16 Syawal 1443  |  Rabu 18 Mei 2022

basmalah.png

Tiga Cara Syukuri Nikmat Allah

Tiga Cara Syukuri Nikmat Allah

Fiqhislam.com - Banyak cara mengekspresikan rasa syukur. Namun, sebagian umat Islam lebih banyak mengucapkan Alhamdulillah. Apakah memang demikian?

Ucapan hamdallah hanya satu cara. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah SWT. 

Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT. "Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah"

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhai-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat, menta'ati aturan Allah dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, atau kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS al-Baqarah:152)

Akan tetapi, belum termasuk orang yang bersyukur mengucapkan hamdalah tetapi juga menggunakan rizki Allah untuk maksiat. 

Syukur berasal dari kata syakaro-yasykuru yang artinya mensyukurinya,memujinya atau berterima kasih. Ada juga yang mengartikan syukur ini adalah membuka lawan dari kafaro (menutup).

Ketika Muslim bersyukur maka syukur itu akan membuka nikmat lainnya. Sebaliknya, ketika seorang Muslim kufur sesungguhnya itu perbuatan dosa.  Allah SWT berfirman dalam Alqurqan surat  Ibrahim ayat 7 yang artinya "Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih,”.  

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa kata syukur lawan katanya adalah kufur (menutupi nikmat). Syukur konsekuensinya adalah bertambah nikmat sedang kufur konsekwensinya adalah siksa.

Ustaz Erick Yusuf
Pimpinan Lembaga Dakwah Kreatif iHaqi
yy/republika