12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Wanita Hamil Membawa Bungkusan Jimat

http://3.bp.blogspot.com/_nm1UfBJQGi0/SjQUYV1DNYI/AAAAAAAAAVk/UVjD5JvdZ5k/s320/JIMAT+HA.jpg

WarnaIslam.com - Ahmad Sarwat Lc - Hal ini merupakan fenomena yag sudah lama sekali. Sejak zaman dahulu, nenek kita sering kali mempercayai hal-hal yang begituan. Tentu saja kepercayaan seperti kurang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan syariat Islam. Bungkusan seperti itu sama kedudukannya dengan jimat (tamimah), di mana Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan kepercayaan dan praktek seperti ini di dalam aqidah Islam. Dan dalil-dalil yang mengharamkannya bertabur di berbagai kitab hadits. Di antaranya:

Dari Utbah bin Amir diriwayatkan bahwa RasulullahSAW pernah ditemui oleh sekelompok orang, lalu beliau membaiat sembilan di antara mereka dan tidak membaiat satu yang tersisa. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah! Engkau membaiat yang sembilan orang, tetapi tidak membaiat yang satu ini?" Beliau menjawab, "Karena ia mengalungkan jimat." Orang itupun memasukkan tangannya ke balik bajunya dan mencopot kalung jimatnya. Lalu Rasulullah SAW membaiatnya. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang mengalungkan jimat, dia telah berbuat syirik.." (HR Ahmad -16969--)

Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (492)"

Dari Utbah bin Amir Radhiallahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengalungkan jimat, semoga Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barangsiapa yang mengalungkan wad'ah semoga Allah tidak mengiringi dirinya." (HR Ahmad -16951)

Abu Dawud meriwayatkan dari dari Isa bin Hamzah bahwa ia menceritakan: Saya pernah menemui Abdullah bin Ukaim. Kala itu ia sedang demam. Aku berkata, "Kenapa tidak engkau kalungkan saja jimat?" Beliau berkata, "Na'udzu billah min dzalik. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka ia akan disandarkan kepada jimat tersebut.."

Maka sebaiknya kepercayaan seperti itu kita kikis pelan-pelan, tetapi dengan sebuah kepastian. Sayangnya, meski masyarakat kita sudah maju, namun media massa seperti televisi bahkan film masih saja menayangkan hal-hal yang tidak masuk akal itu.

Maka ada kewajiban khusus buat kita yang sadar dan mengerti untuk berbuat sesuatu yang nyata. Sebab kita sadar betapa mengerikannya peran media massa dalam menyebarkan kebodohan dan syirik ini. Setidaknya kita harus memiliki peran tersendiri untuk bersama-sama mengakhiri semua praktek yang tidak pantas dalam agama ini.

Orang-orang tua kita perlu diajak berpikir yang lebih sehat secara aqidah. Jangan biarkan terus mereka berada dalam kegelapan yang abadi. Sebab kalau mereka nanti wafat dengan masih punya keyakinan yang salah seperti itu, mereka akan mendapatkan kesulitan di alam kubur dan di yaumil hisab.

Namun cara untuk menyampaikannya tentu tetap harus elegan, tidak asal vonis, apalagi sampai harus mengejek dan menjelekkan. Bahasa harus tetap santun, pendekatan harus tetap enak, tidak perlu menggurui dan berlagak seperti orang yang paling pintar sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc