pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Taubat dari Dosa Syirik

Taubat dari Dosa Syirik

Fiqhislam.com - Tidak syak lagi bahwa syirik adalah dosa dan kezhaliman yang besar. Ia haruslah dijauhi oleh seorang yang beriman kepada Allah swt, sebagaimana nasehat Luqman kepada anaknya :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman : 13)

Syirik memiliki dua macam :

1. Syirik yang paling besar yaitu mengambil tandingan-tandingan atau sembahan-sembahan selain Allah swt didalam ibadah, seperti : menyembah berhala, meminta perlindungan atau pertolongan kepada seseorang didalam urusan-urusan yang diluar kesanggupan manusia atau sejenisnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah saw,”Dosa apa yang paling besar?’ beliau saw menjawab,’Engkau menjadikan tandingan terhadap Allah swt padahal Dial ah yang telah menciptakanmu.’….” (Muttafaq Alaihi)

2. Syirik yang paling kecil yaitu riya. Riya ini berasal dari kata “ru’yah” atau melihat sehingga ia memiliki arti melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan dengan disertai keinginan mendapatkan perhatian manusia / selain Allah swt, memberitahukannya kepada mereka atau keinginan mendapatkan pujian dari mereka, sebagaimana firman Allah swt :

يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا (١٤٢)

Artinya : “….. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa : 142)

Perbuatan semacam ini pun termasuk kedalam perbuatan syirik yang paling kecil sebagaimana riwayat Imam Ahmad dari Mahmud bin Labid berkata : Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik yang paling kecil : riya.

Dan apa yang anda lakukan dengan pergi ke seorang dukun meminta pertolongan darinya agar melunakkan hati orang-orang yang datang ke rumah anda untuk menagih utang lalu anda meyakini bahkan melakukan apa yang dimintanya untuk menanam kain kuning di pagar rumah anda adalah sebuah kesyirikan dan dosa besar sebagaimana riwayat Ashabush Sunan dan telah dishahihkan oleh al Hakim dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang itu telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.

Permintaan menanam kain kuning itu bisa jadi merupakan tipu daya yang dilakukan oleh setan (baca : jin) yang memerintahkan hal tersebut kepada dukun itu untuk memperdaya dan merusak akidah anda yang sebenarnya tidaklah ada hubungannya sama sekali dengan keinginan anda. Karena tidak jarang seorang dukun didalam prakteknya meminta pertolongan kepada jin, sebagaimana firman Allah swt :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (٦)

Artinya : “dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin : 6)

Untuk itu sebaiknya anda ambil kembali kain kuning itu dan memusnahkannya bisa dengan cara membakarnya dengan memohon perlindungan kepada Allah swt dari segala bentuk kejahatan makhluk-Nya dengan membaca ayat-ayat ruqyah atau ayat kursi dan surat al ikhlas, al falaq dan an Naas.

Setelah itu hendaklah anda melakukan taubat nashuha atas perbuatan tersebut karena pintu taubat masih tetap terbuka meski terhadap perbuatan syirik sekali pun, sebagaimana firman Allah swt :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣)

Artinya : Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)

Artinya : “dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon : 68 – 70)

Al Qurthubi mengatakan bahwa para ulama berpendapat,”Dosa-dosa besar menurut Ahlus Sunnah (bisa) mendapat pengampunan bagi orang yang meninggalkannya sebelum kematiannya. Dosa-dosa besar itu mendapat pengampunan bagi kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan itu (meninggalkan perbuatan itu, pen), sebagaimana firman Allah swt :

وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (٤٨)

Artinya : “Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa : 48)

Maksudnya adalah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdosa. Seandainya yang dimaksud adalah orang yang bertaubat sebelum meninggalnya maka ia tidaklah membedakan antara dosa syirik dan dosa lainnya. Dengan demikian orang yang bertaubat dari perbuatan syirik juga mendapat ampunan. (Al’ Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid III hal 146)

Juga firman Allah swt :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى (٨٢)

Artinya : “dan Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaha : 82)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo
yy/eramuslim