<
pustaka.png
basmalah.png

Hubungan Final Masyarakat Islam Dengan Ahlul Kitab

Hubungan Final Masyarakat Islam Dengan Ahlul Kitab

Fiqhislam.com - Perangilah orang-orang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah denga patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putra Allah", dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. Hai orang-orang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dna perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dahi mereka, lambung da punggung mereka (lalu dikatakan) pada mereka, "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS. At-Taubah [9] : 30-35)

Potongan ayat dalam surat at-Taubah ini bertujuan menegaskan hukum-hukum final tentang hubungan masyarakat Islam dengan ahlul Kitab, sebgaimana potongan ayat pertama darinya bertujuan menegaskan hukum-hukum final tentang hubungan masyarakat Islam dengan kaum musyrik di Jazirah Arab.

Apabila ayat-ayat di potongan pertama secara eksplisit menghadapi realita di Jazirah Arab pada waktu itu, berbicara tentang orang-orang musyrik didalamnya, dan mendefinisikan sifat-sifat, kejadian-kejadian, da peristiwa-peristiwa yang bersentuhan langsung dengan mereka, maka ayat-ayat di potongan kedua ini —yang hanya terkait dengan Ahlul Kitab— bersifat umum dalam lafaz maupun maknanya, ia mencakup seluruh Ahlul Kitab, baik mereka yang tinggal di Jazirah Arab maupun yang tinggal diluarnya.

Hukum-hukum final yang tercantum dalam potongan ayat-ayat ini mengandung tiga revisi mendasar terhadap kaidah-kaidah yang sebelumnya menjadi landasan hubungan antara orang-orang Islam dengan Ahlul Kitab, terutama orang-orang Nasrani. Sebelum itu telah terjadi beragam peristiwa dengan orang-orang Yahudi, namun hingga detik ini, sama sekali belum pernah terjadi satupun peristiwa dengan orang-orang Nasrani.

Revisi paling mendasar dalam hukum-hukum baru ini adalah perintah memerangi Ahlul Kitab yang menyeleweng dari agama Allah hingga merek amau membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk, tidak lagi bisa diterima dari mereka permintaan perjanjian damai dan gencatan senjata, kecuali yang didasarkan atas asas ini, asas pembayaran jizyah. Dalam keadaan seperti ini mereka berhak mendapatkan hak-hak orang hak-hak orang dzimmi mu'ahid (Ahlul Kitab yang memperoleh jaminan dan mengadakan perjanjian damai) dan mewujudlah perdamaian antara mereka dengan orang-orang Islam, sedangkan jika mereka rela Islam menjadi akidah mereka lalu mereka memeluknya, maka mereka adalah bagian dari umat Islam.

Sungguh mereka tidak dipaksa memeluk Islam. Sebab, kaidah Islam yang permanen adalah "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam". (QS. Al-Baqarah [2] : 256). Meski demikian, mereka tidak dibiarkan memeluk agama mereka (agama selain Islam) kecuali dengan membayar jizyah dan sesudah terjadinya perjanjian antara mereka dengan orang-orang Islam atas asas ini.

Revisi terakhir dalam kaidah-kaidah interaksi antara masyarakat Islam dengan Ahlul Kitab tidak akan bisa dipahami menurut tabiat aslinya kecuali dengan pemahaman yang mendalam dan tercerahkan, pertama-tama, tentang tabiat hubungan-hubungan final antara manhaj (methode) Allah dan manhaj-manhaj jahiliyah, sedang yang kedua, tentang tabiat manhaj pergerakan Islam, fase-fasenya yang banyak, dan sarana prasaranya selalu baru yang setara dengan realita kemanusiaan yang senantiasa berubah.

Tabiat hubungan-hubungan final antara manhaj Allah dan manhaj-manhaj jahiliyah adalah ketidakmungkinan hidup berdampingan kecuali dibawah naungan situasi kondisi dan prasyarat tertentu, landasannya adalah tidak boleh ada satupun penghalang-penghalang materialisme yang bersumber dari kekuatan negara, dari sistem hukum, dan dari situasi kondisi masyarakat di muka bumi yang berdiri tegak melawan maklumat umum yang dikandung Islam untuk membebaskan manusia dengan beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala semata dan keluar dari peribadatan manusia kepada manusia! Itu terjadi karena manhaj Allah ingin berkuasa, untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan hamba kepada penyembahan Allah subahanau wa ta'ala saja —seperti maklumat umum Islam— sedangkan manhaj-manhaj jahiliyah ingin, dalam rangka memerptahankan eksistensinya, memberangus dan juga menumpas gerakan (yang bergerak di bumi dengan) manhaj Allah!

Sedangkan tabiat manhaj gerakan Islam adalah menghadapi realita manusia ini dengan sebuah gerakan yang setara dengannya atau dengan yang lebih unggul darinya, dalam fase-fase yang tidak sedikit, yang punya sarana dan prasarana yang beragam. Hukum-hukum temporal dan hukum final dalam hubungan antara komunitas Islam dan komunitas-komunitas jahiliyah merepresentasikan sarana dan prasarana yang ada dalam fase-fase itu.

Dalam rangka mendefinisikan tabiat hubungan ini, ayat-ayat Al Quran dalam potongannya surat at-Taubah ini mendefinisikan hakikat sesuatu yang diyakini Ahlul Kitab, ia menegaskan bahwa sesuatu itu adalah kemusyrikan, kekafiran, dan kebatilan. Ia mendahuluinya dengan menyebutkan perisitwa-peristiwa yang menjadi landasan hukum ini, baik dari realita iktikad-iktikad Ahlul Kitab dan keseuaian serta kesamaan antara mereka dengan orang-orang kafir yang terdahulu maupun dari perilaku-perilaku dan tindakan-tindakan nyata mereka.

Adapun ayat-ayat diatas menegaskan tentang hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mereka tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata'ala dan hari akhir.

Kedua, mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah Subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya.

Ketiga, mereka tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah Subhanahu wata'ala).

Keempat, ada diantara orang Yahudi yang mengatakan, "Uzair putra Allah", dan ada dari orang Nasrani yang mengatakan, "Al Masih putra Allah" dan mereka, dalam hal dua perkataan mereka ini, meniru perkataan orang-orang kafir sebelum mereka yang terdiri atas para paganis Yunani, paganis Romawi, paganis India, paganis Mesir, atau orang-orang kafir lainnya. (Perlu diketahui bahwa Trinitas dikalangan para pemeluk Nasrani dan klaim Allah punyai anak dari mereka atau dari pemeluk Yahudi dicomot dari paganisme-paganisme terdahulu, bukan berasal dari ajaran asli Nasrani atau Yahudi.)

Kelima, mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, sebagaimana mereka menjadikan al-Masih sebagai Tuhan. Dan mereka, dengan melakukan semua itu, telah menyelisihi perintah yang diberikan kepada mereka untuk menauhidkan Allah Subhanahu wata'ala dan tunduk kepada-Nya semata, dan mereka, karena tindakan ini adalah orang-orang yang musyrik!

Keenam, mereka memerangi agama Allah Subhanahu wata'ala dan hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan mereka, karena tindakan ini, adalah orang-orang yang kafir!

Ketujuh, banyak dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani yang memakan harta orang banyak dengan cara yang batil serta menghalangi-halangi manusia dari jalan Allah.

Atas dasar sifat-sifat dan definisi tentang hakikat sesuatu yang diyakini Ahlul Kitab ini, ayat-ayat diatas menetapkan hukum-hukum final yang menjadi landasan bagi semua jenis hubungan antara mereka dengan orang-orang yang beriman kepada agama Allah dan yang melaksanakan manhaj Allah.

Tampak demikian jelas bahwa penegasan hakikat sesuatu yang diyakini Ahlul Kitab ini adalah sesuatu yang mengagetkan, dan ia berbeda dengan ketetapan-ketetapan sebelumnya dalam Al Quran tentang mereka, sehingga kaum orientalis, misionaris, dan antek-anteknnyapun dengan mudah mengatakan dan menuduh Rasulullah Shallahu alaihi wassalam mengubah pendapat-pendapatnya dan hukum-hukumnya tentang Ahlul Kitab tatkala ia telah merasa kuat dan mampu untuk menandingi mereka!

Namun, telaah ulang yang objektif terhadap ketetapan-ketetapan Al Quran, baik yang Makkiyah ataupun Madaniyah, tentang Ahlul Kitab, memperlihatkan dengan jelas bahwa tidak ada sesuatupun yang berubah pada sudut pandang asli Islam terhadap iktikad-iktikda Ahlul Kitab yang ketika ia datang, ia mendapati mereka memedominasinya!

Islam mendapatkan penyelewengan dan kebatilan mereka, mendeapati kemusyrikan Ahlul Kitab dan kekafiran mereka terhadap agama Allahyang benar, bahkan terhadap apa yagn diturunkan kepada mereka dan terhadap bagian yang dianugerahkan kepada mereka sebelum itu.

Berikut ini kami sampaikan beberapa contoh penegasan Al Quran tentang Ahlul Kitab dan hakikat sesuatu yang mereka yakini. Kemudian kami memaparkan sikap-sikap riil mereka terhadap Islam dan para penganutnya, sikap-sikap yang mengharuskan hukum-hukum final dalam berinteraksi dengan mereka itu.

Di Makkah tidak ada komunitas Yahudi atau Nasrani dalam jumlah dan peran yang layak diperhitungkan. Di sana hanya ada individu-individu. Al Quran bercerita tentang mereka baha mereka menyambut dakwah baru kepada Islam ini dengna suka cita, pembenaran, da penerimaan, dan mereka masuk Islam serta bersaksi untuknya dan untuk Rasul-Nya bahwa ia adalah kebenaran yang telah diterakan dalam kitab mereka. Bisa dipastikan mereka adalah dari kalangna pemeluk agama Nasrani dan Yahudi yang masih tetap dalam tauhid dan dari kelompok orang yang masih punya sedikit sisa dari kitab-kitab yang diturunkan tentang orang-orang ini turun ayat-ayat seperti dibawah ini:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ هُم بِهِ يُؤْمِنُونَ (52)وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ (53)

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). (QS. al-Qashash [28] : 52-53)

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩ (109)

Dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu. (QS. al-Isra' [17] : 108-109)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن كَانَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَكَفَرْتُم بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (10)

Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengaku (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu ia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada pemberi petunjuk kepda orang-orang yang zalim." (QS. al-Ahqaf [46] : 10)

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ ۚ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَمِنْ هَٰؤُلَاءِ مَن يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ

"Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir." (QS. al-Ankabut [29] : 47)

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (114)

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (QS. al-Anam [6] : 114)

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ ۖ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَن يُنكِرُ بَعْضَهُ ۚ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali". (QS. ar-Ra'd [13] : 36)

Respon positif ini juga berulang kali muncul di Madinah dari beberapa individu, mereka telah diceritakan oleh Al Quran dalam beberapa situasi di surat-surat Madaniyah, di sebagiannya ditegaskan secara eksplisit bahwa mereka dari kelompok orang-orang Nasrani, karna orang-orang Yahudi telah mengambil sikap berbeda dengan sikap yang diambil oleh beberapa individu dari mereka di Makkah, pada saat mereka mulai merasakan bahaya Islam di Madinah.

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (199)

Dan sesungguhnya diantara Ahlul Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali-Imran [3] : 199)

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (82)وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (83)وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ (84)أَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (85)

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?". Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. al-Maidah [5] : 82-85)

Tetapi, sikap individu-individu tersebut tidak menceriminkan sikap mayoritas Ahlul Kitab di Jazirah Arab, terutama Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab, sejak merasakan bahaya Islam di Madinah, mereka telah mempropagandakan peperangan yang keras terhadap Islam. Mereka menggunakan seluruh sarana yang telah dikisahkan Al Quran tentang mereka dalam banyak ayat. Dan, dalam waktu yang sama mereka juga menolak masuk Islam, memungkiri berita kerasulan Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Wallahlu'alam.

oleh Sayyid Qutb
eramuslim.com
 
top