<
pustaka.png
basmalah.png

Pelihara Lisan Dari Menyakiti Orang lain

Pelihara Lisan Dari Menyakiti Orang lain

Fiqhislam.com - Rasulullah SAW telah mewasiatkan: “Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menimba ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga” (Abu Daud, dengan derajat hasan lighairi), dan barangsiapa yang memiliki ilmu, maka Allah pasti akan memuliakan orang itu, sebagaimana firman-Nya: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat” (Al Mujadalah 11).

Banyak saudara-saudaraku seiman dan seagama yang telah menjadi seorang hamba yang tulus ikhlas menuntut ilmu agama yang diridhoi ini. Namun begitu, bukan berarti terbebas dari persoalan. Ternyata banyak di antara mereka yang terjebak dosa, entah itu disadarinya atau tidak. Dosa yang telah diperbuat adalah dosa lisan.

Para thalibul ilmi hendaklah lebih mahir dalam menjaga kata-katanya untuk tidak mudah mencela saudaranya sesama muslim hanya dikarenakan berbeda keyakinan (pemahaman). Ironisnya, justru mereka menganggap bahwa celaan yang mereka tujukan itu meupakan upaya pelurusan akidah dan bagian dari amar ma’ruf.

Semoga Allah membimbing kita dengan hidayah-Nya dan memberi kekuatan kepada kita semua supaya lebih bisa bersabar dari mencela orang. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam” (Bukhari, haditst no. 6475).

Imam Nawawi dalam syarah haditst Arba’in menjelaskan tentang haditst di atas dimana beliau menukil perkataan Imam Syafi’i: “Maksudnya jika hendak berbicara, maka hendaklah ia berfikir dahulu, jika bicaranya tidak akan menimbulkan mudarat, hendaklah ia bicara. Namun jika bicaranya akan mendatangkan kemudaratan, hendaklah ia diam saja.

Imam Ibnu Hibban pun berkata: “Orang yang berakal budi wajib hukumnya untuk lebih banyak diam, kecuali dia yakin bahwa dia memang harus bicara.” (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul; Fudhala, hal. 45)

Ibnu Hajar menukil perkataan Yunus bin Ubaid, beliau berkata: Tidaklah aku menyaksikan orang yang selalu memperhatikan lisannya melainkan aku dapati dia sebagai orang baik dalam setiap amal perbuatannya” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/147).

Setiap muslim dianjurkan untuk selalu berhusnudzan kepada saudaranya. Alangkah bagusnya perkataan Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al Jarami, “Apabila kamu mendengar berita yang tidak kamu sukai dari saudaramu, maka carilah uzur untuknya semampumu. Jika kamu tidak mendapatkan uzur untuknya, katakan pada dirimu bahwa mungkin saudaraku itu memiliki alasan yang tidak aku ketahui” (Al Hilyah 2/285).

Maka dari perkataan-perkataan para pendahulu kita yang alim sudah jelas bahwasanya kita diwanti-wanti untuk tidak sembarangan berbicara. Berusahalah untuk menahan lidah dari kata-kata yang kurang berguna dan tetaplah menggali ilmu dengan para ahli ilmu tanpa membatasi apakah sang da’i itu berasal dari satu kelompoknya atau bukan.

Ibnu Abdul Barr meriwatkan dari Ibnu Abbas, Malik bin Dinar dan abi Hazim, “Ambillah ilmu dimanapun anda mendapatinya, dan janganlah anda menerima pendapat fuqaha yang saling membantah satu sama lain, mereka saling cemburu seperti kambing hutan saat berada di kandangnya” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi).

Adapun jika kita mendapati ada yang salah dalam dakwah sang da’i, maka hendaknya kita bisa pintar untuk menyaring mana yang salah dan yang benar. Tentunya tidak semua perkataan sang juru dakwah tersebut kita terima mentah-mentah, kita wajib bertabayun (mencari kejelasan kebenaran). Bukankah Allah telah berfirman: “Apabila ada orang fasik membawa berita kepadamu, maka telitilah perkataanya” (Al Hujurat 6). Imam Malik juga pernah menasihatkan, “Semua orang perkataannya boleh diambil dan ditolak kecuali Nabi SAW.

alislamarrahman.wordpress.com

 

top