<
pustaka.png
basmalah.png

Perkara yang Dapat Melapangkan Dada

Perkara yang Dapat Melapangkan Dada

Fiqhislam.com - Sebab yang paling agung yang melapangkan dada adalah TAUHID. Sifat lapang dada seseorang sangat bergantung sejauh mana kesempurnaan, kekuatan, dan pertambahan tauhid dalam dirinya. Allahu ta’ala berfirman:

Maka apakah orang-orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya” (Az Zumar 22)

Hidayah dan Tauhid merupakan sebab terbesar yang melapangkan dada. Syirik dan kesesatan adalah sebab paling utama yang menyesakkan dan menyempitkan dada.

Di antara sebab yang melapangkan dada adalah cahaya yang dicampakan Allah dalam hati seorang hamba yaitu cahaya keimanan. Sesungguhnya ia melapangkan dada dan meluaskan serta menggembirakan hati. Jika cahaya ini hilang dari hati seorang hamba maka hatinya menjadi sempit dan sesak, Jadilah ia berada pada penjara sangat sempit dan sulit.

Perkara lain yang melapangkan dada adalah ilmu. Sesungguhnya ilmu dapat melapangkan dada dan meluaskannya hingga lebih luas daripada dunia. Sedang kebodohan mengakibatkan kesempitan, keterbatasan, dan kungkungan. Setiap kali ilmu seseorang bertambah maka dadanya semakin lapang dan luas. Namun hal ini tidak berlaku bagi semua ilmu. Akan tetapi hanya ilmu yang diwarisi dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, yaitu ilmu yang bermanfaat. Orang orang yang memilikinya adalah manusia paling lapang dada, sangat terbuka hati, lebih bagus akhlaq dan terbaik dalam kehidupan.

Faktor lain yang melapangkan dada adalah kembali kepada Allah ta’ala mencintaiNya dengan sepenuh hati, menghadapNya, merasa nikmat dengan beribadah kepadaNya. Tidak ada sesuatu yang lebih melapangkan dada seseorang daripada hal itu. Hingga terkadang seorang berkata “Jika aku berada di surga dalam kondisi seperti ini maka sungguh aku berada dalam kehidupan yang baik” Kecintaan memiliki pengaruh sangat ajaib dalam melapangkan dada, menyucikan jiwa dan menenangkan hati. Takkan mengetahuinya kecuali mereka yang pernah merasakannya. Setiap kali kecintaan menguat dan keras maka dada semakin terbuka dan lapang. Dada yang demikian tidak menjadi sempit kecuali bila melihat mereka yang lalai dan jauh dari hal tersebut. Melihat mereka menyakitkan mata baginya dan berinteraksi dengan mereka adalah demam bagi ruhnya.

Di antara perkara yang menyempitkan dada adalah berpaling dari Allah ta’ala mengaitkan hati dengan selainNya, lalai berdzikir padaNya, dan mencintai selainNya. Sebab siapa yang mencintai sesuatu selain Allah ta’ala niscaya akan disiksa dengan hal itu. Hatinya dipenjara dalam mencintai perkara tersebut. Tidak ada di permukaan bumi ini yang lebih sengsara, lebih keras perasaan, lebih menderita dalam kehidupan, dan lebih lelah hati darinya.

Di antara sebab yang melapangkan dada adalah senantiasa berdzikir dalam segala keadaan dan tempat. Dzikir memiliki pengaruh ajaib dalam melapangkan dada dan kenikmatan hati. Sementara kelalaian memiliki pengaruh ajaib pula dalam menyempitkan hati, mengungkung, dan menyiksanya.

Di antaranya pula adalah berbuat baik kepada manusia, memberi manfaat bagi mereka dengan segala yang mungkin dilakukannya, baik berupa harta, kedudukan, manfaat fisik, dan segala jenis kebaikan. Orang dermawan dan senang berbuat baik adalah manusia lapang dadanya, paling suci jiwanya dan paling nikmat hatinya. Sedangkan orang yang kikir yang tidak ada padanya kebaikan adalah manusia paling sempit dadanya, paling sengsara kehidupannya, dan paling besar kegundahan serta kegelisahannya.

Di antara sebab yang melapangkan dada adalah keberanian, Sesungguhnya keberanian memliki dada lapang jiwa besar dan hati luas. Adapun pengecut adalah manusia paling sempit dadanya serta paling terbelenggu hatinya. Tidak ada kesenangan serta kegembiraan baginya dan tidak ada pula kelezatan.

Termasuk perkara yang melapangkan dada adalah mengeluarkan kotoran hati berupa sifat-sifat tercela yang menyebabkan kesempitan hati dan siksaannya. Menghalangi antara hati dengan kesembuhannya. Sesungguhnya seseorang bila melakukan sebab sebab yang melapangkan dadanya dan tidak mengeluarkan sifat sifat tercela itu dari hatinya, maka ia tidak mendapatkan faidah memuaskan dari dadanya yang lapang, bahkan ia hanya akan memiliki dua perkara yang saling kontradiksi dalam hatinya, dan perkara paling dominan itulah yang menguasainya.

Sebab sebab lain yang juga melapangkan dada adalah meninggalkan kelebihan melihat, berbicara, mendengar, bergaul, makan, dan tidur. Sebab kelebihan dalam hal hal tersebut akan melahirkan rasa sakit, risau dan gelisah dalam hati, ia akan membatasi hati, mengungkungnya dan menyiksanya.

Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia paling sempurna dalam segala sifat yang melahirkan lapang dada, keluasan hati, kesejukan mata dan kehidupan ruh. Beliau adalah manusia paling sempurna dalam sifat lapang dada dan kehidupan ini serta kesejukan mata.

Lalu manusia yang sempurna dalam mengikuti beliau shalallahu ‘alaihi wassalam, maka dialah orang yang paling sempurna merasakan lapang dada, kelezatan dan kesejukan mata.

Sejauh mana seorang hamba mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam maka sejauh itu pula yang didapatkannya dari rasa lapang, kesejukan mata, dan kelezatan ruhnya.

Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam berada di atas puncak kesempurnaan sifat lapang dada, ketinggian nama, dan pelepasan beban dosa. Adapun bagian umatnya dari hal hal itu sesuai dengan sikap mereka dalam mengikuti beliau shalallahu ‘alaihi wassalam - wallahu musta’an-

Demikian pula bagian para pengikut beliau shalallahu ‘alaihi wassalam dari pemeliharaan Allah ta’ala dari perlindunganNya, pengukuhanNya dan pergolonganNya untuk mereka, semuanya sesuai sikap mereka dalam mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam Ada yang mengambil bagian yang sedikit dan ada pula yang mengambil bagian yang banyak. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah memuji Allah ta’ala. Dan barangsiapa mendapatkan selain itu, janganlah mencela selain dirinya sendiri.

(disadur dengan perubahan dari  Zadul Ma’ad  jilid 2, karya Ibnu Qoyim Al Jauziyah dengan tahqiq Syeikh Abdul Qadir Al Arna’uth dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, penerbit Griya Ilmu, cetakan pertama Februari 2007).

cybermq.com

 

top