<
pustaka.png
basmalah.png

Mulia dengan Sedikit Mahar

Mulia dengan Sedikit Mahar

Fiqhislam.com - Bagi sebagian masyarakat, mahar pernikahan merupakan kesempatan bagi calaon pengantin wanita dan keluarganya untuk mengeruk harta calon pengantin pria.  kapan lagi kesempatan ini datang kembali, pikir mereka.  Jadilah mahar ditetapkan dengan nilai yang begitu tinggi.

Melihat tingginya nilai mahar tersebut, terkadang ada calon pengantin pria yang mnegurungkan niatnya untuk menikahi wanita itu dan memilih wanita lain yang ringan maharnya.  Di sisi lain, karena tuntutan mahar yang tinggi, maka calon mempelai pria pun sibuk mencari uang untuk membayar mahar tadi.  Akhirnya ia pun melalaikan urusan lain yang lebih penting seperti menuntut ilmu syar'i.  Serumit inikah masalah mahar?

Mahar dalam islam bukanlah tujuan utama dan bukan penilaian harga seorang wanita.  Islam justru mensyariatkan mahar yang mudah dan tidak berlebihan.  Rasulullah SAW bersabda, "sebaik-baiknya mahar adalah yang paling ringan". (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah bagaimana Nabi mencukupkan mahar Ali bin Abi Thalib dengan putrinya tercinta, fatimah dengan sebuah baju besi baja?  demikian pula Ummu sulaim -seorang wanita calon penghuni surga- menikah dengan Abu Thalhah dengan mahar keislaman Abu Thalhah.

Mahar bukanlah hendak menjadikan wanita sebagai barang barter.  Justru mahar itulah bentuk pemuliaan dan penghormatan islam terhadap fitrah wanita, yang menyukai harta dan berhias.  Maka pemberian mahar merupakan bukti keseriusan pria tersebut untuk menikahi sang wanita. Masalahnya sekarang, siapa yang bersedia mulia dengan mahar yang sedikit?

Ummu Hamzah | dwiastuti44.cybermq.com

 

top