pustaka.png.orig
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Berbohong karena Maslahat Organisasi

Eramuslim.com - Berbohong adalah akhlak tercela yang tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk berdakwah kepada Allah swt. Terdapat berbagai nash yang mencela sifat bohong ini, diantaranya firman Allah swt :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al Mukmin : 28)

http://i39.tinypic.com/2hwletu.jpg
Sigit Pranowo, Lc

Sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya kejujuran adalah perbuatan baik dan sesungguhnya perbuatan baik menunjukkan kepada surga. Sesungguhnya seorang hamba yang berusaha untuk jujur sehingga dituliskan sebagai seorang yang jujur di sisi Allah swt. dan sesungguhnya berbohong adalah kejahatan dan sesungguhnya kejahatan menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seorang hamba yang berusaha untuk berbohong sehingga dituliskan sebagai pendusta (di sisi Allah).” (Muttafaq Alaih dan lafazh dari Imam Muslim)

Ummul Mukminin, Aisyah berkata,”Tidaklah satu akhlak yang paling dibenci oleh Rasulullah daripada berbohong. Ada seorang lelaki yang berbicara dekat Nabi saw dengan berbohong dan berbohong itu senantiasa ada didalam dirinya sehingga beliau saw mengetahui bahwa orang itu telah menunjukkan pertaubatan.” (HR. Tirmidzi dan dihasankannya juga Ahmad yang telah dishahihkan oleh al Al Bani)

Dan orang yang pertama untuk berusaha berbuat jujur dan menjauhi kebohongan adalah para da’i yang menyeru kepada Allah swt yang menjadi contoh bagi umat….

Berbohong seluruhnya diharamkan kecuali dalam hal-hal yang telah dikecualikan oleh syara’, seperti didalam sabda Rasulullah saw,”Tidak dihalalkan berbohong kecuali dalam tiga hal : perkataan seorang suami kepada istrinya demi menyenangkannya, berbohong didalam peperangan dan berbohong untuk mendamaikan manusia.” (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)

Dari Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah berkata,”Aku tidak mendengar Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) sedikitpun dalam hal berbohong kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah bersabda,’Aku tidak menganggapnya sebuah kebohongan, yaitu : seorang lelaki yang mendamaikan antara manusia yang mengatakan suatu perkataan dan tidaklah dia menginginkan darinya kecuali perdamaian. Seorang lelaki yang mengatakannya didalam peperangan dan seorang lelaki yang mengatakannya kepada istrinya dan istri yang mengatakannya kepada suaminya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh al Albani) –(www.islamweb.net)

Sesungguhnya islam tidaklah mengenal istilah mencapai tujuan dengan segala cara dan islam juga tidak dibolehkan menggunakan cara-cara yang diharamkan syariat untuk mencapai tujuan yang baik menurut syariat.

Ibnul Qoyyim didalam kitabnya “Ighotsah al Lahfan” mengatakan bahwa sesungguhnya yang diharamkan adalah mencapai tujuan-tujuan yang disyariatkan melalui cara-cara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang berarti orang itu telah menipu Allah swt dan Rasul-Nya dan memperdaya agamanya, membuat makar terhadap syariatnya. Sesungguhnya tujuannya untuk mendapatkan sesuatu yang diharamkan Allah swt dan Rasul-Nya dengan cara tipu daya seperti itu dan menghilangkan apa-apa yang diwajibkan Allah (kepadanya) dengan cara tipu daya itu.” (Ighotsah al Lahfan juz I hal 388)

Dan jika saja berbohong itu dibolehkan untuk kemaslahatan da’wah atau jama’ah tentulah Rasulullah saw akan melakukannya padahal betapa besar ujian dan cobaan yang dihadapinya dan generasi pertama islam didalam menyebarkan da’wah islam dan mengajak manusia ke jalan-Nya.

Jadi perkataan bahwa kebohongan dibolehkan untuk kemaslahatan da’wah atau kelompok adalah perkataan yang keliru atau tidak benar serta tidak memiliki landasan syar’i.