18 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 24 Oktober 2021

basmalah.png

Qona'ah-kah Kita?

Qona'ah-kah Kita?Rakus dan tamak adalah penyakit kronis yang bisa menghancurkan seseorang, membelenggu mereka dari berbuat kebaikan dan mendorong mereka terjungkal dalam perbuatan nista dan durjana. Penyakit tamak adalah penyakit yang bisa diobati dengan resep manjur berupa syukur nikmat dan qanaah atas karunia Sang Maha Pemberi. 

Orang-orang yang tamak dan rakus adalah mereka yang tidak menyadari bahwa dunia ini bersifat fana dan cepat berlalu. Dunia menjanjikan keabadian namun dia akan segera ingkar janji. Manusia melihatnya dia diam tiada gerak namun sebenarnya dia bergerak demikian cepat menuju kesirnaan. Namun yang melihatnya tidak merasa gerakannya yang demikian cepat menuju ujung kebinasaan. Dunia ini, sebagaimana dikatakan Hasan Al-Bashri, laksana mimpi-mimpi dalam tidur atau sebagaimana bayang-bayang yang segera lenyap, namun orang-orang yang cerdas tidak akan pernah tertipu dengannya. 
 
Rasulullah bersabda : Apa urusanku dengan dunia. Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia ini bagaikan seseorang yang berjalan di musim yang panas yang sangat menyengat, kemudian dia bernaung di bawah naungan daunnya dalam beberapa waktu kemudian dia pergi dan meninggalkannya untuk selamanya (HR. Tirmidzi). 
 
Maka sepantasnya bagi kita untuk bekerja sebaik-baiknya dan tidak terbuai dengan angan yang terus memanjang yang menjadikan kita lupa, dan jangan pula kita condong overdosis pada dunia karena dia akan menipu kita. Dia akan menampilkan seluruh pesonanya agar kita terlena, mabuk dalam jerat-jeratnya dan membuat hati terperangkat di dalamnya apabila jiwa kita menikmatinya. Maka marilah kita melihat dengan mata hati yang cerdas. Dunia itu tempat beramal kita, yang banyak uji cobanya, yang sering kali dicela manusia-manusia utama, karena mencintanya akan segera usai, kebaikannya hanya dinikmati terbatas, yang memilikinya juga akan meninggalkannya. 
 
Dalam sebuah hadits yang diriwayakan dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda : Ada tiga yang akan mengikuti mayit : keluarganya, harta dan amalnya. Dua yang pertama akan pulang meninggalkannya dan hanya tersisa hanya amalnya (HR. Bukhari Muslim). 
 
Manusia serakah akan senantiasa menghitung-hitung dan mengkalkulasi harta yang dimilikinya dan mengira bahwa hartanya akan membuatnya terus abadi di dunia. Matahatinya buta dan gulita sehingga kesadaran intinya hilang bahwa harta dunia sifatnya sangatlah sementara. 
 
Allah menggambarkan keadaan mereka : Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (Al-Humazah : 1-3). Dalam benak pencinta dunia yang rakus yang ada hanyalah harta dan harta, uang dan uang. Dia akan terus mengutip dari orang lain dengan tangan yang sulit terbuka untuk memberi pada sesama. Sifat kikirnya berurat dan berakar kuat, mendarah daging dan bahkan masuk ke tulang sumsumnya. Tangannya senantiasa menjadi tangan yang di bawah tak pernah naik levelnya. 
 
Tidakkah mereka menyadari bahwa orang-orang yang cerdas itu bisa dilihat dari tiga sisa : Yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, dan membangun kuburnya sebelum dia memasukinya serta yang membuat Tuhannya ridha padanya sebelum dia bertemu dengan-Nya
 
Ali bin Abi Thalib memberikan gambaran tentang dunia dengan indah dan gamblang : Sesungguhnya dunia adalah bahwa barang siapa yang merasa kurang di dalamnya maka dia akan dilanda kegundahan, dan barang siapa yang merasa cukup dengannya maka dia akan banyak mendapat ujian, dalam halalnya ada hisab, dalam haramnya ada iqab (siksa) dan dalam mubahnya ada ‘itab (celaan). 
 
Maka sungguh aneh manusia yang demikian ngoyo berburu dunia namun dia melupakan akhiratnya. Tidakkah dia tahu bahwa dunia akan ditinggalkan atau meninggalkannya. 
 
Qana’ahlah dengan dunia niscaya hidup kita akan bahagia. Ukuran qana’ah kita adalah : Tidak terlalu bersuka cita dengan apa yang ada dan tidak berduka cita dengan yang hilang, baginya sama saja antara pujian dan hinaan, senantiasa merasa intim dengan Allah, terus meniti ketaatan pada-Nya, lezat berjumpa dengan-Nya. Antara cintanya pada Allah dan cintanya pada dunia bagaikan air dan udara. Demikian jauh bedanya. 
 
Fudhail bin Iyadh pernah berkata : Rumah yang dihiasi cinta dunia akan menjadi rumah yang penuh keburukan dan rumah yang dihiasi zuhud pada dunia akan bertabur kebaikan
 
Kita memang tidak anti dunia, namun overdosis mencintainya membuat kita pasti celaka!!.
 
Ust. Samson Rahman
islamedia.web.id