21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Kisah Samson (Nabi Syam’un AS) dan Lailatul Qadar

Kisah Samson (Nabi Syam’un AS) dan Lailatul Qadar

Pertanyaan: Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ustadz, beberapa waktu lalu saya mendengar ceramah di sebuah mushalla kantor di Jakarta. Isi ceramahnya menyampaikan sejarah turunnya lailatul qadr yang mengaitkannya dengan kisah seorang Nabi bernama Syam’un atau biasa disebut Samson dari Bani Israil.

Merasa penasaran, saya kemudian mencari informasi di internet dan memperoleh informasi bahwa di dalam kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah SAW berkumpul bersama para sahabat di bulan Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.

Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”

Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.

Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.

Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak.

Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Kemudian pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?”

Rasullah menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam’un.”

Apakah cerita tentang sejarah lailatul qadr tersebut benar demikian? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Saiful – Jakarta

Jawab:

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad SAW para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadits di atas menceritakan kisah seorang nabi dari Bani Israil, dan termasuk daripada kisah Israiliyyat, kisah-kisah Israiliyyat banyak terdapat di dalam kitab-kitab tafsir.

Para ulama membagi kisah Israiliyyat ke dalam 3 macam:

Pertama, diterima, adalah yang telah diketahui penukilannya secara shahih dari Rasulullah SAW, seperti menjelaskan tentang kisah nabi Khidir AS yang terdapat di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, atau kisah yang dikuatkan oleh hadits, dan ini memiliki banyak contoh seperti kisah  Al-Kifl, seorang laki-laki dari Bani Israil yang sangat wara’ terhadap maksiat.

Kedua, didiamkan, adalah yang belum diketahui keabsahannya dan kepalsuannya, antara kisah yang benar atau salah, dan kelompok ini adalah kisah yang boleh diceritakan untuk diambil contoh dan pelajarannya, dan tidak boleh diyakini kebenarannya dan kepalsuannya, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah ia berkata, dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata:

“Orang-orang Ahlu Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menjelaskannya kepada orang-orang Islam dengan bahasa Arab. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mempercayai Ahlu Kitab dan jangan pula mendustakannya. Tetapi ucapkanlah; “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kami (yakni ayat Al Quran surat Al Baqarah: 136),” [Shahih Al Bukhari, No. 4485].

Ketiga, ditolak, adalah yang diketahui kebohongannya karena bertentangan dengan syariat kita, atau yang bertentangan dengan akal, maka tidak boleh membenarkan, menerima, dan meriwayatkannya.

Adapun hadits tentang Nabi Syam’un AS termasuk daripada kelompok yang kedua, kisah yang belum diketahui keabsahannya atau kepalsuannya, dikarenakan:

  1. Belum didapati di dalam kitab-kitab hadits shahih
  2. Sanad hadits tidak disebut di dalam kitab Durratun Nashihin
  3. Perawi yang mengeluarkan hadits tersebut tidak disebutkan

Adapun menceritakan kisahnya sah-sah saja tanpa meyakini hadits tersebut berasal dari Rasulullah SAW, karena ancaman keras bagi yang berdusta atas nama Rasulullah SAW:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ”.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” [Shahih Al Bukhari, No. 3461].

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz di dalam kitab Majmu’ Fatwa-nya menjawab pertanyaan tentang hadits di dalam kitab Durratun Nashihin:

“Kitab ini tidak bisa dijadikan sandaran, ia mengandung banyak hadits-hadits palsu dan dhoif (lemah) yang tidak bisa dijadikan sandaran, diantaranya adalah kedua hadits ini, keduanya tidak memiliki asal muasal, bahkan adalah hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi SAW, maka tidak semestinya bersandar kepada kitab ini atau kitab-kitab lain yang semisal yang mengumpulkan tipuan dan hal-hal yang tidak bermanfaat, hadits-hadits palsu dan dhoif, maka sesungguhnya hadits-hadits Rasulullah SAW telah disajikan oleh para ulama Ahlus Sunnah, mereka menjelaskan yang shahih dan yang cacat, maka hendaklah seorang mukmin  mengutamakan kitab-kitab yang bagus dan bermanfaat seperti:

  1. Kitab Shahihain, Bukhari dan Muslim
  2. 4 kitab-kitab sunan
  3. Muntaqa Al Akhbar, Ibnu Taimiyyah
  4. Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi
  5. Bulughul Maram, Ibnu Hajar
  6. Umdatul Hadits, Al Hafidz Abdul Ghani Al Maqdisi
  7. Talkhisul Khabir, Ibnu Hajar

Dan kitab-kitab bermanfaat lainnya yang diakui oleh para ahli ilmu” (selesai perkataan Syaikh bin Baz) [Majmu’ Fatawa Al Allamah Abdul Aziz bin Baz, Juz.26 Hal.332].

Maka alangkah baiknya jika kita menggunakan kitab-kitab yang bagus dan bermanfaat dan menghindarkan diri dari hadits-hadits palsu dan dhoif. Wallahu A’lam Bis Showab. 

yy/muslimdaily