pustaka.png
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Persaingan Yang Indah

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs548.ash1/32018_129544543734577_106264672729231_225520_475912_n.jpgKebalikan dari persatuan adalah perpecahan, sedang perpecahan mempunyai banyak sebab. Salah satu sebab perpecahan yang disana tersimpan “jerat-jerat halus” adalah adanya persaingan. Tidak dapat dipungkiri bahwa persaingan telah terjadi di antara kita, sadar atau tidak sadar beberapa elemen Islam di Indonesia menampilkan adegan persaingan yang sengit. Bukan sesuatu yang tercela jika seseorang dibawah berkehendak menyusul saudaranya yang berada diatas, dalam segala bidang. Namun permasalahannya adalah bagaimana kita mengelola potensi persaingan itu menjadi positif, win-win solution, sama-sama menang yang tidak lain adalah konsep persaingan yang indah dalam Islam. Dan berikut inilah aroma persaingan yang disitir dalam Al Quran dan Hadits, kemudian diejawantahkan dipraktikkan oleh para sahabat Nabi yang mulia, radiyalahu’anhum ajma’in, kemudian para pendahulu kita yang shalih.

mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun:61)

Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah:148)

laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifiin:26)

 

Di antara yang demikian itu, persaingan mulia yang terdapat dalam hadits tentang orang yang beribadah dan berinfak: "Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: (pertama) seseorang yang Allah mengajarkan al-Qur`an kepadanya, dia membacanya siang dan malam hari. Lalu tetangganya mendengarnya seraya berkata, 'Andaikan aku diberikan seperti yang diberikan kepada fulan, maka aku beramal seperti dia. Dan (kedua) laki-laki yang diberikan Allah harta, maka dia menggunakannya dalam kebaikan. Maka seorang laki-laki yang lain berkata, 'Andaikan aku diberikan seperti fulan, maka aku beramal seperti ia beramal." [Shahih al-Bukhari, kitab keutamaan al-Qur`an, bab ke-20, hadits no.5026]

 

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, 'Adapun hasad yang disebutkan dalam hadits tersebut maksudnya adalah ghibthah (ingin meniru), yaitu ingin mendapatkan seperti yang diperoleh orang lain, tanpa hilangnya nikmat itu dari orang lain. Berkeinginan seperti ini disebut munafasah (persaingan), maka jika dalam perbuatan taat, maka merupakan perbuatan yang terpuji.' [Fath al-Bari 1/167, dari Syarh bab 15, dari kitab Ilmu].

Di antara gambaran persaingan yang mulia adalah berlomba-lomba dalam ibadah, terkadang tidak bisa istiqamah melaksanakannya kecuali orang-orang yang bersegera, Rasulullah bersabda: "Jikalau manusia mengetahui pahala yang ada pada azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan diundi niscaya mereka melakukan undian. Dan jikalau mereka mengetahui pahala bersegera menuju shalat tentu mereka berlomba kepadanya. Dan jikalau mereka mengetahui pahala pada shalat isya dan shubuh niscaya mereka mendatanginya sekalipun sambil merangkak." [Shahih al-Bukhari, kitab keutamaan al-Qur`an, bab ke-20, hadits no.5026].

 

Kemudian tengoklah persaingan dalam kebaikan yang terjadi di antara Abu Bakar dan Umar. Tatkala mendengar pujian Rasulullah terhadap bacaan Abdullah bin Mas'ud dengan sabdanya: "Barangsiapa yang ingin membaca al-Qur`an murni sebagaimana diturunkan, maka hendaklah ia membacanya dari Ibnu Ummi Abd (Abdullah bin Mas'ud)." [Shahih Sunan Ibnu Majah karya Syaikh al-Albani, al-Muqaddimah, bab ke-11, hadits no. 114/138]. Lalu pada malam hari, Umar segera berangkat untuk memberikan kabar gembira kepada Ibnu Mas'ud. Maka Ibnu Mas'ud berkata, 'Apakah yang mendorongmu datang pada saat ini? Umar berkata, 'Aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu dengan ucapan Rasulullah. Ibnu Mas'ud berkata, 'Abu Bakar telah mendahuluimu.' Umar berkata, 'Jika ia melakukan, maka sesungguhnya ia adalah jagonya berlomba dalam kebaikan. Belum pernah kami berlomba dalam kebaikan kecuali Abu Bakar telah mendahului kami kepadanya." [Musnad Ahmad,1/38, dari Umar bin al-Khaththab, dan Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya dalam ta'liqnya terhadap musnad, 265]

 

Fragmen seperti itu terulang kembali saat Rasulullah meminta untuk bersedekah. Umar berkata, 'Kebetulan aku mempunyai harta, maka aku berkata, 'Pada hari ini aku mendahului (melebihi) Abu Bakar -jika aku bisa mendahuluinya pada suatu hari- lalu aku datang dengan setengah hartaku. Rasulullah bertanya, 'Apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu?' Aku menjawab, 'Seumpamanya (sama seperti jumlah ini).' Dan Abu Bakar datang dengan semua miliknya, maka beliau bertanya, 'Wahai Abu Bakar, apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu? Maka ia menjawab, 'Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.' Saat itulah Umar berkata, 'Aku tidak bisa mendahuluinya (melebihinya) untuk selamanya.' [Shahih Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Manaqib, bab ke-41,hadits 2902/3939]

Seperti itulah persaingan di antara sesama teman sejawat dengan rasa cinta dan hormat, bukan dengan rasa dendam dan penghinaan. Adapun persaingan yang tidak sehat (mulia), maka bermula seperti yang dijelaskan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam syarh Muslim: “Para ulama berkata, 'Persaingan kepada sesuatu adalah berlomba kepadanya dan tidak suka orang lain mengambilnya, ia adalah permulaan tingkatan sifat dengki. Adapun hasad (dengki) yaitu inginnya hilang nikmat dari orang lain)." [Syarh Shahih Muslim 18/308 dari Syarh hadits no.7 dari kitab Zuhud]. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan pengertian dengki dengan ucapannya: 'Maka yang dicela bahwa engkau mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari saudaramu sesama muslim. Sama saja engkau mengharapkan agar nikmat itu kembali kepadamu… Sesungguhnya hal itu menjadi tercela karena di dalamnya mengandung menyalahkan Allah dan sesungguhnya Dia memberikan nikmat kepada orang yang tidak berhak menerimanya.' [Al-Jami' li Ahkamil Qur'an 2/71 dari tafsir surah al-Baqarah: 109].

Persaingan yang membawa kepada sifat dengki inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah apabila sudah ditaklukkan kerajaan Persi dan Romawi, beliau bersabda: "Kamu saling bersaing, kemudian saling mendengki, kemudian saling membelakangi, kemudian saling membenci…" [Shahih Muslim, kitab Zuhud, bab ke-7, hadits no. 2962]. Itulah yang terlarang dalam sabdanya: "Janganlah kamu suka mendengar (isu, atau semisalnya), janganlah mencari-cari aib orang lain, janganlah saling bersaing (bukan dalam urusan kebaikan atau akhirat), janganlah saling mendengki, janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara." [Shahih al-Bukhari, kitab adab, bab 57, hadits no.6064].

Sesungguhnya masyarakat yang urusannya adalah persaingan yang mulia, anak kecil berlomba untuk ikut serta dalam berperang, para wanita bersaing untuk membantu para mujahidin, pemudanya melecut segala potensi kebaikannya, manusia bersaing untuk menghapal al-Qur`an dan mengamalkan sunnah Rasulullah. Dan ketika suasana seperti ini sudah hilang, jadilah persaingan dalam memperbanyak harta benda, kuasa, pengaruh bahkan mad’u.

Dan yang lebih berbahaya dari semua ini adalah persaingan orang-orang malas dan bodoh, yang menunggu dilimpahkan nikmat Allah kepada mereka, di atas kebodohan dan kelemahan semangat mereka. Dan sekalipun nikmat ini tidak meliputi mereka, mereka tetap duduk berdiam diri. Mereka hanya digerakkan oleh semangat jahat untuk melakukan tipu daya kepada orang-orang bekerja, dengki terhadap orang yang mendahului mereka, dan dendam terhadap orang yang diberikan Allah atas nikmat kepada mereka. Rasulullah telah memberi peringatan dengan sabdanya: "Telah menular kepadamu penyakit umat-umat sebelum kamu: dengki dan kebencian, dan kebencian ialah yang mencukur, mencukur agama, bukan mencukur rambut. Demi Allah yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kamu tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kukabarkan sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kamu." [Musnad Ahmad 1/165 dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2038/2641 dan dihasankan oleh Syaikh al-Arna`uth (Jami' al-Ushul 3/626)]. Salam yang sebenarnya adalah yang memberikan kesenangan hati.

Ketika tersebar jalur persaingan dalam kebaikan, seseorang tidak mengintai-intai kecuali kepada orang yang berada di atasnya dari sisi wara' dan ibadah, dakwah dan jihad. Sedang orang-orang yang terpana atas keduniaan, pengikut dan kuasa dengan pandangan hasud, Rasulullah mengingatkan mereka dengan sabdanya: "Lihatlah kepada orang yang di bawah kamu (dari sisi kehidupan dunia), dan jangan engkau melihat kepada orang yang berada di atasmu, maka sesungguhnya ia lebih pasti bahwa kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu." [Shahih Muslim, kitab Zuhud, hadits 9/2963]

Di antara perkataan para ulama yang dikutip an-Nawawi rahimahullah dalam memahami hadits di atas, Ibnu Jarir rahimahullah dan yang lainnya berkata: 'Hadits ini menggabungkan semua jenis kebaikan, karena apabila manusia melihat orang yang diberi kelebihan atasnya dalam urusan dunia, nafsunya meminta seperti itu dan menganggap sepele nikmat Allah yang ada di sisinya, sangat bernafsu untuk menambah untuk menyusul hal itu atau mendekatinya. Inilah realita mayoritas manusia. Adapun apabila ia melihat dalam urusan dunia kepada orang yang lebih rendah darinya, nampaklah atasnya nikmat Allah kepadanya, maka ia bersyukur dan merasa rendah diri, serta melakukan kebaikan padanya. [Syarh an-Nawawi terhadap Shahih Muslim 9/308-309, syarh hadits ke-9 dari kitab Zuhud.]

Dan tidak sempurna iman di hati orang yang terseret persaingan tidak terpuji kepada sifat kedengkian, sebagaimana dalam sabdanya: "Ada dua perkara yang keduanya tidak bisa berkumpul di hati hamba: iman dan sifat dengki." [Shahih Sunan an-Nasa`i karya Syaikh al-Albani, kitab zuhud, bab ke-8, hadits no.2912.]

Dan tidaklah disyari'atkan berlindung "dari kejahatan orang yang dengki, apabila ia dengki" kecuali hal itu mendorongnya bersaing secara tidak sehat; berupa tipu daya dan makar. Dan tidak adalah dosa orang yang didengki kecuali karena Allah telah memberikan karunia kepadanya dengan sebagian nikmat-Nya, atau memberi taufik kepadanya untuk memanfaatkan waktu dan kemampuannya, sehingga ia berhasil melangkah lebih ke depan dan menjadi bahan pandangan orang lain. Asy-Syaukani berkata: Dan pengertian 'apabila ia dengki', apabila ia menampakkan kedengkian yang ada di hatinya dan mengamalkan tuntutannya, dan kedengkian mendorongnya melakukan kejahatan kepada yang didengki. [Fath al-Qadir karya asy-Syaukani 5/521 saat menafsirkan surah al-Falaq.]

Ingatlah cerita kedua putra Adam dalam firman Allah:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain(Qabil). Ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". (QS.al-Maidah5:27)

Dan orang yang beruntung adalah yang ditetapkan Allah bahwa ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, seperti yang dilakukan oleh putra Adam yang pertama ketika ia berkata: "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam". (QS. Al-Maidah:28)

Dan terus berulang cerita pada keturunan Adam tentang kedengkian atas dunia, atau cemburu karena kepentingan semu (ilusi) atau karena sebab yang lain.

Diantara pintu terjatuh dalam persaingan tidak mulia: yaitu yang terjadi di antara teman sejawat dari para ahli satu disiplin ilmu, atau satu profesi, atau kedudukan sosial, dll. Dimana setiap orang menunggu-nunggu kejatuhan yang lain.

Di antara berita gembira dari Rasulullah untuk mereka yang berlomba dalam persaingan yang mulia dan bebas dari sifat hasud: sesungguhnya mereka adalah golongan pertama yang memasuki surga: "Hati mereka di atas hati seorang laki-laki (semuanya satu hati dan sikap), tidak ada rasa benci di antara mereka dan tidak kedengkian." [Shahih al-Bukhari, kitab permulaan wahyu, bab ke-8, hadits no. 3254.]

Demikianlah gambaran konsep persaingan yang indah. Semoga hati kita makin tergerak untuk berlomba dan bersegera, namun dengan perlombaan dan ketersegeraan yang mulia. Itulah persaingan yang indah. Sehingga diatasnyalah bangunan persatuan Islam tegak dan berdiri kokoh.

islamhouse.com | belajarislam.com
Sumber: Fastabiqul khairat (Persaingan yang Mulia), Mahmud Muhammad al-Khazandar