fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Jauhi Dukun dan Paranormal

Fiqhislam.comRasulullah SAW bersabda: “Ruqyah (jampi-jampi), Tiwalah (Pelet), dan Tama’im (Jimat) adalah syirik” (Ahmad)

Yang dikhawatirkan dari fenomena ini yaitu di mana orang awam mulai tertipu dengan penampilan paranormal yang dibungkus jubah ustad. Orang-orang pada umumnya tentu mengira bahwa metode pengobatan sang paranormal ini menggunakan cara islam, karena penampilannya memang terlihat islami. Apalagi jika jimat dan mantera yang digunakan ditulis berbahasa Arab, maka semakin mantaplah image positif dari sudut pandang masyarakat awam tentang hal ini.

Ketahuilah, klaim yang sering diungkapkan para orang pintar tersebut dalam kemampuannya melihat jin, berinteraksi dengan alam gaib, dsb. adalah tidak lebih sebagai suatu kebohongan semata. Sebagai orang yang beriman, kita diperintahkan untuk mengimani (yakin) terhadap adanya alam gaib yang tak kasat mata. Namun ada batasannya, mengimani bukan berarti harus sampai mendalami hal yang seperti itu hingga akhirnya memiliki kemampuan supranatural dalam bersinggungan dengan hal gaib.

Allah SWT berfirman: “Allah mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang hal itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al Jinn 26-27)

Ayat Al Qur’an di atas adalah dalil bahwa manusia ditakdirkan untuk tidak dapat melihat jin dan tidak diberi kemampuan untuk mengetahui hal yang sifatnya gaib kecuali hanya sekedar di imani saja. Ya!! Cukup diimani saja. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah: “Kitab Al Qur’an ini tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk kepada mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib” (Al Baqarah 2-3).

Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya iblis dan pengikut-pengikutnya dapat melihat kamu dari tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al A’raaf 27)

Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa mengatakan bahwa dia melihat jin, maka kami batalkan persaksiannya.” (Fathul Bari, 6/530)

Baik surat Al A’raf  ayat 27 maupun pendapat imam Syafi’i merupakan persetujuan bahwa kodrat manusia adalah memang tidak bisa melihat hal gaib (jin). Namun hal ini dimaksudkan dalam pengertian manusia tidak bisa melihat jin dalam bentuk aslinya. Adapun jika jin tersebut dilihat oleh seseorang dalam bentuk binatang atau bentuk lain selain dari bentuk aslinya, maka hal itu tidak dipermasalahkan karena ada banyak hadist yang menceritakan tentang munculnya jin yang dilihat oleh para sahabat.

Ibnu Hajar berkata: “Orang yang mengklaim bahwa ia melihat sesuatu dari mereka setelah jin beralih kepada bentuk-bentuk yang lain berupa binatang, maka tidak disalahkan, karena telah datang banyak hadist perihal perubahan mereka dalam berbagai bentuk.” (Fathul Bari, 6/396)

Hendaklah sebagai muslim untuk membentengi diri dengan dzikir agar terhindar dari sihir dan keburukan-keburukan orang yang berniat jahat. Dan apabila tertimpa kesulitan, jangan sampai mengkonsultasikannya kepada para dukun dan tukang sihir. Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa mendatangi peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka shalatnya tak diterima selama 40 hari.” (Muslim)

Mayoritas kalangan mazhab Syafi’i mengatakan bahwa shalat orang tersebut tidak berpahala selama rentang waktu tersebut. (Syarah Shahih Muslim XIV/446)

Imam Nawawi berkata: “Sangat berlimpah hadist-hadist shahih yang melarang mendatangi dukun dan mempercayai ucapan mereka.” (Syarah Shahih Muslim V/25)

Mengapa Imam Nawawi melarang mendatangi dukun dan mempercayai ucapan mereka? Ini dikarenakan kemampuan gaib sang dukun hanya berasal dari bisikan setan (jin) semata. Rasulullah SAW bersabda: ”Mereka (para dukun) itu tidak ada apa-apanya.” Para sahabat berkata: ”Ya Nabi, Adakalanya mereka meramal sesuatu dan ternyata benar.” Rasulullah SAW bersabda: ”Itu adalah sesuatu yang didengar oleh jin kemudian dibisikannya kepada para walinya dan mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” (Bukhari)

Dan ketahuilah satu hal penting… Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkategorikan para dukun sebagai salah satu kafir thaghut. Berikut adalah kategorinya:

  1. Syetan yang menyeru agar beribadah kepada selain Allah SWT, dalilnya: ”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Yassin: 60)
  2. Penguasa yang menrubah hukum Allah SWT, dalilnya: ”Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.” (An Nisa: 60)
  3. Mereka yang berhukum selain dengan hukum Allah, dalilnya: ”Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)
  4. Mereka yang mengaku mengetahui perkara ghaib (dukun, paranormal), dalilnya: ”Allah mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (Al Jinn: 26-27)
  5. Orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridha dengan hal itu, dalilnya: ”Barangsiapa di antara mereka mengatakan: ’Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami berikan balasan berupa Jahannam.” (Al Anbiya: 29)

(Majmua’tut Tauhid, hal. 260)

Ibnu Quddamah Al Maqdisi berkata mengenai dukun atau orang yang memiliki kemampuan gaib: ”Mempelajari dan mengajarkan sihir adalah haram, kami tidak mengetahui ada perselisihan di kalangan ahlu ilmi tentang masalah ini.” (Al Mughni 8/151)

Bagi mereka yang berhati bersih bisa dengan jelas memahami betapa tidak baiknya meminta bantuan para dukun dalam menyelesaikan suatu perkara. Jikalau syeikh besar seperti Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan bahwa dukun itu adalah thaghut alias kafir, maka kenapa kita meminta bantuan kepada para orang kafir (dukun) ?.

alislamarrahman.wordpress.com