fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


9 Ramadhan 1442  |  Rabu 21 April 2021

Saat Menghadapi Mizan

Saat Menghadapi Mizan

Fiqhislam.com - Mizan termasuk perkara ghaib, yang Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menyuruh kita untuk beriman padanya, tanpa menambah dan mengurangi. Inilah hakikat iman. Betapa merugi orang-orang yang mendustakan perkara ghaib dan mengingkari diletakkannya mizan.

Dalam kehidupan sekarang ini kita melihat ada sekelompok orang menghina ayat Ar-Rahman serta mengolok-olok perkataan Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, kemudian dengan lancang berkata layaknya perkataaan seorang penganut ajaran anti-tuhan yang hina dan pengecut, “Tidak ada yang membutuhkan timbangan, kecuali tukang sayur dan tukang kacang.” Betapa berani dia, seakan-akan dia bukan termasuk orang yang diberlakukan timbangan atas dirinya.

Karena kebodohan, ketololan, dan hati yang tertutup, ia mengira bahwa timbangan di akhirat sama seperti timbangan di dunia. Merupakan sesuatu yang pasti bahwa seluruh perkara yang berkaitan dengan akhirat selamanya tidak bisa diukur dan disamakan dengan kondisi yang ada di dunia.

Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menukil ijma’ dari ahli sunnah tentang keimanan pada mizan bahwa mizan mempunyai lisan dan dua sisi timbangan, dan amal manusia akan ditimbang di mizan ini pada hari kiamat.

Imam Abu Al-Izz Al-Hanafi berkata di dalam kitab Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiah yang terkenal itu, “Sunnah menunjukkan bahwa mizan yang digunakan untuk menimbang amal manusia pada hari kiamat mempunyai dua sisi timbangan yang nyata lagi riil.”

Sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mengetahui tentang segala bentuk yang ada di belakangnya. Tidak ada yang mengetahui hakikat, tabiat, dan bentuk mizan, kecuali Raja Yang Maha Pengasih. Bila tidak, bisakah kita menggambarkan mizan yang diletakkan pada hari kiamat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam,

“Sekiranya langit dan bumi ditimbang di mizan itu, niscaya ia mampu menimbangnya.”

Bagaimana Anda bisa menggambarkan mizan ini?

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim di dalam kitab Al-Mustadarak, yang ia nyatakan sesuai dengan syarat Muslim, dan Adz-Dzahabi menyetujui pernyataan Hakim ini, dari Salman Al-Farisi, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

“Mizan diletakkan pada hari kiamat, sekiranya langit dan bumi ditimbang di dalamnya, tentu Ia sanggup menimbangnya. Ketika para malaikat melihatnya, mereka bertanya, ‘Wahai Rabb, siapa yang akan ditimbang dengannya?’ Allah berfirman, ‘Siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-Ku.’ Para malaikat berkata, ‘Mahasuci Engkau, kami tidak beribadah kepada Engkau dengan peribadahan yang sebenarnya’.”

Marilah kita merenungkannya, bahkan para malaikat mengakui bahwa mereka belum beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan peribadahan sebenarnya, disebabkan kengerian dan kedahsyatan yang mereka lihat. Sebab, mizan adalah termasuk peristiwa hari kiamat yang paling mengerikan.

Mizan adalah haq, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya': 47)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia meletakkan mizan-mizan dengan adil, dan cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penghisab. Pendapat yang rajih (disepakati) di kalangan ahli ilmu bahwa mizan pada hari kiamat adalah satu mizan.

Penyebutan jamak dalam firman Allah tersebut, menurut pendapat di kalangan ulama, bentuk jamak pada ayat itu (terkait mizan) ditujukan untuk perkara yang ditimbang di dalam mizan tersebut. Hal ini karena satu timbangan tentu dipakai untuk menimbang banyak hal.

Raja Yang Adil menjelaskan bahwa mizan bila sisinya menjadi berat meski hanya dengan satu kebaikan, berarti pelakunya akan merasakan kebahagiaan selamanya, tidak akan diakhiri dengan kesengsaraan. Akan tetapi, bila salah satu sisinya menjadi ringan, meski hanya karena satu keburukan, pelakunya akan merasakan kesengsaraan abadi, yang tidak diakhiri dengan kebahagiaan selamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” (Al-Mu’minun: 101-104)

Lihatlah kejelian keadilan Allah, barangsiapa yang mizannya menjadi berat, meski hanya karena satu kebaikan, maka ia akan merasakan kebahagiaan abadi yang tak berakhir dengan kesengsaraan selamanya. Akan tetapi, bila mizannya menjadi ringan, meski hanya karena satu keburukan, maka ia akan mengecap kesengsaraan abadi, yang tak berujung dengan kebahagiaan selamanya.

Adapun bila timbangannya seimbang, yang amal kebaikan dan keburukannya sama, menurut pendapat yang rajih, mereka itu termasuk golongan Al-A’raf, yaitu amal keburukan mereka menghalanginya untuk masuk surga dan amal kebaikan mereka mencegahnya untuk masuk neraka.

Mereka tertahan di satu jembatan antara surga dan neraka. Bila golongan Al-A’raf ini menoleh ke penduduk surga, mereka akan memberi salam, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…Salamun ‘alaikum, mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (Al-A’raf: 46)

Golongan Al-A’raf ini begitu mengharap rahmat Allah agar mereka bisa masuk ke dalam surga. Bila mereka menengok ke arah yang lain, dan melihat penghuni neraka, mereka berdoa kepada Allah Yang Maha Mengetahui, semoga mereka tidak dimasukkan ke dalam barisan orang-orang yang zalim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raf itu ada orang-orang yang mengenal tiap-tiap dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka, dan mereka menyeru penduduk surga, `Salamun ‘alaikum.’ Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu’.” (Al-A’raf: 46-47)

Dengan demikian, wahai muslim yang bertauhid, bila Anda telah memahami hakikat mizan Allah, hendaknya Anda tidak meremehkan satu pun dari amal shaleh, meski sedikit, dan tidak menggampangkan satu kemaksiatan, meski bentuknya kecil. Ketahuilah, bahwa dengan satu kebaikan, mizan bisa menjadi berat, dan dengan satu keburukan, mizan bisa menjadi ringan. Bahkan, dengan satu kata saja, kita akan meraih ridha Ar-Rahman. Begitu pun dengan satu kata, kita bisa mendapatkan murka Al-Jabbar.

Di dalam satu hadits dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang membuat Allah ridha, sedang ia tidak pernah memperhitungkannya, namun dengannya Allah akan mengangkat (derajatnya) di surga. Dan seorang hamba mengucapkan satu kata yang membuat Allah murka, sedang ia tidak pernah memperhitungkannya, namun dengannya Allah akan mencampakkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi)

Sering kali kita meremehkan kata-kata yang terucap. Berapa banyak perkataan yang menyebabkan peperangan antara beberapa bangsa dan Negara? Berapa banyak peperangan yang menjadi padam hanya karena beberapa kata?

Maka ketahuilah dengan yakin bahwa satu kata bisa memasukkan orang ke dalam agama Allah. Dengan satu kata, Anda bisa membangun rumah, atau merobohkannya. Dengan satu kata, wanita dapat menjadi halal bagi seorang pria, dan satu kata bisa menyebabkan seorang wanita haram bagi seorang lelaki.

Kata mempunyai urgensitas yang begitu dahsyat di dalam agama Allah. Satu kata bisa mewujudkan ridha Allah, satu kata bisa menjerumuskan seseorang ke murka-Nya.

Jadi, satu kata yang baik, bisa memberatkan mizan seorang hamba sehingga memasukkannya ke dalam surga, dan satu kata buruk bisa meringankan mizan seseorang sehingga menjerumuskannya ke dalam neraka.

Oleh karena itu, disebutkan di dalam Shahih Muslim satu hadits dari Abu Dzar r.a bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

“Janganlah kamu meremehkan satu kebaikan sedikit pun, meski hanya menemui saudaramu dengan wajah yang cerah.”

Jangan Anda katakan, ini adalah amalan sepele, ketaatan yang tidak seberapa. dan kurang berharga! Berapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat? Berapa banyak amal besar yang menjadi hina karena niat?

Maka dari itu, janganlah meremehkan satu amal kebaikan pun wahai kaum muslimin. Tentunya, Anda sangat mampu menampakkan wajah yang ceria di hadapan saudara-saudara Anda. Tidak ada satu rumah pun yang terbebas dari problema. Namun, senyuman yang mungkin Anda remehkan itu, akan mampu menggembirakan hati yang sedih. Senyuman Anda sangat mungkin mampu menghilangkan penyakit psikologis saudara Anda.

Dengan demikian, apa dosa saudara Anda sehingga Anda harus menemuinya dengan muka masam dan cemberut? Padahal, Rasulullah telah memberitahu kita, sebagaimana termaktub di dalam hadits dari Abu Hurairah:

“Bahwasanya seorang pelacur melihat seekor anjing sedang berputar mengelilingi sumur di siang yang panas, ia menjulur-julurkan lidahnya karena haus. Lalu wanita itu mencopot sepatunya dan memberi minum anjing itu dengannya, sehingga ia diampuni (karena tindakannya ini).” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud)

Bila mengasihi seekor anjing saja bisa menghapus dosa pelacuran, lantas bagaimana dengan tindakan mengasihi orang yang bertauhid kepada Rabb langit dan bumi?

Benar, kita begitu memerlukan kasih sayang, kita membutuhkan kelembutan. Kasih sayang dan kelembutan selamanya tidak menimbulkan kehancuran dan kerusakan. Adapun kekerasan dan kebengisan hanya akan menghancurkan dan merusak.

Begitulah ketetapan Allah yang berlaku di dalam ciptaan-Nya. Tidak ada kelembutan pada sesuatu, kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan hilang dari sesuatu, kecuali ia menistakan sesuatu itu.

Di dalam satu hadits dari Ibnu Umar r.a, bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

“Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati, sehingga ia masuk neraka karena kucing ini. la tidak memberinya makan dan tidak memberinya minum, namun mengurungnya, ia tidak melepaskannya sehingga ia bisa makan serangga tanah.” (HR Bukhari, Muslim)

Oleh karena itu, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menyuruh kita, sebagaimana termaktub di dalam hadits dari Adi bin Hatim r.a:

“Jagalah diri kalian dari neraka meski dengan separuh biji kurma (yang disedekahkan).” (HR Bukhari, Muslim)

Seorang hamba bisa selamat dari neraka karena separuh biji kurma yang ia sedekahkan. Sebab, bila mizan menjadi berat karena satu kebaikan, seorang hamba akan berbahagia selamanya dan tidak akan sengsara. Bila mizan itu menjadi ringan karena satu keburukan, si hamba akan sengsara dan tidak akan bahagia.

Bila kedua sisi seimbang, ia termasuk golongan Al-A’raf. Menurut jumhur ahli ilmu, Allah akan merahmatinya dan memasukkannya ke dalam surga.

yy/hidayatullah
Dari buku Detik-detik Pengadilan Allah karya Syaikh Muhammad Hassan