14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Tanda-tanda Gelapnya Hati pada Diri Manusia

Tanda-tanda Gelapnya Hati pada Diri Manusia

Fiqhislam.com - Keimanan tidak akan terlihat secara dhahiriah, namun akan terasa dan terdeteksi akan prilakunya. Iman yang kuat akan terlihat dengan ibadah seseorang kepada Allah lancar dan baik dan hatipun akan berada dalam ketenangan dan kesehatan hati, lain halnya dengan hati yang sakit, kepribadian akan terlihat buruk karena hati sedang tertutup oleh kemaksiatan, disitulah iman mulai terlihat sakit.

Turunnya iman atau hati yang sakit disebabkan oleh beberapa faktor sehingga prilaku yang ditampakkan pun akan tidak sesuai dengan prilaku ketika iman berada di atas. Iman yang turun berarti ia sedang berada melakukan kemaksiatan, baik maksiat hal kecil maupun kemaksiatan yang dianggap besar.

Di antara tanda-tanda hati yang sakit ialah:

1. Sulit meraih sesuatu yang diciptakan baginya
Misalnya, mengetahui Allah, mencintai-Nya, rindu ingin berjumpa dengan-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan mengutamakan-Nya atas segala keinginan. Namun hati yang sakit, ia lebih mengutamakan syahwatnya daripada taat dan cinta kepada Allah sebagaimana firman Allah ta’alaa,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al-Furqon: 43).

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Itulah hati yang apabila menginginkan sesuatu, ia menurutinya. Lalu, ia mengarungi hidup di dunia ini seperti seekor binatang yang tidak mengetahui Rabb-nya dan tidak menyembah-Nya dengan menaati perintah dan larangan-Nya. Sebagaimana terjemahan firman Allah ta’alaa. ‘Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.’” (Muhammad: 12).

Besarnya pahala sesuai jenis amalnya. Ia tidak menjalani hidup seperti yang dicintai dan diridhai Allah. Akan tetapi, ia justru menjalani hidup untuk bermaksiat kepada Allah dengan fasilitas nikmat-Nya.

Saat di akhirat pun, ia tidak akan merasakan ketenangan. Ia tidak mati dan tidak pula hidup. Allah ta’alaa berfirman,

يَتَجَرَّعُهُ وَلا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظ

“Diminumnya air nanah itu dan hampir ia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi ia tidak juga mati, dan di hadapannya masih ada adzab yang berat.” (Ibrahim: 17).

2. Tidak merasa sakit karena luka-luka maksiat
Sebagaimana sebuah ungkapan, “Orang mati tidak bisa merasakan sakit”. Hati yang sehat akan merasa sakit dan menderita karena maksiat. Sehingga, hal itu membersitkan keinginannya untuk bertaubat dan kembali kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah ta’alaa,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُون

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raf: 201).

Allah ta’alaa juga berfirman ketika menyifati orang-orang yang bertakwa,

الَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka…” (Ali ‘Imran: 135).

Maksudnya, mereka ingat akan keagungan Allah ta’alaa, ancaman-Nya, dan siksa-Nya. Sehingga, hal itu membersitkan keinginan mereka untuk bertaubat. Orang yang hatinya sakit akan selalu mengiringi kejelekan dengan kejelekan pula.
Ketika al-Hasan menjelaskan firman Allah ta’alaa,

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14). Ia berkata, “Hal itu adalah dosa di atas dosa. Sehingga, hati menjadi buta. Adapun hati yang hidup, ia selalu mengiringi keburukan dengan kebaikan dan mengiringi perbuatan dosa dengan taubat.”

3. Pemiliknya tak merasa sakit dengan kebodohonnya terhadap kebenaran

Hati yang sehat akan merasa sakit dengan perkara-perkara syubhat yang menjangkitinya. Ia juga merasa sakit dengan kebodohannya terhadap kebenaran dan akidah-akidah yang batil. Oleh sebab itu, kebodohan merupakan musibah terbesar bagi orang yang hatinya hidup.

Sebagian ulama menuturkan, “Tidak ada dosa maksiat kepada Allah yang lebih jelek daripada kebodohan.” Dikatakan kepada Imam Sahl, “Wahai abu Muhammad, apakah yang lebih jelek dari kebodohan?” Jawabnya, “Bodoh terhadap kebodohan (maksudnya, orang bodoh yang tidak tahu kebodohannya).”

4. Pemiliknya beralih dari makanan-makanan bergizi kepada racun yang mematikan

Hal ini sebagaimana kebanyakan manusia yang berpaling dari mendengarkan al-Qur’an yang telah difirmankan Allah ta’alaa,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارً

"Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82).

Mereka mendengarkan nyanyian yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan menggugah syahwat. Di dalamnya pula terkandung kekufuran kepada Allah ta’alaa. Seorang hamba akan lebih mengutamakan maksiat karena kecintaannya pada hal-hal yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, mengutamakan maksiat ialah buah dari penyakit hati dan hal itu kian memperparah penyakit dalam hatinya.

Selama hati sehat, ia akan cinta pada apa yang dicintai Allah dan apa yang dicintai Rasul-Nya. Allah ta’alaa berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu, bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kemu mendapat kesusuah, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatinya serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya keimanan, orang yang rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.” (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, anak, dan keluarganya serta manusia semuanya.” (HR. Al-Bukhari).

5. Pemiliknya menghuni dunia dengan perasaan ridha, tenang, dan tidak merasa asing, serta tidak mengharap akhirat dan tidak beramal untuknya.
Setiap kali hati pulih dari sakitnya, ia akan “pergi” ke akhirat. Sementara pemilik hati yang sakit, penampilan lahirnya akan berbeda dengan batinnya. Ia melihat apa yang mereka lakukan, tapi mereka tidak melihat apa yang ia lakukan.
Pemilik hati yang sehat, akan merasa asing dengan kehidupan dunia yang penuh gemerlap. Kondisinya sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan dalam haditsnya, beliau bersabda, “Jadilah engkau di dunia laksana orang asing, atau orang yang menyeberangi jalan.” (HR. Al-Bukhari).

Maka dari itu, agar hati kita tetap berada dalam kesehatan jasmani maupun rohani. Caranya kita harus menghindari prilaku yang tidak disukai Allah yaitu berupa kemaksiatan. Dan tetap menjaga keimanan agar tetap konstan atau naik, sehingga amal dan perbuatan semata-mata jauh dari kenistaan dan kegelapan hati.

yy/islampos
Karya: Syaikh Ahmad Farid/Penerbit Ummul Qurra, Jakarta