<
pustaka.png
basmalah.png

Rahmat Allah Luas, Jangan Sempitkan

Rahmat Allah Luas, Jangan Sempitkan

Fiqhislam.com - Rahmat Allah bermakna kasih sayang Allah. Ianya tidak terbatas kepada para Nabi dan orang-orang saleh saja, tetapi meliputi seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi. Sebegitu besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk ciptaan-Nya, sehingga meskipun makhluk-Nya itu terus-menerus mendurhakaiNya, Allah tetap saja mengalirkan kasih sayangnya kepada mereka. Berbeda dengan makhluk yang umumnya menyayangi seseorang beriring pamrih. Ketika orang yang disayanginya memberikan balasan yang baik kepadanya, orang itu akan tetap menyayangi. Sebaliknya, jika dia mendapat balasan yang tidak baik, serta merta kasih sayangnya hilang berganti dengan rasa benci dan dendam.

Sering manusia menaburkan kebaikan hanya kepada orang-orang yang dikasihinya saja, dan tidak acuh kepada orang lain diluar orang yang disayanginya itu. Dengan kata lain, kasih sayangnya sangat terbatas. Yang paling buruk dari sifat manusia manakala dia ingin segala kebaikan hanya untuk dirinya dan orang-orang yang disayanginya. Suatu hari, seorang Arab badui yang sudah tua usianya masuk ke Masjid Nabi kemudian melaksanakan shalat. Lalu dia berdoa dengan suara yang keras, “Ya Allah, kasih sayangilah aku dan Nabi Muhammad, dan janganlah Engkau sayangi seorangpun yang lain melainkan kami berdua saja.” Mendengar doa itu, maka Nabi berpaling kepadanya seraya berkata, ”Sungguh engkau telah menyempitkan rahmat Allah yang luas itu!” (HR. Turmidzi nomor 146)

Betapa seringnya kita dalam kehidupan sehari-hari bertindak seperti badui tadi. Kita hanya memikirkan kebahagiaan itu adalah untuk ku, anak ku, istri ku, keluarga ku, kaum kerabat ku, handai taulan ku, golongan ku, partai ku dan lain-lain sebagainya dengan selalu memakai kata ‘ku’. Sementara orang lain semuanya seolah tersekat untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama. Betapa egoisnya pemikiran seperti ini. Padahal Rasulullah telah bersabda dalam hadits yang lain, “Manusia yang terbaik diantara kamu adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.” Artinya, selama seseorang hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya saja, maka selama itu orang tersebut tidak akan pernah mencapai derajat manusia terbaik. Semakin luas seseorang itu member manfaat kepada orang lain, maka akan semakin tinggilah derajatnya disisi Allah.

Berbuat baik dan menabur kasih sayang adalah sifat yang paling mulia, sekecil apapun perbuatan baik dan kasih sayang itu dilakukan. Mungkin orang lain tidak merasakan kasih sayang dan perbuatan baik yang dilakukan karena terlalu kecil nilainya, namun bagaimanapun disisi Allah perbuatan itu tetap dihitung dan bernilai besar di dunia maupun akhirat. Firman Allah: “Barangsiapa melakukan perbuatan baik walaupun sebesar dzarrah, Allah akan melihatnya.” (QS. Az Zilzal: 7)

republika.co.id | K.H. Tengku Zulkarnain

 

top