1 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 27 September 2022

basmalah.png

Salah Paham tentang Mihnah

Salah Paham tentang Mihnah

Fiqhislam.com - Kita mulai dengan mengetahui arti mihnah, apa sebenarnya arti mihnah, sebagian besar kita mengartikan dengan pemandangan orang yang buntung tangan, buta mata dan cacat permanen. Ada sebagian lain yang mengatakan, mihnah adalah cacat yang nampak di luar dan yang mengenai salah satu sisi tubuh kita.

Mihnah adalah segala yang menelusup ke sisi hati kita yang paling dalam, sehingga pahit dan getirnya menyebabkan hati menderita.

Jadi mihnah bukanlah tampilan luar sebagian kita yang terlihat oleh mata telanjang, tetapi mihnah adalah yang kasat oleh mata kita dan tidak tertangkap oleh perasaan kita, padahal sebenarnya kalau kita tahu mihnah itu melekat di hati dan perasaan mereka. Jalan masuknya bermacam-macam dan beraneka ragam lebih luas dan longgar dari yang kita bayangkan, dan tidak ada manusia yang hidup di dunia ini kecuali mereka pernah mengalami keajatuhan di dalamnya dan merasakan deritanya.

Pangkal kesalahan pandangan kita adalah, perasaan terenyuh dan kasihan ketika melihat orang yang tuli dan buta. Kita yakin orang-orang tersebut selalu diliputi oleh rasa sakit yang tidak pernah putus dan hatinya selalu dalam kesedihan yang mendalam. Di sisi lain, kita melihat orang yang berkendaraan mewah, mobilnya menerbangkan debu-debu jalanan, di wajahnya kita tangkap aura bahagia, seakan kegembiraan selalu menari-nari mengikutinya dan hatinya tidak pernah lepas dari mabuk kebahagiaan dan kedamaian.

Kita telah pastikan dua kondisi tersebut, tanpa melongok ke hati mereka yang paling dalam. Kalau kita mau melongok sedikit saja, mengupas hatinya, maka kita akan mendapatkan diri kita telah jatuh dalam salah persepsi. Pintu kebahagian tidak hanya dari satu sisi lahir yang melekat di tubuh, dan salah besar ketika kita mengaitkan kondisi hati dengan penampilan lahir.

Seseorang yang kendaraannya tersesat dari tujuan rute perjalanannya, dalam kondisi bingung untuk mencari jalan selamat pasti akan merasakan kesedihan yang mendalam, sekalipun dirinya berada di taman yang indah dan mewangi.

Seseorang yang jatuh bangkrut oleh kondisi bisnis yang spekulatif dan tidak menentu, kemudian ia mengalami kerugian materi yang tidak kecil, padahal dirinya termasuk orang yang menari-nari dalam limpahan uang, detik demi detik pergerakannya menambah ketakutan dan kekhawatirannya. Sungguhh orang ini telah jatuh dalam kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sekalipun dalam kesehariannya kita melihatnya dalam kondisi hidup berkelimpahan dan tinggal di istana yang nyaman.

Ketika hati seseorang bergantung dengan keindahan dunia, berkhayal tentang berbagai macam kenikmatan yang akan menyertainya jika ia dekat padanya, ia merenda harapan di alam imajinasi, berkata-kata kepada dunia akan cita-citanya dan berharap itu dapat ia raih, namun tiba-tiba ada tembok tebal yang menghalangi antara dirinya dengan semua harapan dan cita-citanya. Dalam kondisi ini orang tersebut diliputi oleh pedihnya api musibah yang menyala-nyala, kelezatan dan kesenangan dunia seperti apapun tidak akan bisa memadamkannya. Dan ironinya, kita melihatnya dengan mata iri dan dengki.

Orang yang celaka dalam hidupnya, tenggelam dalam kesenangan dan hedonisme. Malamnya ia begadang di tempat-tempat maksiat, ketika pagi menjelang, matanya berat terkantuk-kantuk, begitulah rutinitas harian dalam hidupnya. Kita menganggap hidupnya bahagia, padahal hidupnya larut dalam kelap-kelip malam yang menyiksanya.

Kalau kita tahu kondisi yang sebenarnya, menyelami ke kedalaman hatinya, maka kita akan mendapatinya dalam kepedihan yang bertumpuk-tumpuk. Tidur dalam kamus hidupnya hanyalah kabut awan siksaan dan kesedihan, yang meliputi lahir dan batin, seluruh akal dan perasaannya. Di sisi lain, kebanyakan kita melihat dan merasakan bahwa tidur adalah kenikmatan istirahat yang memayungi kita setelah kita berusaha dan bekerja keras.

Mereka yang lalai dari keimanan kepada Allah swt, berkali-kali dihadapkan pada aneka pertanyaan tentang alam semesta, manusia dan akhir hidupnya, tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskan, hatinya bergolak dalam kesedihan dan kekhawatiran ketika melihat fenomena kesulitan, kesusahan, saling memusuhi dan melampaui batas.

Ia membayangkan kenikmatan di balik kondisi di atas ibarat kilat yang menakutkan dan menyambar dalam satu malam yang kelam, kilat itu lebih banyak membawa berita buruk, dan bukan berita baik. Kilat itu memberi cahaya, tapi tidak sampai menunjukkan rahasia dan kejelasan hidupnya.

Kita melihatnya sebagai orang yang bahagia, padahal sebenarnya tenggelam dalam kekhawatiran dan trauma. Bahkan kalau kita lebih jeli lagi maka kita akan melihat mihnah itu telah merasuk ke dasar otak dan pemikirannya, yang pada akhir ceritanya ia terjerumus dalam alam junun (gila) atau jalan pintas bunuh diri.

Sebaliknya, betapa banyak orang yang Allah ambil kenikmatan mata melihat dari dirinya, namun ia bisa menemukan kedamaian, kerelaan, dan kebahagiaan hati, tanpa pernah merasakan kegalauan sama sekali.

Betapa banyak kita melihat orang yang berpenampilan miskin dan susah, namun hatinya berpayungkan pengalaman bahagia yang unik, yang tidak pernah terbayangkan oleh kita kecuali dalam memori bahagia masa-masa kecil kita.

Betapa banyak orang yang lekat dengan sakit dan kelaparan, hidup dalam rasa sakit dan keridhaan yang mendalam pada realitas dan apa yang telah ditetapkan Allah atasnya.

Kami tidak mengatakan bahwa mihnah yang tampak pada tubuh adalah sebatas musibah khayalan saja, yang tidak punya pengaruh sama sekali terhadap kejiwaan kita, tapi kami ingin mengatakan bahwa yang jadi penentu dalam diri kita adalah kejiwaan kita yang merasa atau kita biasa sebut dengan kondisi kejiwaan kita. Sebenarnya musibah yang memiliki pengaruh terhadap diri kita tidak terbatas pada tampilan penderitaan manusia yang terlihat saja, kemudian kita merasa kasihan atau sedih karenanya, tapi musibah itu bermacam-macam, yang mana kebanyakan manusia pasti ditimpa oleh satu bagian dari musibah-musibah di atas.

Dengan kata lain, celaka yang menimpa salah satu dari kita bukan semata-mata karena musibah itu sendiri, sekalipun musibah itu beraneka ragam dan warna, namun sesungguhnya karena tidak lapang dan tidak kuatnya hati kita.

Kesimpulannya, yang pertama kali kita pegang dalam menjawab pertanyaan itu adalah bahwasanya pertanyaan yang dilontarkan itu adalah pertanyaaan yang salah redaksi dan susunannya sedari awal. Dan jawaban dari pertanyaan tersebut adalah:

“Mengapa manusia bertingkat-tingkat dan berbeda-beda perasaan mereka, antara sempit dan lapang dada, padahal kalau melihat fenomena rahmat dan keadilan Allah, seharusnya mereka sama dalam kebahagiaan dan kelapangan hati.”

Oleh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy


Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy lahir pada tahun 1929 di sebuah daerah yang bernama Buthan, bagian dari wilayah Turki yang terletak di perbatasan antara Turki dengan Irak bagian utara.

Pada usia empat tahun, beliau ikut ayahnya, Mullah Ramadhan untuk pindah ke Damaskus, Syria. Setelah menamatkan sekolah Islam di Damaskus, Al-Buthy kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Beliau mendapatkan gelar doktor dalam bidang hukum Islam di Universitas Al-Azhar pada tahun 1965.

Pada tahun yang sama, beliau kembali ke Damaskus dan diangkat sebagai salah satu pimpinan di Universitas Damaskus, sekaligus aktif sebagai dosen di sana. Selain itu, ia juga menjabat anggota dewan tinggi di universitas Oxford, Inggris.

Selain sebagai dosen, Al-Buthy juga aktif di berbagai konfrensi dan simposium dunia. Beliau fasih berbahasa Arab, Turki, dan Ingris. Tidak kurang dari 40 buku telah beliau tulis. Hampir setiap hari, beliau mengisi taklim di masjid Damaskus, dan berbagai masjid di Syria. Ribuan orang selalu hadir dalam setiap taklim yang beliau pimpin.