4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Bersikap Adil adalah Perintah tapi Lebih Adil Lebih Disukai Allah

Fiqhislam.com - Dalam rangkaian al-Asma al-Husna akan kita dapati dua sifat Allah yang punya terjemahan sama yaitu Al-‘Adl dan Al-Muqsith, keduanya dalam terjemahan bahasa Indonesia sama-sama diartikan sebagai “Maha Adil”, hal ini dapat dimaklumi karena khasanah perbendaraan kata dalam Bahasa Indonesia tidak sekaya Bahasa Arab. Inilah salah satu hikmah mengapa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Untuk menjelaskan perbedaan kedua kata ini, kita dapat mengutip penjelasan dari Quraish Shihab dalam bukunya “Berbisnis Dengan Allah”.

Dari susunan hurufnya saja sudah tampak jelas berbeda. ‘Adl atau ‘Adel atau ‘Adil dibentuk dari Ain, Dal, Lam, sedangkan Muqsith diambil dari kata dasar Aqasatha. Terdapat dua macam pendapat dari para ulama dalam memperlakukan atau mendefinisikan al-Adl dengan al-Muqsith ini.

Yang berpendapat bahwa kedua kata tersebut bermakna atau berarti yang sama, hal ini berdasarkan kedua kata tersebut ditemukan berdampingan dalam beberapa ayat:

  • “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (tuqsithu) terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (ta’dilu), maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [Q.S. an-Nisaa’ 4:3]

  • “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan (bil ‘adli), dan hendaklah kamu berlaku adil (wa aqsithu); sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [Q.S. al-Hujuraat 49:9]


Ada pula yang menganggap ‘Adl dan Muqsith tidak sama maknanya, hal ini berdasarkan pemahaman bahwa tidak ada dua kata yang berbeda huruf-hurufnya, berbeda timbangan katanya (sekalipun berasal dari akar kata yang sama) mempunyai makna yang sepenuhnya sama. Salah satu ulama yang membedakannya adalah Imam al-Ghazali yang menyebutkan makna dari al-Muqsith:

“Al-Muqsith adalah Yang memenangkan atau membela yang teraniaya dari yang menganiaya. Kesempurnaan sifat ini adalah dengan menjadikan yang teraniaya dan yang menganiaya sama-sama senang atau rela.”

Sang Hujatul Islam ini memberikan sebuah ilustrasi dari al-Muqsith ini:

Di akhirat datang seorang yang teraniaya di hadapan Allah S.W.T. mengadukan orang yang telah menganiayanya lalu menuntut haknya. Tetapi karena orang yang menganiaya tidak memiliki pahala amalan yang baik untuk diberikan kepada orang yang dianiayanya, maka ia pun agar dosanya dipindahkan atau dipikulkan kepada orang zalim tersebut. Allah S.W.T. kemudian memerintahkan orang yang teraniaya tersebut untuk melihat ke atas, maka dilihatnyalah sebuah istana yang megah berhiaskan berlian dan permata. Ia bertanya, “Wahai Allah, untuk siapakah istana itu?”, Allah berfirman, “Untuk yang mampu membayar harganya”, ia bertanya lagi, “Bagaimana cara membelinya?”, Allah berfirman, “Bila engkau mau memaafkannya”.

Dapat disimpulkan dari ilustrasi tersebut, Allah S.W.T. yang bersifat al-Muqsith telah memberikan keputusan dari perselisihan tersebut dengan hasil yang menyenangkan kedua belah pihak. Ilustrasi al-Muqsith ini dapat kita lihat dalam tiga ayat al-Qur’an berikut ini:

  • “Dan tegakkanlah timbangan itu dengan al-Qisth (adil agar menyenangkan pihak pembeli maupun penjualnya) dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” [Q.S. ar-Rahmaan 55:9]

  • “...dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih aqsath (adil) di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu...” [Q.S. al-Baqarah 2:282]

  • “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih aqsath (adil) pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu...” [Q.S. al-Ahzab 33:5]


Hikmah dari adanya perbedaan tingkatan antara al-‘Adl dan al-Muqsith, bahwasannya Allah S.W.T. telah memberikan manusia berupa hak balas sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
[Q.S. asy-Syuuraa 42:41-42]


Jadi kita diperbolehkan untuk menuntut hak tersebut, namun Allah S.W.T. menawarkan yang lebih baik dari itu yaitu memaafkan sebagaimana firman-Nya:

“Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
[Q.S. asy-Syuuraa 42:43]


Dan tawaran yang lebih baik tingkatannya tidak hanya berkenaan memaafkan saja, dalam hal-hal yang lain pun Allah S.W.T. menawarkan alternatif yang lebih baik solusinya:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”
[Q.S. al-Baqarah 2:263]

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
[Q.S. al-Baqarah 2:271]

“ Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir...”
[Q.S. an-Nisaa’ 4:128]

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
[Q.S. al-Kahfi 18:46]

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
[Q.S. al-Hujuraat 49:11]

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”
[Q.S. al-Qashash 28:60]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Q.S. an-Nisaa’ 4:59]

Dokter-hanny.blogspot.com