<
pustaka.png
basmalah.png

Haramnya Menikahi Saudara Sepersusuan

Haramnya Menikahi Saudara Sepersusuan

Fiqhislam.com - Selain mertua, syariat Islam melarang kaum Muslimin untuk menikahi saudara sepersusuan. Syariat Islam mengatur hal tersebut yang tercantum dalam QS an-Nisa ayat 23. Mereka pun termasuk dalam golongan mahram.

… Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua).”

Muhammad Bagir dalam buku Muamalah Menurut Alquran, Sunnah, dan Para Ulama menjelaskan, adanya pertalian persusuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan menjadikan perempuan itu mahram bagi si laki-laki (yakni haram dinikahi oleh laki-laki yang sepersusuan dengannya). Sama halnya seperti mahram dalam pertalian nasab.

Oleh karena itu, seorang perempuan yang pernah menyusui seorang anak laki-laki dianggap sama seperti ibu kandungnya sendiri, yakni menjadi mahram bagi anak laki-laki yang disusuinya tersebut dan karena itu haram pula untuk dinikahi. Demikian dengan saudara perempuan sepersusuannya serta semua perempuan yang haram dinikahinya disebabkan adanya pertalian nasab dengan ibu susuannya itu.


sitemap.xml


Secara terperinci, yang dianggap mahram pertalian persususan dan karenanya haram dinikahi yakni perempuan yang menyusuinya, ibu dari perempuan yang menyusuinya karena dia adalah sama seperti neneknya.

Pihak lain yang menjadi mahram yakni mertua perempuan dari ibu susuannya karena dia disamakan dengan bibinya sendiri, saudara perempuan dari suami si ibu susuan, cucu perempuan dari si ibu susuan, serta saudara perempuan sepersusuan, yakni yang bersama laki-laki itu pernah disusui oleh seorang perempuan yang sama baik dalam masa yang bersamaan atau sebelumnya ataupun sesudahnya.

Selain itu, ada dua kelompok perempuan yang menjadi mahram, yakni perempuan yang masih ada hubungan nasab (keturunan) dan perempuan hubungan pernikahan (periparan). Dijelaskan, perempuan yang dimaksud mahram karena keturunan (nasab) adalah ibu dan ibunya (nenek), ibu dari ayah, dan seterusnya dalam garis ke atas. Kemudian, anak perempuan dan anak perempuan dari anak (cucu) seterusnya ke bawah, saudara perempuan seibu seayah, atau seayah saja, atau seibu saja.

Setelah itu bibi (saudara perempuan dari ayah, kakek, dan seterusnya, serta saudara perempuan dari ibu, nenek, dan seterusnya). Kelompok lain yakni keponakan (anak perempuan dari saudara perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya serta anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya).

Sementara itu, kelompok perempuan yang mahram karena perkawinan (periparan), yakni ibu mertua, anak tiri (anak perempuan bawaan dari istri, dengan syarat apabila telah berlangsung hubungan seksual antara ibunya itu dengan ayah tirinya. Namun, jika belum berlangsung hubungan seperti itu, lalu si ibu sudah telanjur dicerai, maka anak perempuan tersebut masih boleh dinikahi oleh mantan ayah tirinya. Kemudian, menantu perempuan dan ibu tiri. [yy/republika]

 

Haramnya Menikahi Saudara Sepersusuan

Fiqhislam.com - Selain mertua, syariat Islam melarang kaum Muslimin untuk menikahi saudara sepersusuan. Syariat Islam mengatur hal tersebut yang tercantum dalam QS an-Nisa ayat 23. Mereka pun termasuk dalam golongan mahram.

… Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua).”

Muhammad Bagir dalam buku Muamalah Menurut Alquran, Sunnah, dan Para Ulama menjelaskan, adanya pertalian persusuan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan menjadikan perempuan itu mahram bagi si laki-laki (yakni haram dinikahi oleh laki-laki yang sepersusuan dengannya). Sama halnya seperti mahram dalam pertalian nasab.

Oleh karena itu, seorang perempuan yang pernah menyusui seorang anak laki-laki dianggap sama seperti ibu kandungnya sendiri, yakni menjadi mahram bagi anak laki-laki yang disusuinya tersebut dan karena itu haram pula untuk dinikahi. Demikian dengan saudara perempuan sepersusuannya serta semua perempuan yang haram dinikahinya disebabkan adanya pertalian nasab dengan ibu susuannya itu.


sitemap.xml


Secara terperinci, yang dianggap mahram pertalian persususan dan karenanya haram dinikahi yakni perempuan yang menyusuinya, ibu dari perempuan yang menyusuinya karena dia adalah sama seperti neneknya.

Pihak lain yang menjadi mahram yakni mertua perempuan dari ibu susuannya karena dia disamakan dengan bibinya sendiri, saudara perempuan dari suami si ibu susuan, cucu perempuan dari si ibu susuan, serta saudara perempuan sepersusuan, yakni yang bersama laki-laki itu pernah disusui oleh seorang perempuan yang sama baik dalam masa yang bersamaan atau sebelumnya ataupun sesudahnya.

Selain itu, ada dua kelompok perempuan yang menjadi mahram, yakni perempuan yang masih ada hubungan nasab (keturunan) dan perempuan hubungan pernikahan (periparan). Dijelaskan, perempuan yang dimaksud mahram karena keturunan (nasab) adalah ibu dan ibunya (nenek), ibu dari ayah, dan seterusnya dalam garis ke atas. Kemudian, anak perempuan dan anak perempuan dari anak (cucu) seterusnya ke bawah, saudara perempuan seibu seayah, atau seayah saja, atau seibu saja.

Setelah itu bibi (saudara perempuan dari ayah, kakek, dan seterusnya, serta saudara perempuan dari ibu, nenek, dan seterusnya). Kelompok lain yakni keponakan (anak perempuan dari saudara perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya serta anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya).

Sementara itu, kelompok perempuan yang mahram karena perkawinan (periparan), yakni ibu mertua, anak tiri (anak perempuan bawaan dari istri, dengan syarat apabila telah berlangsung hubungan seksual antara ibunya itu dengan ayah tirinya. Namun, jika belum berlangsung hubungan seperti itu, lalu si ibu sudah telanjur dicerai, maka anak perempuan tersebut masih boleh dinikahi oleh mantan ayah tirinya. Kemudian, menantu perempuan dan ibu tiri. [yy/republika]

 

Menyusui Bayi Sepersusuan

Menyusui Bayi Sepersusuan Usia Lebih Dua Tahun

Para ulama sepakat bahwa pada dasarnya hal-hal yang diharamkan karena hubungan persusuan sama dengan hal-hal yang diharamkan karena hubungan nasab. Sementara, para ulama juga berpendapat bahwa susuan yang mengharamkan ialah dua tahun.

Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid menjelaskan, para ulama berselisih pendapat soal menyusui bayi susuan yang sudah besar. Menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan ulama-ulama lainnya, susuan anak yang sudah besar tidak mengharamkan.

Sebaliknya, menurut Dawud dan ulama-ulama lainnya dari madzhab Zhahiri, hal itu mengharamkan yang mana ini adalah pendapat Sayyidah Aisyah. Sedangkan, pendapat mayoritas ulama adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lain.

Silang pendapat mereka karena ada pertentangan beberapa hadits tentang hal itu. Dalam hal ini ada dua hadits, pertama, hadits Salim dan yang kedua adalah hadits Sayyidah Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dakhala Rasulullah SAW wa indi rajulun, fasytadda dzalika alaihi, wa raitul-ghadhaba fi wajhihi faqultu: Ya Rasulallah, innahu akhi minarradhaa’ati, faqaala alaihi as-shalatu wassalamu: unzurna man ikhwanukunna minarradhaa’ati: fa inna ar-radhaa’ata minal-majaa’ati”.

“Rasulullah SAW muncul ketika ada seseorang di dekatku. Beliau merasa tidak berkenan dan tampak murka pada raut wajahnya. Bergegas aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang ini adalah saudaraku sepersusuan.’ Beliau bersabda, ‘Pikirkan baik-baik soal saudara sepersusuan kalian, sesungguhnya susuan itu karena lapar.”

Ulama-ulama yang mengunggulkan hadits ini mengatakan, air susu yang tidak sampai mengharamkan ialah yang tidak berfungsi sebagai makanan. Namun, dari hadits Salim tersebut bersifat khusus. Dan, istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lainnya juga menganggap hal tersebut adalah kemurahan bagi Salim.

Adapun ulama-ulama yang lebih mengunggulkan hadits Salim dan menganggap hadits Sayyidah Aisyah mengandung ilat karena ia sendiri tidak mengamalkannya. Mereka mengatakan bahwa menyusui anak yang sudah besar juga menyebabkan keharaman.

Kadar waktu menyusui

Para ulama berselisih pendapat bahwa jika seorang anak sudah tidak membutuhkan makanan sebelum dua tahun, dan setelah disapih ia disusui oleh wanita lain, maka menurut Imam Malik, susuan seperti itu tidak menyebabkan keharaman.

Namun, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i berpendapat sebaliknya. Jika seorang anak menyusu setelah disapih sebelum dua tahun, dan ia tidak memerlukan makanan, menurut Imam Malik, hal itu tidak diharamkan. Beda halnya dengan Imam Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa sesusuan sampai 30 bulan, baik sebelum maupun sesudah disapih adalah susuan yang mengharamkan.

Menurut al-Hasan, jika seorang anak disapih dalam usia dua tahun, tetapi kemudian ia menyusui lagi, hal itu tidak disebut susuan yang mengharamkan. Karena, tidak ada susuan sama sekali setelah penyapihan penuh.

Silang pendapat di antara para ulama ini karena mereka berbeda pendapat dalam memahami sabda Nabi Muhammad SAW berikut, “Fa inna radha’ata minal-majaa’ati”. Yang artinya, “Sesungguhnya susuan itu karena lapar.”

hadits tersebut bisa diartikan bahwa yang dimaksud adalah penyusuan pada si anak memang sangat butuh disusui. Dan juga bisa diartikan bahwa si anak sudah tidak disapih. Jika sudah disapih di tengah tenggang waktu dua tahun, maka hal itu tidak bisa disebut penyusuan karena lapar. [yy/republika]

Imas Damayanti

top