannya proses keadilan.

Padahal dalam Islam, kesabaran merupakan kunci sukses, terutama bagi seorang pemimpin. Baik pemimpin keluarga maupun pemimpin suatu negara. Mengenai kesabaran, Allah sampaikan demikian indah dalam Alquran. “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”

Orang sabar selalu mampu memberi pengaruh baik bagi diri dan sekitarnya. Karena jaminan Allah bagi orang sabar, yaitu kemampuan memberi petunjuk yang baik dengan menganjurkan dan melaksanakan perintah, serta melarang dan meninggalkan muharramat Allah dan Rasul.

Kesabaran bukan berarti berhenti berbuat, ia merupakan tindakan produktif untuk pengaruh positif terbesar dengan risiko negatif terkecil. Tindakan sehatlah yang menjadi acuan utama dari sikap ini.

Kesabaran tidak tunggal sebab hal ini bisa menjadi suatu kemuliaan, selain juga termasuk suatu kewajiban. Banyak orang menyangka dirinya penyabar yang mulia, tetapi sebenarnya ia sedang melakukan suatu kesabaran yang memang wajib dilakukan. Suatu kesabaran yang mau tidak mau harus dipilih agar tetap menjadi orang sehat.

Kesabaran mulia adalah kesabaran yang dipilih oleh seseorang untuk menentukan seberapa bertakwa dirinya kepada Allah. Seberapa mampu dirinya mendapatkan suatu kehormatan setelah lulus dalam beberapa ujian dan musibah.

Dalam kisah anbiya’ contohnya, setiap mereka yang beriman dan mengikuti dakwah, kemudian Allah uji mereka dengan musibah yang berat, maka ia termasuk penyabar yang mulia.

Karena itu, Allah mencontohkan nama-nama nabi, seperti Ismail, Idris, dan Zulkifli sebagai orang sabar terhadap ujian dan musibah, sedangkan mereka dalam perilaku baik. “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”  (QS al-Anbiya’ [21] : 85).

Sabar anbiya’ inilah yang dimaksud dengan sabar mulia. Sabar yang dilakukan orang mulia dengan dasar akal budi dan moral sehingga pengaruhnya termasuk kemuliaan dan hudan.

Sebaliknya, pembangkang nabi Nuh, nabi Luth, dan nabi-nabi lain yang ditimpakan musibah kepada mereka, mau tidak mau mereka harus bersabar. Kesabaran seperti inilah kesabaran yang merupakan kewajiban. Karena mau tidak mau, kesabaran harus menjadi sikap dan tindakan yang dipilih oleh mereka. Ini disebabkan keburukan muncul karena suatu kesalahan.

Oleh Ach. Nurcholis Majid
yy/republika