14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Faedah Ilmu Pembawa Keselamatan

Faedah Ilmu Pembawa Keselamatan

Fiqhislam.com - Rasulullah pernah bersabda kepada sebagian sahabatnya "Beramal-lah untuk dirimu sekadar engkau berada di dunia. Dan beramal-lah untuk akhiratmu sekadar kelangsungan hidupmu di akhirat. Berbuatlah kepada Tuhanmu sekadar keperluanmu kepadanya-Nya. Dan berbuatlah untuk neraka sekadar kesabaranmu di neraka." (Al-Hadits).

Perhatikanlah sebuah hikayat tentang Syekh Hatim al-Asham, salah seorang murid dari Syekh Syaqiq al-Balkhiy Ra, ketika suatu hari ditanya oleh gurunya sebagai berikut, "Engkau telah belajar kepada saya selama tiga puluh tahun, apa yang telah engkau peroleh selama itu?"

Hatim al-Asham menjawab, "Saya telah memperoleh delapan macam faedah dari ilmu pengetahuan yang telah cukup bagi saya sebab saya mengharap keselamatan dalam delapan macam faedah tersebut."

"Apakah delapan macam faedah itu?"Tanya Syekh Syaqiq.

Syekh Hatim Al-Ashom kemudian menjelaskan, delapan macam faedah tadi ialah;

Pertama, saya melihat sekalian makhluk, masing-masing mempunyai kekasih yang dicintainya. Sebagian kekasih itu ada yang menyertainya hingga hampir mati, sedangkan sebagian lagi menyertainya sampai di pinggir kubur, kemudian meninggalkannya pulang, sehingga yang mencintainya menjadi sendirian karena kekasih tadi tidak ikut serta masuk ke dalam kubur.

Lantas saya berfikir dan berkata dalam hati; sebaik-baik kekasih kekasih adalah yang mengikuti masuk ke dalam kubur dan memberi ketenangan didalamnya. Hal itu tidak saya jumpai, selain amal perbuatan yang baik (amal shaleh), maka amal shaleh saya jadikan kekasih supaya menjadi pelita di dalam kuburku, memberi ketenangan dan tidak meninggalkan saya sendirian.

Kedua, saya melihat sekalian makhluk suka menuruti hawa nafsunya, mereka berlomba-lomba menuruti keinginan-keinginan nafsu. Maka saya perhatikan firman Allah Swt, yang artinya : "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Naziat [79]:40-41)

Memperhatikan ayat tersebut saya meyakinkan bahwa al-Quran adalah betul. Karenanya, saya segera menyimpang dari hawa nafsu dan bersemangat melawannya. Saya mencegah dari keinginan-keinginannya sehingga terlihatlah nafsu saya untuk melakukan ketaatan kepada Allah Swt.

Ketiga, saya memandang manusia senantiasa berusaha mengumpulkan harta dunia, kemudian menyimpannya dengan genggaman tangan tanpa memperdulikan kewajiban-kewajiban terhadap hak-hak harta. Maka, saya memperhatikan firman Allah swt, yang artinya: "Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Sesunguhnya kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan hal yang lebih baik pada apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl [16]:96)

Karenanya, saya menyerahkan semua harta yang telah saya peroleh pada jalan Allah dan saya bagikan kepada orang-orang miskin supaya harta itu kelak menjadi simpanan di sisi-Nya.

Keempat, saya melihat sebagian manusia mengira bahwa kemuliaannya berada dalam kedudukan menguasai kaum yang banyak dan keluarga yang banyak pula. Mereka ini tertipu akan perkiraannya. Sebagian yang lain mengira bahwa kemuliaannya berada dalam keadaan kaya harta, hak milik dan banyak keluarga, sehingga dengan demikian mereka merasa sombong dengan hal-hal tersebut.

Sebagian manusia yang lain mengira bahwa kemuliaannya berada dalam merampas harta orang lain, menganiaya, dan menumpahkan darah orang lain pula. Sedangkan manusia yang lain mengira bahwa kemuliaannya berada dalam keadaan merusak harta berlebih-lebihan dengan cara menghambur-hamburkannya.

Maka, saya beranggapan dan memperhatikan firman Allah swt, yang artinya: "Sesunguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Karena saya memilih taqwa dan saya berkeyakinan bahwa al-Quran adalah benar, sedangkan dugaan mereka adalah salah dan akan lenyap.

Kelima, saya meilhat manusia sebagian dari mereka mencela kepada orang lain, sedangkan sebagian yang lainnya lagi saling mengunjing. Saya mengerti bahwa hal demikian itu timbul dari kedengkian atau hasud tentang harta.

Maka saya berangan-angan dan memperhatikan firman Allah Swt. yang artinya: "Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan". (QS. Al-Hujurat [49]:32)

Karenanya saya mengerti bahwa pembagian kehidupan itu merupakan ketentuan dari Allah sejak zaman ajali. Akhirnya saya tak mau hasud kepada seseorang kaena saya telah rela dengan pembagian kehidupan dari pada-Nya.

Keenam, saya melihat sebagian manusia saling bermusuhan karena suatu tujuan dan sebab. Maka, saya berfikir tentang firman Allah Swt, yang artinya: "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena sesungguhnya syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir [35]:6)

Karenanya, saya mengerti bahwa bermusuhan itu tidak diperbolehkan, kecuali dengan syetan.

Ketujuh, saya melihat setiap orang senantiasa berusaha dengan sungguh-sunguh dan bersusah payah mencari penghidupan. Ia jatuh dalam lautan syubhat dan haram, menghinakan dirinya, dan mengurangi kedudukannya.

Maka, saya berfikir dan memperhatikan firman Allah swt, yang artinya: "Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah yang memberi rizkinya. Dan Ia Mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfudz)." (QS. Huud [11]:6)

Karenanya, saya faham bahwa rizkiku adalah ditangung oleh Allah Azza wa Jalla, sehingga saya pun tekun beribadah dan saya patahkan ketamakanku dari selain Allah.

Kedelapan, saya melihat setiap orang menggantungkan dirinya kepada sesama makhluk. Sebagian dari mereka ada yang menggantungkan dirinya pada uang dan dirham, pada harta dan hak milik, pada pekerjaan dan kerajinan pertukangan, dan pada sesama makhluk.

Akhirnya saya memperhatikan firman Allah swt. yang artinya: "Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya) sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq[65]:3)

Dengan demikian saya berserah diri bertawaqal kepada Allah karena dialah dzat yang mencukupi dan sebaik-baik dzat yang diserahi.

Oleh KH Abdullah Gymnastiar
yy/inilah